Peusijuk, Tradisi Pembawa Angin Perdamaian dan Rasa Syukur di Aceh

Peusijuk, Tradisi Pembawa Angin Perdamaian dan Rasa Syukur di Aceh
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Keberagaman adat dan budaya di Indonesia menjadi salah satu kekayaan bangsa yang perlu dilestarikan. Kendati zaman telah berubah, berbagai macam tradisi tetap dilaksanakan oleh masyarakat. Salah satunya adalah peusijuk atau peusijuek yang dijaga dengan baik oleh masyarakat Aceh.

Serupa dengan ritual tepung mawar, peusijuk sering diselenggarakan untuk memperingati kegiatan-kegiatan tertentu. Misalnya dalam prosesi pernikahan, pembukaan usaha, hingga penyambutan tamu.

Selain itu, peusijuek juga dikenal dapat mendamaikan pertikaian kecil yang terjadi di Aceh. Umumnya, kegiatan peusijuk akan dipimpin oleh seorang tokoh agama atau tetua adat di suatu wilayah tertentu.

Melalui media di Banda Aceh, Kepala Bidang Benda Pusaka atau Khazanah Adat Majelis Adat (MAA) Kota Banda Aceh mengatakan bahwa adat peusijuk merupakan proses mendinginkan atau musyawarah. Proses itu terjadi di suasana-suasana mencekam yang diakibatkan oleh pertikaian kecil di masyarakat.

Tujuannya untuk saling memaafkan dan menyambung kembali tali silaturahmi. Meskipun begitu, tidak semua kegiatan peusijuk dilaksanakan sebagai respon atas adanya pertikaian.

Beberapa peusijuk diselenggarakan sebagai kegiatan doa bersama meminta kelancaran kegiatan, syukuran atas suatu pencapaian, hingga sebagai doa baik untuk memulai kehidupan baru seperti pernikahan. Yang pasti, bagi masyarakat Aceh, peusijuk adalah salah satu adat leluhur pembawa angin sejuk perdamaian sekaligus unjuk rasa syukur bagi tiap lapisan masyarakat.

Komitmen Dwi Sulistia, Dedikasikan Hidup untuk Bangun Pemberdayaan Masyarakat

Awal mula tradisi adat peusijuk

Peusijuk telah lahir sejak zaman dahulu kala. Hingga kini, belum ditentukan kapan tepatnya budaya ini lahir akibat kurangnya dokumentasi sejarah, dan proses pewarisan yang dilakukan turun-temurun. Dikabarkan, budaya ini hadir bersama disebarkannya agama Islam di Aceh.

Dalam bahasa Indonesia, peusijuk dapat diartikan sebagai “menepung tawari”, yaitu ungkapan yang berarti membuat sesuatu menjadi sejuk dan dingin. Selain itu, sebutan tersebut juga dapat diartikan sebagai harapan untuk memperoleh kesejukan, berupa keselamatan dan keadaan baik dalam hidup.

Peusijuk dapat dilakukan terhadap manusia, maupun benda-benda. Melalui budaya peusijuk, seseorang berharap dapat dipermudah dalam hidupnya, baik dalam ranah personal maupun dalam masyarakat.

Misalnya, dengan dipeusijuk, seseorang yang akan bepergian jauh diharapkan dapat mencapai tujuan dengan selamat. Pada prosesi pernikahan, peusijuk dapat diartikan sebagai permohonan agar perkawinan tersebut bahagia dan penuh keberkahan, serta keselamatan.

Destinasi Wisata Alam Kabupaten Mamuju di Sulawesi Barat

Prosesi dan tujuan peusijuek

Peusejuk pada Acara Pernikahan | rri.co.id
info gambar

Dalam masyarakat Aceh, peusijuk menjadi media yang biasa digunakan untuk menyatakan syukur dan rasa gembira. Salah satunya karena seseorang telah selamat atau telah selesai melaksanakan ibadah haji ke tanah suci.

Dalam pelaksanaannya, peusijuk dilakukan dengan menyebut asma-asma Allah. Diawali dengan membacakan basmalah, kemudian shalawat, dan baru dibacakan doa-doa. Doa yang dibaca pun tergantung dengan objek yang akan dipeusijuk.

Semua acara peusijuk diakhiri dengan pembacaan doa pula. Dengan adanya doa dan peusijuk itu, maka seseorang akan merasakan ketenangan hatinya.

Dilansir dari Kumparan, salah satu cara melakukan peusijuk adalah memulainya dengan sipreuk breuh padee ke seluruh badan melampaui kepala orang yang dipeusijuk. Proses ini dilakukan sebanyak tiga kali setelah mengucapkan basmalah.

Dilanjutkan dengan memercikkan air tepung tawar pada kedua telapak tangan, lalu ke badan, melewati kepala orang yang dipeusijuk. Langkah ini dilakukan cukup satu kali dan dilaksanakan secukupnya, tidak perlu sampai basah.

Pengguna Facebook Indonesia dalam Bingkai Statistik

Berikutnya, bu leukat kuneng (nasi ketan kuning) diusapkan pada telinga sebelah kanan. Terakhir, dilakukan teumeutuek (bersalaman sambil menyelipkan amplop berisi uang) kepada orang yang dipeusijuk.

Biasanya, orang yang dipeusijuk akan duduk dalam posisi bersimpuh di atas tilam meusugou (tilam kecil untuk duduk yang diberi sarung yang disulam) dengan bantal meutampok (pada ujung-ujung bantal yang berbentuk guling dipasang kain, 4 segi yang disulam dengan benang emas), dengan menengadahkan tangan seperti posisi berdoa yang diletakkan di atas paha.

Prosesi peusijuk tiap wilayah kadang beragam, sesuai dengan kebiasaan lokal masing-masing daerah. Namun, tujuan adat ini tetap sama, yaitu untuk berdoa untuk keberkahan dan menjalin kedamaian antar sesama.

Tempat untuk menjalankan peusijuk dapat dilakukan di mana saja, selama bersih dan suci dari kotoran. Misalnya, di surau, masjid, rumah, balai desa, dan tempat lainnya yang dianggap sesuai dan memenuhi persyaratan.

Bagi masyarakat Aceh, arti sesungguhnya dari peusijuk adalah untuk memperoleh berkah dan ketenagan batin. Tujuan ini erat kaitannya dengan ajaran Islam, yaitu untuk menunjukkan rasa syukur, memohon petunjuk Allah SWT, mengharapkan kebahagiaan dan ketentraman hidup, dan memohon maaf kepada sesama manusia sembari menyelesaikan pertikaian yang ada.*

Referensi: Kumparan | Antara News | Okezone

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini