Memahami Peran G20, dan Fakta Terpilihnya Indonesia Sebagai Presidensi di Tahun 2022

Memahami Peran G20, dan Fakta Terpilihnya Indonesia Sebagai Presidensi di Tahun 2022
info gambar utama

Menjadi salah satu hal utama yang menopang kehidupan bernegara tidak hanya bagi Indonesia melainkan juga bagi berbagai negara lain, tak heran jika sektor ekonomi menjadi persoalan yang selalu mendapat perhatian penting yang pada akhirnya menciptakan berbagai forum atau organisasi khusus.

Dalam keberadaannya, sejumlah organisasi atau forum yang dimaksud berdiri dan dijalankan oleh berbagai anggota negara berbeda dengan masing-masing ketentuan, yang biasanya dibentuk secara regional atau global.

Beberapa contoh organisasi atau forum ekonomi internasional secara regional sebut saja AFTA (Asia Tenggara), MEE (Eropa), NAFTA (Amerika Utara), dan masih banyak lagi.

Di saat yang bersamaan, ada pula WTO dan G20 yang menjadi forum ekonomi internasional secara global, yang dibentuk guna mencakup pembahasan mengenai permasalahan ekonomi secara lebih luas dan menyeluruh.

Bicara mengenai organisasi ekonomi dalam skala global, tentu menjadi suatu kehormatan sekaligus keuntungan tersendiri bagi suatu negara ketika mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam organisasi terkait, salah satunya Indonesia yang menjadi anggota dari forum ekononomi G20.

Menjadi suatu keistimewaan, terutama jika menilik fakta bahwa Indonesia merupakan satu-satunya negara dari Asia Tenggara yang menjadi anggota G20. Sepenting apa sebenarnya keikutsertaan dan peran Indonesia dalam menjadi bagian dari G20?

Berdayakan UMKM, Ratu Belanda Puji Gojek di Forum KTT G20 Roma

Sejarah terbentuknya G20

KTT G20 2021 | g20.org
info gambar

Sebagai informasi pembuka, G20 pasalnya adalah bentuk pengembangan dari organisasi yang sudah ada sebelumnya yaitu G7 yang dibentuk pada tahun 1975. Sesuai namanya, forum ini diisi oleh sejumlah negara maju yaitu Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, Amerika Serikat, dan ditambah dengan keikutsertaan Uni Eropa.

Namun, krisis moneter yang terjadi secara global pada tahun 1997/1998 mendorong perwakilan dari negara di atas membentuk forum dengan anggota yang lebih luas, dengan tujuan untuk memecahkan permasalahan ekonomi tidak hanya di cakupan negara-negara maju, melainkan juga dari negara berkembang yang dapat memperbesar gambaran kondisi keuangan dan perekonomian dunia secara global.

Akhirnya pada tahun 1999 terbentuklah G20 atau yang dikenal juga dengan sebutan The Group of Twenty, yang menyertakan 20 negara anggota yaitu Argentina, Australia, Brazil, Kanada, China, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Pada awalnya acara tahunan KTT G20 hanya diikuti oleh perwakilan oleh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dari masing-masing negara, namum semenjak krisis ekonomi global yang kembali terjadi pada tahun 2008, diputuskan bahwa tingkat kepala negara atau kepala pemerintahan diikutsertakan dalam pertemuan yang berlangsung tiap satu tahun sekali tersebut.

Sama halnya seperti organisasi moneter atau ekonomi lain, dalam keberlangsungannya G20 telah menjadi forum konsultasi dan kerja sama hal-hal yang berkaitan dengan sistem moneter dalam skala global.

Dalam pelaksanaan kinerjanya terdapat pertemuan yang teratur untuk mengkaji, meninjau, dan mendorong diskusi di antara berbagai negara anggota mengenai berbagai kebijakan yang mengarah pada stabilitas keuangan menyeluruh, dan mencari upaya serta pemecahan masalah yang tidak dapat diatasi oleh satu negara tertentu saja.

Melansir laman resmi G20.org, diketahui bahwa dengan berkumpulanya para anggota G20, maka forum tersebut secara kolektif telah mewakili sekitar 60 persen populasi penduduk dunia, 80 persen PDB dunia, dan 75 persen perdagangan global.

Mengenal 4 Perempuan Hebat ‘’Pengatur Keuangan’’ Negara G20. Salah Satunya Indonesia

Sistem kepengurusan G20

KTT G20 2021
info gambar

Masih menurut sumber yang sama, berbeda dengan berbagai orgnisasi lain yang biasanya menetapkan kepengurusan dalam bentuk sekretariat, G20 tidak memiliki kepengurusan atau sekretariat permanen.

Dijelaskan bahwa penyelenggaraan sekaligus kepemimpinannya tiap tahun terselenggara dengan menjalankan sistem Troika yang artinya tiga serangkai.

Lebih jelas, troika adalah bentuk kepemimpinan suatu organisasi atau sidang yang dijabat oleh tiga pihak dengan peran yang sama, dalam artian tidak ada tingkatan posisi atau wakil. Pemilihan pihak yang ditunjuk melibatkan ketua penyelenggara (Presidensi) periode sebelumnya, periode yang sedang berjalan, dan periode yang akan datang.

Adapun di tahun ini, KTT G20 2021 baru saja berakhir pada tanggal 31 Oktober kemarin di Roma, Italia sebagai negara Presidensi sekaligus tuan rumah, serta menyertakan Arab Saudi sebagai tuan rumah sebelumnya dan Indonesia sebagai tuan rumah di tahun depan dalam kepemimpinan yang sama.

Dalam kesempatan tersebut pula, Indonesia secara resmi dinobatkan menjadi Presidensi sekaligus tuan rumah untuk KTT G20 2022, dan otomatis akan kembali terlibat dalam kepemimpinan KTT G20 2023 yang dijadwalkan berlangsung di India.

Sri Mulyani: Indonesia Diantara Negara-Negara dengan Ekonomi Terbaik G20

Fakta terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah KTT G20 2022

Jokowi saat meninjau persiapan Bali sebagai tuan rumah KTT G20 2022
info gambar

Pada Minggu, (31/10), kemarin, Indonesia yang diwakili oleh Presiden Joko Widodo secara resmi menerima estafet Presidensi bersamaan dengan acara penutupan KTT G20 Roma. Tuan rumah dalam kesempatan tersebut yaitu Perdana Menteri Italia, Mario Draghi, secara simbolis menyerahkan palu kepada Presiden Jokowi yang kemudian mengetukkan palu tersebut sebagai tanda Indonesia resmi menjadi tuan rumah KTT G20 selanjutnya.

Mengutip Liputan6.com ada dua fakta menarik terkait terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah KTT G20 di tahun depan. Pertama, kesempatan menjadi tuan rumah ini nyatanya mengalami pemajuan satu tahun dari rencana awal.

Diketahui bahwa Indonesia mulanya akan menjadi tuan rumah KTT G20 pada tahun 2023, sedangkan untuk tahun 2022 akan dipegang oleh India. Namun, mengingat di tahun 2023 Indonesia akan turut menjadi tuan rumah KTT ASEAN, akhirnya Indonesia dan India bertukar tempat dalam penyelenggaraan KTT G20.

Fakta kedua yaitu mengenai penggantian lokasi KTT berlangsung. Awalnya dikonfirmasi sejumlah pihak bahwa KTT G20 2022 akan berlangsung di Labuan Bajo, namun lokasi diselenggarakannya forum internasional yang dijadwalkan berlangsung pada bulan Oktober 2022 tersebut akhirnya berubah haluan dan akan berlangsung di Pulau Dewata.

Guna menyambut acara besar tersebut, berbagai persiapan telah dilakukan terutama dalam hal keamanan dan protokol kesehatan terkait situasi pandemi, yang sudah ditangani langsung oleh Kementerian Kesehatan.

Bahkan pada Jumat, (8/10), Presiden Jokowi juga diketahui sudah melakukan pengecekan situasi guna memastikan kesiapan Bali menjadi tuan rumah dalam menyambut kedatangan sejumlah pemimpin negara.

“Saya sudah mendapatkan laporan bahwa 98 persen masyarakat sudah menerima dosis vaksin pertama dan 79 persen sudah menerima dosis yang kedua. Ini adalah modal kita dalam mempersiapkan G20 ke depan," pungkas Jokowi dalam rilis resmi yang dipublikasi.

Ini Alasan Indonesia Tidak Jadi Tuan Rumah KTT G20 2023

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini