Mengenal 10 Jenis Vaksin Covid-19 yang Digunakan di Indonesia

Mengenal 10 Jenis Vaksin Covid-19 yang Digunakan di Indonesia
info gambar utama

Pemerintah terus berupaya mempercepat pelaksanaan vaksinasi di Tanah Air. Vaksinasi diharapkan dapat menjadi penentu dalam mengatasi pandemi Covid-19.

Dari target sebesar 208 juta, pada Minggu (10/10/2021) kemarin, cakupan vaksinasi Covid-19 untuk dosis pertama di Indonesia telah mencapai angka lebih dari 100 juta orang. Kemudian, untuk dosis kedua, sudah disuntikkan ke lebih dari 57,5 juta orang.

Pemerintah terus berusaha mendatangkan vaksin Covid-19 untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru-baru ini mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) vaksin Zifivax. Menurut BPOM, semua jenis vaksin Covid-19 yang mendapat EUA telah melalui pengkajian yang intensif terhadap keamanan, khasiat, dan juga mutunya.

“Badan POM selalu berkolaborasi bersama para pakar dalam memastikan pemenuhan standar keamanan, khasiat, dan mutu vaksin. Kami melibatkan para pakar di bidang farmakologi, imunologi, klinisi, apoteker, epidemiologi, virologi, dan biomedik yang tergabung dalam tim Komite Nasional Penilai Khusus Vaksin Covid-1919, Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), serta asosiasi klinisi terkait,” kata Kepala BPOM Penny K. Lukito dalam pernyataan resminya pada Kamis (7/10/2021).

10 Vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia | GoodStats
info gambar

Dengan hadirnya vaksin Zifivax, terdapat 10 jenis vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia. Merangkum dari laman covid19.go.id dan BPOM, berikut daftar vaksin yang ada di Indonesia.

Vaksin Covid-19, Apa Bedanya Sinovac dan AstraZeneca

1. Sinovac

Sinovac merupakan vaksin Covid-19 pertama di Indonesia yang mendapat izin penggunaan darurat dari BPOM pada 11 Januari 2021 lalu.

Masyarakat Indonesia dapat menggunakan vaksin jadi Covid-19 ini dengan nama Coronavac. Vaksin ini diproduksi oleh Sinovac Biotech dan didaftarkan di Indonesia oleh PT Bio Farma.

Sinovac menggunakan platform inactivated virus atau mematikan virus. Adapun dosis yang diberikan sebanyak dua kali dengan jumlah setiap dosisnya 0,5 ml dan interval minimal pemberian antar dosis selama 28 hari.

Menurut hasil uji klinis di Bandung, efikasi vaksin Sinovac adalah sebesar 65,3 persen. Kemudian, berdasarkan laporan Turki, efikasi vaksin sebesar 91,25 persen dan di Brasil sebesar 78 persen.

Mulanya, vaksin ini diberikan untuk usia 18 tahun ke atas. Namun, pada Juni 2021, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyetujui penggunaan Coronavac untuk anak usia 12-17 tahun.

Menurut BPOM, efek samping ringan hingga sedang vaksin Sinovac adalah nyeri, iritasi, pembengkakan, nyeri otot, dan demam. Lalu, efek samping dengan kategori berat adalah sakit kepala, gangguan di kulit, dan diare.

2. Covid-19 Bio Farma

Pada 16 Februari 2021, BPOM kembali mengeluarkan EUA untuk vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh PT Bio Farma. Vaksin yang diberi nama Vaksin Covid-19 ini mendapat nomor izin EUA2102907543A1.

Vaksin Covid-19 merupakan vaksin dari virus yang diinaktivasi. Vaksin ini diproduksi dengan bahan baku yang sama dengan Sinovac tetapi di-filling dan dikemas di sarana produksi milik PT Bio Farma.

“Namun karena terdapat perbedaan tempat produksi, perbedaan kemasan dari single dose menjadi multiple dose maka sesuai peraturan wajib diregistrasikan untuk mendapatkan Persetujuan Izin Edar ataupun EUA,” jelas Kepala Badan POM Penny K. Lukito.

Vaksin ini tersedia dalam bentuk sediaan vial 5 ml, berisi 10 dosis vaksin per vial, dikemas dalam dus berisi 10 vial, dan stabil disimpan pada suhu 2-8 derajat celcius.

Setiap vial dilengkapi dengan 2D Barcode yang menunjukkan identitas masing-masing vial dan berfungsi untuk melakukan tracking dan mencegah peredaran vaksin palsu.

3. AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca mendapat izin penggunaan darurat pada 22 Februari 2021 dengan nomor EUA2158100143A1. Vaksin ini menggunakan platform Non-Replicating Viral Vector (ChAdOx 1).

Vaksin ini diberikan secara intramuskular (injeksi ke dalam otot) dengan dua kali penyuntikan. Setiap penyuntikan dosis yang diberikan sebesar 0,5 persen dengan interval minimal pemberian antar dosis yaitu 12 minggu.

Vaksin yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan University of Oxford ini memiliki efikasi sebesar 62,1 persen. Adapun efek samping vaksin Astrazeneca bersifat ringan dan sedang seperti nyeri, kemerahan, gatal, pembengkakan, kelelahan, sakit kepala, meriang, dan mual.

AstraZeneca Dinilai Efektif, Asutralia Siap Kirim Bantuan 2,5 Juta Dosis ke RI

4. Sinopharm

Setelah menggunakan tiga vaksin dalam program vaksinasi Covid-19, BPOM mengizinkan penggunaan darurat vaksin Sinopharm pada 30 April 2021 dengan nomor EUA 2159000143A2.

Di Indonesia, vaksin ini didaftarkan dan didistribusikan oleh PT Kimia Farma Tbk. dengan nama SARS-COV-2 VACCINE (VERO CELL), INACTIVATED. Sama seperti Sinovac, Sinophram juga menggunakan platform inactivated virus.

Vaksin Sinopharm diberikan dalam 2 dosis dengan selang pemberian 21-28 hari dan diperuntukkan bagi orang dewasa di atas usia 18 tahun. Adapun efikasi vaksin ini adalah sebesar 78,02 persen.

Kemudian, efek samping yang kerap ditemui seperti nyeri atau kemerahan di tempat suntikan dan efek samping sistemik seperti sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, diare, dan batuk.

5. Moderna

Vaksin Moderna EUA dari BPOM pada 2 Juli 2021. Vaksin ini merupakan vaksin pertama dari pengembangan berbasis mRNA yang memperoleh EUA dari BPOM.

Vaksin Moderna ditujukkan untuk orang berusia 18 tahun ke atas dan diberikan secara injeksi intramuskular dengan dosis 0,5 mL sebanyak dua kali penyuntikan dalam rentang waktu satu bulan.

Mulanya, vaksin Moderna hanya digunakan untuk tenaga kesehatan dan tenaga penunjang kesehatan sebagai dosis vaksin ketiga. Pemberian dosis ketiga ini sudah mendapat rekomendasi dari Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional dan tercantum dalam surat Kemenkes No. 71/ITAG.

Kini, vaksin Moderna juga dapat digunakan untuk ibu hamil dan masyarakat Indonesia secara umum.

Berdasarkan uji klinis, efikasi vaksin Moderna adalah sebesar 94,1 persen pada kelompok usia 18-65 tahun. Namun, menurun menjadi 86,4 persen untuk usia di atas 65 tahun. Hasil uji klinis juga menyatakan vaksin ini aman untuk kelompok populasi masyarakat dengan komorbid atau penyakit penyerta.

Untuk efek samping, yang paling sering dijumpai adalah nyeri di tempat suntikan, kelelahan, nyeri otot, nyeri sendi, lemas, sakit kepala, menggigil, demam, dan mual.

Indonesia Dapat Sumbangan 4 Juta Dosis Vaksin Moderna

6. Pfizer

Vaksin Pfizer memeroleh EUA pada 15 Juli 2021. Sama seperti Moderna, Pfizer dikembangkan dengan platform mRNA.

Vaksin ini dapat digunakan untuk orang berusia 12 tahun ke atas dan diberikan secara injeksi intramuskular, dosis 0,3 mL dengan 2 kali penyuntikan dalam rentang waktu tiga minggu.

Uji klinis menunjukkan efikasi vaksin Pfizer sebesar 100 persen pada usia remaja 12-15 tahun, tetapi menurun menjadi 95,5 persen pada usia 16 tahun ke atas.

Adapun efek sampingnya cenderung ringan seperti nyeri badan di tempat bekas suntikan, kelelahan, nyeri kepala, nyeri otot, nyeri sendi, dan demam.

7. Sputnik-V

Vaksin Sputnik-V mendapat EUA dari BPOM pada 24 Agustus 2021. Vaksin ini dikembangkan dengan platform Non-Replicating Viral Vector (Ad26-S dan Ad5-S).

Vaksin yang digunakan untuk kelompok usia 18 tahun ke atas ini diberikan secara injeksi intramuskular dengan dosis 0,5 mL untuk 2 kali penyuntikan dalam rentang waktu 3 minggu.

Untuk efikasinya, data uji klinis menunjukkan vaksin Sputnik-V memiliki efikasi sebesar 91,6 persen dengan rentang confidence interval 85,6-95,2 persen. Adapun efek samping sesudah vaksin bersifat ringan sampai sedang seperti flu yang ditandai dengan demam, menggigil, nyeri sendi, nyeri otot, badan lemas, sakit kepala, atau hipertermia.

WHO Mengimbau Masyarakat Tidak Mencampur Vaksin Beda Jenis

8. Janssen (Johnson & Johnson)

BPOM mengeluarkan EUA untuk vaksin Janssen pada 7 September 2021 lalu. Vaksin ini merupakan hasil dari kerja sama dengan Belanda melalui skema bilateral.

Vaksin Janssen dikembang melalui platform Non-Replicating Viral Vector (Ad26) dan dapat digunakan untuk orang berusia 18 tahun ke atas dengan pemberian sekali suntikan sebanyak 0,5 ml secara intramuskular.

Berdasarkan studi klinis, efikasi vaksin Janssen untuk mencegah semua gejala Covid-19 adalah sebesar 67,2 persen. Kemudian, efikasi untuk cegah gejala sedang hingga berat sebesar 66,1 persen

Adapun efek samping dari vaksin Janssen adalah nyeri, kemerahan, dan pembengkakan.

9. Convidecia (Cansino)

Vaksin Convidecia juga mendapatkan izin penggunaan darurat dari BPOM pada 7 September 2021. Vaksin ini menggunakan platform Non-Replicating Viral Vector (Ad5).

Sama seperti vaksin Janssen, vaksin Convidecia juga digunakan untuk kelompok usia 18 tahun ke atas dengan pemberian sekali suntikan atau dosis tunggal sebanyak 0,5 ml secara intramuskular.

Untuk efikasi, vaksin ini memiliki efikasi sebesar 65,3 persen untuk perlindungan pada semua gejala Covid-19 dan 90,1 persen untuk perlindungan terhadap kasus Covid-19 berat.

Adapun reaksi sesudah vaksin adalah ringan hingga sedang seperti nyeri, kemerahan, dan pembengkakan.

10. Zifivax

BPOM menerbitkan izin penggunaan darurat untuk vaksin Covid-19 Zifivax pada 7 Oktober 2021 lalu. Vaksin Zifivax merupakan vaksin dengan platform rekombinan protein subunit.

Berbeda dengan vaksin Covid-19 lainnya, vaksin Zivifax digunakan dengan 3 dosis untuk orang berusia 18 tahun ke atas secara intramuskular dengan interval pemberian 1 bulan dari penyuntikan pertama ke penyuntikan berikutnya. Dosis vaksin yang diberikan pada setiap kali suntikan adalah 0,5 ml.

Data studi klinis menunjukkan efikasi vaksin Zifivax yang baik. Berdasarkan analisis pada beberapa rentang usia, efikasi vaksin pada dewasa usia 18-59 tahun sebesar 81,51 persen, lansia usia 60 tahun ke atas sebesar 87,58 persen, dan untuk populasi Indonesia secara keseluruhan adalah 79,88 persen.

Adapun efek samping usai pemberian vaksin Zifivax, yaitu timbul nyeri pada tempat suntikan, sakit kepala, kelelahan, demam, nyeri otot, batuk, mual, dan diare.

Dorong Program Vaksinasi, Indonesia Akan Terima 45 Juta Dosis Vaksin

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Lydia Fransisca lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Lydia Fransisca.

LF
IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini