Menikmati Semangkuk Tengkleng, Semangat Bertahan Hidup Masyarakat Solo

Menikmati Semangkuk Tengkleng, Semangat Bertahan Hidup Masyarakat Solo
info gambar utama

Penulis: Brigitta Raras

Gabung ke Telegram Kawan GNFI, follow Instagram @kawangnfi dan Twitter @kawangnfi untuk dapat update terbaru seputar Kawan GNFI.

Ketika berkunjung ke kota Solo, Jawa Tengah pasti Kawan tak lupa menikmati ragam kuliner khas Surakarta tersebut. Mulai dari selat solo, timlo, sate kere, tengkleng serta beragam kuliner menarik lainnya.

Namun, tahukah Kawan bahwa salah satu kuliner Solo, yakni tengkleng, ternyata menyimpan cerita tersendiri. Tengkleng merupakan masakan sejenis sup atau berkuah dengan bahan utama dari tulang kambing.

Sajian ini diolah dengan kuah santan dan campuran bumbu serta rempah-rempah. Hidangan tengkleng ini biasanya disantap bersama nasi hangat dan kerupuk. Namun, sebelum hidangan ini menjadi populer dan dinikmati oleh berbagai masyarakat. Faktanya, tengkleng berawal dari semangat untuk bertahan hidup.

Berawal dari pertahanan hidup

Tengkleng | Foto: Kompas
info gambar

Ketika zaman penjajahan Jepang dulu, warga Solo hidup dengan kekurangan dan kurang sejahtera. Kemudian, bahan pangan yang mereka miliki juga sedikit, tak seperti masyarakat pada umumnya. Hal ini membuat masyarakat kecil di Solo terpaksa mengolah apapun menjadi sebuah santapan yang mengenyangkan perut.

Pakar hukum asal Solo, Mr. Soewidji (1973), mengungkapkan kehidupan masyarakat Solo saat itu sedang sulit. Jangankan rumah, memenuhi kebutuhan sandang dan pangan saja sulit dicari. Di tengah masa penjajahan dan sulitnya dalam hidup, orang Solo memutar otak dalam mencari cara agar bertahan hidup.

Sosok Ida Ayu Nyoman Rai, Peran Ibu dalam Kehidupan Bung Karno

Salah satunya dengan mengolah semua bahan pangan, termasuk limbah pangan, seperti tulang belulang dan jeroan dari kambing. Pada masa itu, bukanlah hal yang wajar dalam mengolah dan memanfaatkan tulang serta jeroan hewan bagi orang yang status ekonomi sosial tinggi.

Pada kala itu, bagian daging kambing dihidangkan untuk para tuan dan nyonya orang Belanda serta para priyayi. Kemudian, limbah kambing seperti tulang dan jeroan tersebut diolah oleh masyarakat Solo untuk mengisi perut mereka.

Limbah pangan tersebut diolah dengan berbagai bumbu dan rempah yang kompleks. Beragam bumbu tersebut seperti, kelapa, jahe, kunyit, serai, daun jeruk segar, lengkuas, kayu manis, daun salam, cengkeh kering, bawang putih, bawang merah, garam dapur, kemiri, dan pala.

Asal muasal nama ‘tengkleng’

Penjual Tengkleng: Trip Zilla Indonesia
info gambar

Penamaan ‘tengkleng’ juga mencerminkan kehidupan rakyat jelata di masa penjajahan dulu. Ketika itu, masyarakat hanya mampu membeli limbah pangan dari kambing yaitu bagian tulang dan jeroan saja.

Kemudian, mereka memasaknya dengan berbagai bumbu. Dinamakan tengkleng karena saat ditaruh di piring akan mengeluarkan bunyi 'kleng-kleng-kleng'. Piring masyarakat kelas bawah saat itu terbuat dari gebreng (semacam seng). Sehingga, saat tulang itu diletakkan di piring akan menimbulkan suara yang nyaring.

Mengulik Sejarah Jepara Sebagai Pusat Seni Ukir Kelas Dunia

Menikmati tengkleng

Pada umumnya, tengkleng dinikmati dengan cara dibrakoti atau dikrikiti dalam bahasa Solo, artinya digigit bagian tulang sampai tak tersisa daging yang menempel. Sebab tulang yang dimasak masih memiliki daging, otot, lemak hingga tulang muda.

Bagian tersebutlah yang sering kali diincar saat menikmati tengkleng. Tak hanya sensasi mem-brakoti tulang kambing saja. Sensasi makan tengkleng semakin nikmat saat menghisap secara sedikit demi sedikit sumsum yang ada di tulang kambing.

Terkadang, cara makan seperti ini dipandang tidak etis, namun disitulah letak kenikmatan dan khasnya. Tak hanya itu, makan tengkleng semakin nikmat ketika mulai melepaskan serta menggigit perlahan sisa daging yang melekat di tulangnya.

Proses pengolahan tengkleng

Tengkleng | Foto: Trip Zilla Indonesia
info gambar

Cara mengolah tengkleng melewati proses direbus hingga ekstrak dari tulang kambing tersebut keluar. Proses memasaknya mampu memakan waktu tiga hingga empat saja.

Rasanya pun jadi semakin gurih saat disantap, ditambah dengan kuah gulai yang mengandung banyak bumbu dan rempah. Tengkleng semakin lama dimasak kuahnya semakin enak karena diekstraknya semakin lama.

Edi Idul dan Mangrove di Kurri Caddi Maros

Kemudian, untuk menyempurnakan cita rasanya, sajian ini dibumbui dengan bumbu gulai. Bumbu ini pun diharapkan dapat mengurangi rasa yang kurang nikmat dari air rebusan tulang yang cenderung amis.

Kuliner ini dapat Kawan temui di sekitar Pasar Klewer. Dengan harga mulai dari Rp30.000, Kawan sudah dapat menikmati tengkleng kambing dengan rasa yang tak perlu diragukan. Tak lupa, jika menyantap tengkleng bersama dengan kerupuk khas yang terbuat dari beras atau yang disebut dengan kerupuk gendar, ya, Kawan.*

Referensi: Kompas | Merdeka

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini