Mengenal Axolotl, Satwa Terancam Punah Asal Meksiko yang Berkembang Baik di Indonesia

Mengenal Axolotl, Satwa Terancam Punah Asal Meksiko yang Berkembang Baik di Indonesia
info gambar utama

Pernah mendengar satwa air bernama Axolotl? Walau sudah tidak asing bagi para pegiat sekaligus mereka yang gemar memelihara beragam jenis satwa air, namun hewan satu ini nyatanya masih asing bagi orang awam.

Karena tampilannya yang unik, masih banyak sebagian besar orang yang dibuat terpukau saat pertama kali melihat hewan yang memiliki bagian wajah menyerupai karakter animasi naga bernama toothless, yang banyak digemari anak-anak ini.

Berdasarkan hal tersebut pula, Axolotl juga kerap disebut sebagai monster air dari Meksiko, merujuk pada keberadaannya yang memang berasal dari sejumlah sungai di negara bagian Amerika Utara tersebut.

Dibayang-bayangi oleh status terancam punah, lantas bagaimana bisa satwa satu ini terbudidaya dengan baik di Indonesia, bahkan dijadikan sebagai hewan yang dipelihara secara legal?

Mengoptimalkan Potensi Ikan TCT di Laut Indonesia

Karakteristik Axolotl

Axolotl yang dibudidayakan oleh kelompok mahasiswa di Universitas Brwijaya
info gambar

Terlebih dulu membahas mengenai karakteristik sebenarnya, Axolotl (dibaca aksolotil) yang memiliki nama latin Abystoma Mexicanicum kerap disalah artikan sebagai satwa air berjenis ikan. Padahal, satwa satu ini merupakan amfibi berjenis salamander yang berkerabat dekat dengan salamander harimau.

Dikenal dengan berbagai julukan, selain salamander Meksiko dan monster air dari Meksiko, Axolotl juga biasa disebut sebagai Smiling Salamander. Bukan tanpa alasan, julukan tersebut didapat karena Axolotl memang nampak seperti memperlihatkan wajah yang selalu tersenyum.

Melansir greeners.co, jika bicara mengenai morfologi secara lebih spesifik, Axolotl disebut mampu tumbuh dengan ukuran tubuh mencapai 20-30 sentimeter dengan bobot mencapai 60-110 gram dengan kondisi spesies betina yang memiliki bentuk tubuh lebih berisi dibandingkan pejantan.

Sebenarnya warna asli dari hewan satu ini adalah hitam kecoklatan, namun dalam beberapa kondisi ada individu yang lahir dengan kondisi albino sehingga seterusnya menghasilkan peranakan berwarna merah muda cerah bahkan kuning.

Lain itu, hewan satu ini juga memiliki sisi unik dari rangkaian insang yang bentuknya menonjol dan berbulu di bagian samping kepala, sehingga terlihat seperti tiga buah tanduk di masing-masing sisi.

Meski tergolong ke dalam hewan yang jinak, namun Axolotl diketagorikan sebagai karnivora dan biasa memakan cacing, siput, atau ikan dan amfibi yang berukuran lebih kecil.

Fakta unik dan mengagumkan lainnya, salamander satu ini rupanya juga memiliki kemampuan regenerasi yang sangat luar biasa. Dalam artian, mereka mampu menumbuhkan kembali anggota tubuh atau alat vital lain yang mengalami kerusakan atau terpotong seperti bagian jantung, otak, paru-paru, dan lain sebagainya secara cepat.

Karena hal tersebut pula, Axolotl hingga saat ini masih sering dijadikan sebagai objek penelitian oleh para ilmuwan.

Ternyata, 3 Ikan Purba ini Masih Hidup di Perairan Indonesia

Kepunahan di habitat aslinya

Axolotl (Salamander Meksiko)
info gambar

Sementara itu jika menilik pada habitat aslinya, seperti yang telah disebutkan bahwa Axolotl merupakan satwa air yang berasal dari sejumlah perairan danau di Meksiko, salah dua yang paling terkenal menjadi habitat dari hewan satu ini yaitu Danau Chalco dan Danau Xochimilco.

Menukil VOA Indonesia, sayangnya dilaporkan bahwa populasi hewan ini di wilayah tersebut mengalami ancaman kepunahan akibat urbanisasi secara besar-besaran yang terjadi dari tahun ke tahun.

Disebutkan bahwa dari laporan yang dipublikasi oleh Mexican Academy of Sciences, dalam sebuah survei yang dilakukan pada tahun 1998 ditemukan rata-rata 6 ribu Axolotl per kilometer persegi di lahan habitat aslinya.

Namun angka tersebut turun menjadi seribu individu per luas lahan yang sama dalam suatu studi yang dilakukan pada tahun 2003, dan kembali turun menjadi 100 individu berdasarkan survei yang dilakukan pada tahun 2008.

Terakhir pada tahun 2014, dilaporkan bahwa hanya ditemukan sekitar 35 individu Axolotl per kilometer persegi pada area habitat yang sama.

Pencemaran bahan kimia yang berasal dari limbah pabrik yang dibangun pada kawasan sekitar danau habitatnya membuat populasi hewan tersebut terancam dan berada di titik kepunahan.

Bukan hanya itu, kedatangan atau invasi ikan dari luar Meksiko seperti Tilapia Afrika dan Karper Asia (Ikan Mas) juga disebut menjadi salah satu faktor kepunahan, karena mereka menjadikan Axolotl khususnya yang masih berada di kisaran usia muda sebagai makanan utama.

Masih menurut sumber yang sama, saat ini karena habitat aslinya sudah tercemar, di Meksiko sendiri keberadaan Axolotl dibudidayakan dalam sebuah proyek shelter atau penampungan bernama Chinampa Shelter.

Berdasarkan laman resmi IUCN, Axolotl saat ini masuk ke dalam kategori hewan dengan status Critically Endangered.

Beruntung, sebelum populasi dari Axolotl sendiri menurun drastis di habitat aslinya, amfibi air tersebut nyatanya sudah sempat tersebar ke berbagai negara lain yang berhasil melakukan pembudidayaan, termasuk salah satunya di Indonesia.

Silvofishery, Alternatif Melestarikan Hutan Bakau dengan Budidaya Ikan

Terbudidaya dengan baik di Indonesia

Berasal dari negara yang memiliki iklim berbeda di Indonesia, tak mengherankan jika Axolotl pada awalnya diketahui sulit untuk dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik di tanah air.

Namun seiring dengan berjalannya waktu dan bersamaan dengan berbagai penyesuaian lingkungan, dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang Axolotl nyatanya sudah berhasil dibudidayakan oleh sejumlah pegiat satwa air sehingga menghasilkan individu atau populasi yang terbilang cukup banyak.

Karena itu, tak heran jika saat ini Axolotl banyak ditemui sebagai hewan peliharaan yang diperjual belikan secara legal dengan harga yang lumayan tinggi. Yang perlu dijadikan catatan, keberadaan hewan satu ini jelas membutuhkan pemeliharaan khusus agar dapat bertahan hidup dengan baik.

Adapun salah satu pihak yang berhasil melakukan budidaya Axolotl dengan baik bahkan terbilang menghasilkan peranakan yang berkualitas ternyata dilakukan oleh sekelompok mahasiswa asal Universitas Brawijaya, yaitu Aquaxo.

Aquaxo merupakan platform budidaya Axolotl yang menggunakan metode khusus berupa water close-loop chiller system, yang membuat hewan tersebut dapat beradaptasi secara baik dengan iklim di Indonesia.

Mengutip laman media Universitas Brawijaya, secara lebih detail dijelaskan bahwa dalam proses perawatannya, Axolotl akan diletakkan dalam akuarium kaca menggunakan water chiller yang berfungsi untuk memanipulasi suhu yang dibutuhkan oleh hewan tersebut, yaitu di kisaran 18-20 derajat untuk memijah, dan 16-28 derajat untuk rentang hidup.

Kemudian saat sampai di masa pembesaran, suhu tersebut akan dinaikkan secara bertahap agar Axolotl dapat beradaptasi secara perlahan dengan suhu di Indonesia.

Hingga saat ini, diketahui bahwa Axolotl yang dihasilkan oleh Aquaxo bahkan memiliki kualitas yang sangat baik dan kerap mendapat permintaan tinggi untuk dipelihara baik dari pasar domestik maupun luar negeri.

Gelodok, Ikan Amfibi Khas Penghuni Habitat Berlumpur

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini