Pantai Sampur, Tempat Wisata Favorit Orang Batavia yang Tenggelam oleh Zaman

Pantai Sampur, Tempat Wisata Favorit Orang Batavia yang Tenggelam oleh Zaman
info gambar utama

Jakarta terus berkembang menjadi kota metropolitan dengan beragam masyarakat yang memenuhinya. Di tempat ini pula banyak masyarakat yang ingin melepaskan penat setelah menjalani rutinitas.

Salah satu tempat rekreasi yang cukup digemari oleh warga kota pada zaman dahulu adalah pantai. Saat itu pantai yang menjadi kegemaran masyarakat Batavia bernama Sampur.

Pada tahun 1950-1960 an, pantai Sampur menjadi destinasi wisata favorit sementara Ancol masih merupakan daerah liar dan belum dibangun. Diketahui Pantai Ancol (Bina Ria) baru dibangun pada akhir 1960-an.

Pantai Sampur sudah terkenal sejak zaman kolonial, para pelancong dari Eropa menyebutnya Zandvoort, berasal dari nama pantai di Belanda. Masyarakat Betawi kemudian menuturkan kata Zandvoort menjadi Sampur.

Dikisahkan saat itu, tempat ini merupakan objek wisata yang paling terkenal di Batavia. Banyak para pelancong Eropa yang menikmati pergantian hari di teluk Jakarta ini

"Pantai tersebut disukai oleh noni-noni dan sinyo (sebutan untuk muda-mudi Belanda) dan demikian pula masyarakat pribumi banyak yang berkunjung ke sana, terutama pada sore hari," ucap Zaenuddin HM, dalam bukunya 212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe dinukil dari Bisnis, Jumat (29/10/2021).

Kisah Oei Tambah Sia, Playboy dari Batavia yang Berakhir di Tiang Gantung

Sementara itu budayawan Betawi, Ridwan Saidi, menyatakan arti kata Sampur memiliki makna akses. Dirinya menolak bahwa kata Sampur ini berasal dari Belanda sesuai yang dipercaya orang.

Menurut Ridwan, saat itu ada juga daerah tepi laut bernama Polker yang tepatnya berada di daerah Ancol, namun tempat itu tidak bisa digunakan untuk bermain karena airnya sangat tinggi. Sementara Sampur saat itu, digunakan orang-orang untuk menuju tempat wisata pantai lainnya di Jakarta.

"Itu lah mengapa orang zaman dahulu menamakan itu Sampur, 'akses', cuma disitu aksesnya, baru kita masuk Pantai Cilincing, Marunda Kalapa, kalau Marunda Pulo kejauhan," ucapnya dalam tulisan Febrianto Adi Saputro berjudul Jakarta Terancam tak Punya Pantai, dikutip dari Republika.

Namun yang pasti jelas Ridwan, banyak warga berdatangan ke Pantai Sampur untuk berwisata. Apalagi bila datang bulan Lebaran, pantai ini pasti penuh sesak dengan warga yang ingin menikmati angin laut.

"Ketika Lebaran, itu sasarannya pantai karena mereka enggak punya pantai,” katanya.

Saat itu warga pribumi sering mengunjungi pantai ini untuk berwisata. Apalagi Cilincing yang merupakan kampung nelayan, saat itu kondisinya masih bersih. Sehingga suasana hati akan menjadi tenang saat menikmati matahari terbenam di Pantai Sampur

Di Pantai Sampur ini juga berdiri Yacht Club yang kemudian menjadi Bahtera Jaya. Candrian Attahiyyat menjelaskan bahwa daerah ini memang sudah menjadi hunian para orang-orang Eropa.

“Di sana dahulu banyak rumah bergaya Indies, rumah besar-besar,” ujar arkeolog yang pernah tinggal di Sampur, tulis Kompas.

Keindahan Pantai Sampur yang terkenang

Sejarawan Alwi Shahab masih mengingat jelas tentang Pantai Sampur yang menemani masa kecilnya. Apalagi katanya, Pantai Sampur saat itu bisa diakses secara gratis berbeda dengan objek wisata lain.

"Kami ke sana (Sampur) naik sepeda dari Kwitang, tanpa menghadapi kemacetan. Bahkan di tengah jalan sambil adu kecepatan naik sepeda. Mandi ke Sampur tidak membayar sepeser pun. Kita dapat mandi sepuas-puasnya sambil istirahat jemuran menggelar tikar,” kata Alwi.

Menurut Alwi saat itu warga bisa makan di dekat siraman ombak dan pantai yang jernih. Sementara di pinggir-pinggir jalan banyak pedagang, dengan harga yang terjangkau masyarakat berpenghasilan rendah.

Daerah ini memang dahulunya menjadi tempat orang untuk membeli ikan. Banyak para penjual makanan dari laut, seperti manisan kukur laut (rumput laut) yang mungkin sekarang sudah susah dicari.

Selain tempat kuliner, Pantai Sampur dahulu juga memiliki keanekaragaman biota laut, salah satunya adalah ubur-ubur. Saat itu Pantai Sampur relatif masih bersih sehingga masih bisa digunakan untuk berenang.

Masjid Angke, Simbol Kebhinekaan yang Telah Bertahan Lebih dari Dua Abad

"Saya ingat kalau berenang di sini harus hati-hati karena banyak ubur-ubur. Ubur-ubur berwarna putih jelas terlihat berenang di pantai ini, kalau terkena ubur-ubur ini, maka tubuh kita menjadi gatal-gatal," ucap Firman Lubis dalam buku Jakarta 1950-1970.

Firman mendeskripsikan Pantai Sampur saat itu memiliki pasir berwarna hitam keabu-abuan, tidak putih dan masih pasir asli. Panjang pantainya menurutnya sekitar 200-300 meter.

Di pantai ini tidak ada tempat untuk mengganti pakaian, kursi malas ataupun tenda restoran. Walau begitu, kata Firman, tetap saja banyak warga yang berbondong-bondong datang ke Pantai Sampur.

"Kalau hari Minggu, orang-orang ramai ke sini. Mereka yang berenang pun cukup banyak," bebernya.

Selain tempat wisata, banyak juga yang datang ke Pantai Sampur untuk memancing. Firman menjelaskan saat itu masih mudah melihat ikan-ikan yang berenang karena belum tercemar.

"Kami biasanya hanya memperoleh ikan-ikan kecil-kecil saja, seperti ikan julung atau belanak yang memang banyak terdapat di pantai itu. Setibanya di rumah kami biasa menggorengnya untuk lauk pauk," jelasnya.

Pantai Sampur yang tenggelam oleh zaman

Namun keindahan Pantai Sampur tidak lagi bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya. Saat ini pantai dengan beragam cerita itu telah berubah menjadi Kawasan penyimpanan peti kemas.

“Sayang, tempat yang menjadi favorit warga Belanda dan Eropa itu sekarang keindahannya hampir tidak berbekas dan dipenuhi timbunan alat-alat berat,” tulis Alwi.

Ridwan menyebut mulai ditinggalkannya Pantai Sampur karena panasnya suhu politik yang meninggi akibat masalah penggusuran rumah warga. Diketahui pada 1962, Gubernur DKI Jakarta Henk Ngantung menutup empang untuk pembangunan Soekarno Tower.

Saat itu Soekarno Tower dibangun untuk membimbing landing di Kemayoran Airport. Namun cita-cita ini gagal terwujud karena Soekarno lebih dahulu dilengserkan karena peristiwa Gerakan 30 September (G30S).

Kemudian suhu politik terus menjadi tegang setelah Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin melarang budi daya ikan darat, seperti bandeng. Karena itulah, ucap Ridwan sering terjadi bentrokan di sekitar Ancol, mulailah orang meninggalkan pantai.

Kemang, Tempat Jin Buang Anak yang Menjelma Menjadi Kawasan Mentereng

“Orang mulai melupakan pantai, Ancol ramai tetapi terlalu komersial. Lalu Marunda sepi karena juga dibuat gudang peti kemas, sehingga akses menuju kesana jadi susah. Susah sekali,” katanya.

Memang sekarang baik Pantai Sampur dan Pantai Cilincing hanya tinggal kenangan. Di sana hanya penuh dengan kontainer, pabrik. Bahkan di Jakarta hanya memiliki secuil pantai di Marunda yang tak lagi pantas disebut pantai.

Kontainer terus merambah dan mengambil habis kawasan pesisir itu. Tempat yang awalnya dijadikan jagoan destinasi pesisir, Kampung Tugu dan Marunda.

Menurut Ridwan, tidak heran bahwa angka kriminalitas seperti kekerasan hingga pembunuhan marak di Jakarta. Dirinya menyebut alasannya karena generasi saat ini kurang piknik.

"Jadi kita jangan melihat sepihak saja persoalan ini. Saya setuju hukum ditegakkan, tetapi dibalik itu semua ada problema sosial. Di mana sih kita mau bersantai di Jakarta?” tanya Ridwan.

Tentunya sangat ironis melihat letak Jakarta yang berada di pinggir laut, namun hanya sedikit pantai yang bagus dan tidak ada yang gratis. Memang destinasi pesisir tanpa pantai publik rasanya kurang pas.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini