Mengenal Lebih dalam Bunga Bangkai, Tanaman yang Berhasil Mekar di Eropa

Mengenal Lebih dalam Bunga Bangkai, Tanaman yang Berhasil Mekar di Eropa
info gambar utama

Taman Botani Kota Leiden, Belanda, sedang berbahagia setelah salah satu tanaman langka akhirnya mekar setelah 25 tahun terakhir. Tanaman bernama ilmiah Amorphophallus decussilvae itu berhasil mekar di kawasan dengan iklim subtropis khas Eropa.

Mengutip Indonesia Inside, Jumat (29/10/2021), bedasarkan laporan surat kabar Belanda NRC, relawan kebun Rudmer Postma menyebut awalnya pembudidayaan tanaman ini dilakukan bertahun-tahun. Lalu bagian tanaman ini tumbuh di bawah tanah sebagai umbi dan sebagian lainnya menyembul melalui tanah.

Baru pada pertengahan September, kuncup tanaman ini mulai tumbuh untuk pertama kalinya, sehingga tidak perlu waktu lama tunas itu akan segera mekar. Lalu dalam waktu sebulan, kuncup tumbuh setinggi sekitar 1,6 kaki (0,5 meter), dan batang penyangganya sekarang memiliki panjang 6,5 kaki (2 meter).

Kemudian pada 19 Oktober, kuncup ini akhirnya terbentang, memperlihatkan struktur tegak yang berdiri dengan gagah di tengahnya. Struktur putih ini disebut spadix, berbentuk seperti lingga putih memanjang ke atas ke arah dadaunan ungu bergaris, yang dikenal sebagai spathe.

Pada bagian spadix ini akan menghasilkan bau khas tanaman penis, aromanya begitu tajam yang mengingatkan saat sedang mencium bau bangkai. Sejak pertama kali ditanam di Eropa, baru tiga kali tanaman ini tumbuh.

Terkahir kali tanaman penis ini tumbuh pada 1997, namun saat itu spesiesnya bukan termasuk Amorphophallus decussilvae. Tanaman penis yang baru-baru ini terbentang mekar selama dua hari, dan mungkin bertahun-tahun sebelum tanaman itu mekar lagi.

"Saya cukup bangga, sungguh istimewa bahwa kami berhasil sama sekali, mengingat tanaman itu hanya akan mekar dalam kondisi tertentu, dan saya bangga tanaman itu tumbuh dengan baik,” ucap Postma.

Menghitung Hari Sang Raksasa Kembali Mekar di Bengkulu

Bahkan dalam Vice dikabarkan bahwa tanaman ini sempat dianggap cukup sulit untuk mekar di kawasan subtropis karena butuh cuaca yang hangat dan lembab supaya bisa tumbuh maksimal. Selain itu di Eropa sangat sedikit ditemukan Amorphophallus decussilvae lain yang bisa mengikuti proses penyerbukan dari serangga.

"Bau tersebut muncul akibat proses regeneratif selama mekar. Normalnya bau ini berfungsi sebagai pemikat bagi lalat dan kumbang untuk membantu penyerbukan,” kata juru bicara Hortus Botanicus Leiden.

Hal yang menarik, tanaman ini ternyata endemik dari Indonesia, tepatnya di Pulau Jawa. Masyarakat Indonesia sering menyebutnya dengan nama bunga bangkai jangkung, habitatnya banyak ditemukan di hutan-hutan kawasan Jawa Barat.

Selain itu banyak yang menyebutnya dengan tanaman suweg. Sementara itu julukan "penis" yang disematkan kepada tanaman ini sebenarnya telah dibantah oleh manager Taman Botani Leiden.

"Lebih tepatnya, kalau merujuk nama ilmiahnya, Amorphophallus berarti penis tanpa bentuk, memang butuh imajinasi lebih untuk menilai wujud bunga itu menyerupai penis,” jelasnya.

Bunga bangkai jawa pada perkarangan rumah

Kemunculan bunga tumbuhan Amorphophallus memang kerap kali menyedot perhatian. Jenis ini terkadang dikaitkan dengan bunga Raflesia Sp karena sama-sama disebut sebagai bunga bangkai.

Kadang banyak masyarakat awam yang sering tertukar dan menyebutnya dengan nama sama. Padahal, bunga Raflesia dan bunga bangkai merupakan dua jenis yang berbeda.

Hal ini karena Raflesia merupakan tanaman parasit, yang mendapatkan nutrisi dari inangnya. Berbeda dengan Amorphophallus yang termasuk tanaman mandiri karena mengolah makanannya sendiri dan menyimpan cadangan makanan dalam bentuk umbi.

Mengutip Ksdae.menlhk, bunga bangkai merupakan tumbuhan khas dataran rendah yang tumbuh di daerah beriklim tropis hingga subtropis. Tidak banyak yang mengira bahwa bunga bangkai memiliki 198 spesies di dunia.

Wow, Bunga Bangkai Raksasa Mekar di Cibodas

Di Indonesia ada beberapa spesies bunga bangkai, seperti Bunga Bangkai Raksasa (Amorphophallus titanium), Bunga Bangkai Raksasa Sumatra (Amorphophallus gigas), Bunga Bangkai Jangkung (Amorphophallus decussilvae), Suweg (Amorphophallus campanulatus), dan Iles-iles (Amorphophallus oncophyllus).

Dalam BBC, peneliti Kebun Raya Bogor Rosniati Apriani Risna, menyebut Amorphophallus campanulatus dapat ditemukan di Pulau Jawa. Sedangkan kerabatnya Amorphophallus titanum merupakan tumbuhan endemik dari Pulau Sumatra.

Tanaman ini beberapa bahkan tumbuh di perkarangan rumah warga. Seperti yang ditemukan di sepetak lahan kosong di Kecamatan Cikole, Sukabumi, Jawa Barat.

"Saya biasa setiap pagi ke lahan kosong ini, kadang bersih-bersih karena pemiliknya warga Jakarta. Tahu ini bunga Rafflesia yang katanya cukup langka dari warga yang melintas," kata Siti Suaedah (50) kepada Radar Sukabumi.

Hal yang sama terjadi di pekarangan rumah warga di Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Lagi-lagi, temuan bunga bangkai ini menarik perhatian masyarakat setempat.

Menurut peneliti lainnya dari Kebun Raya Bogor, Yuzammi mengungkapkan bunga bangkai biasanya disebarkan oleh hewan sehingga tanaman ini bisa berakhir di tengah-tengah pemukiman warga.

Semua spesies Amorphophallus memang baru akan berbunga saat umbinya sudah tumbuh optimal, dan dalam keadaan dorman (istirahat).

Sementara itu bedasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, ada dua spesies Amorphophallus yang dilindungi, yakni Amorphophallus titanium dan Amorphophallus decussilvae.

Meskipun berstatus dilindungi, sekarang dua spesies Amorphophallus ini, terutama Amorphophallus titanium, sudah menyebar ke seluruh dunia.

Bisa menjadi tanaman pangan

Sebenarnya, jenis Amorphophallus bisa menjadi salah satu pangan alternatif sebagai sumber karbohidrat selain padi. Walau begitu dari 198 spesies Amorphophallus, hanya Amorphophallus paeoniifolius yang umbinya bisa dikonsumsi langsung.

Biasanya jenis ini disebut sebagai suweg, masyarakat Indonesia pun sering membudidayakan dan dikonsumsi umbinya. Walau begitu kelestariannya juga terancam karena konsumennya semakin kurang.

Mongabay Indonesia memapar, suweg merupakan tanaman liar yang tumbuh di tempat-tempat lembab dan terlindung dari sinar matahari. Suweg akan tumbuh walau tanpa pemeliharaan rutin, sekalipun lahannya tidak produktif.

Di beberapa kawasan Jawa Tengah, masyarakat telah melakukan budayanya tanaman suweg. Walaupun masih belum dilakukan secara monokultur.

Biasanya budidaya tanaman ini dilakukan secara tumpang sari, di sela-sela tanaman jagung dan singkong, atau di bawah tegakan tanaman keras. Suweg juga digunakan sebagai bahan obat-obatan.

Peneliti Dari Universitas Bengkulu Membudidayakan 2 Spesies Bunga Bangkai

Misalnya saja tanaman ini dalam sejumlah literatur disebut mengandung kandungan serat pangan, protein, dan karbohidrat yang cukup tinggi. Sementara kadar lemak yang terkandung di dalamnya terbilang rendah.

"Nilai Indeks Glikemik (IG) tepung umbi suweg tergolong rendah, yaitu 42 sehingga dapat menekan kadar gula darah, dapat digunakan untuk terapi penderita diabetes mellitus," ujar seorang warga Bogor, Jawa Barat, Sudiyanti, yang menanam suweg di rumahnya, seperti dikutip dari Liputan6.

Selain itu, ada juga spesies Amorphophallus yang menghasilkan glukomanan, yakni iles-iles. Iles-iles sudah dibudidayakan secara terbatas dan diolah menjadi glukomanan, sebagai bahan jonjaku. Rendemen glukomanan iles-iles sekitar 50 persen dari bobot keripik umbi.

Akan tetapi Amorphophallus masih belum dioptimalkan secara baik sebagai tanaman pangan dan obat-obatan. Suweg malah cenderung dijadikan tanaman liar. Tentunya perlu penelitian dan sosialisasi lebih lanjut agar Amorphophallus bisa bermamfaat bagi masyarakat.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini