Moonrat, Spesies Tikus Unik yang Punya Hubungan Keluarga dengan Landak Mini

Moonrat, Spesies Tikus Unik yang Punya Hubungan Keluarga dengan Landak Mini
info gambar utama

Jika diklasifikasikan secara umum, tikus dan landak mini memang merupakan dua hewan yang jauh berbeda. Apabila landak mini banyak digemari dan kerap dijadikan sebagai hewan peliharaan karena keberadaannya yang lucu, lain halnya dengan tikus yang selama ini lebih umum dianggap sebagai hewan pembawa penyakit, kotor, dan pandangan negatif lainnya.

Namun, ternyata ada satu jenis spesies tikus yang jauh dari anggapan tersebut, karena memiliki ciri tubuh yang unik, yaitu tikus bulan atau dikenal juga dengan sebutan moonrat.

Meski populasinya tak sebanyak tikus yang selama ini dikenal secara umum, nyatanya tikus bulan kerap beberapa kali dijumpai oleh segelintir orang di wilayah pemukiman, seperti halnya penemuan yang terjadi baru-baru ini di Sumatra Barat.

Jenis Tikus Raksasa Ini Masih Ada dan Hidup di Rimba Flores

Penemuan tikus bulan di pemukiman warga

Tikus bulan yang ditemukan di Sumatra Barat
info gambar

Melansir Antara, penemuan hewan unik tersebut belakangan terjadi di wilayah Simpang Ampek, Kecamatan Lubukbasung, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Seorang warga bernama Rozi Rahmat, disebut menemukan tikus bulan pada hari Minggu, (31/10/2021), di depan warung sekitar pukul 23.00.

Merasa tikus tersebut berbeda dengan tikus biasa dan menyadari bahwa keberadaannya mungkin dilindungi, Rozi lantas menangkap sekaligus mengamankannya dalam sebuah kandang yang kemudian menjadi tontonan warga sekitar.

Berinisiatif menghubungi petugas atau resor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) di wilayah Agam, akhirnya dipastikan bahwa tikus tersebut memang merupakan spesies tikus bulan yang memiliki nama ilmiah Echinosorex gymnura.

Setelah diidentifikasi oleh petugas yang datang untuk melakukan pengamanan, diketahui bahwa tikus bulan yang ditemukan memiliki panjang tubuh hingga kepala di kisaran 32-40 sentimeter, ditambah panjang ekor di kisaran 20-30 sentimeter dengan bobot mencapai 2 kilogram.

Menindak lanjuti penemuan yang terjadi, dijelaskan bahwa tikus bulan berkelamin jantan tersebut akan terlebih dulu diobservasi untuk selanjutnya kembali dilepasliarkan ke alam bebas.

“Tikus bulan itu bakal kita lepasliarkan ke alam dalam waktu dekat,” terang Ade Putra, Kepala Resor KSDA Agam.

Wow! Tikus Akar Sulawesi Masuk dalam 10 Penemuan Terpenting 2017

Karakteristik tikus bulan

Tikus bulan
info gambar

Seperti yang telah disebutkan, tikus bulan nyatanya memang masih memiliki hubungan kerabat dengan landak mini karena berasal dari satu garis keluarga atau familia yang sama, yaitu Erinaceidae.

Melansir laman Ecology Asia, diketahui bahwa tikus bulan pertama kali diidentifikasi oleh Stamford Rafless pada tahun 1822, sebagai hewan yang banyak mendiami kawasan hutan hujan primer dan sekunder di dataran rendah, hutan rawa, dan terkadang kerap ditemui juga di kawasan hutan bakau.

Mengenai wilayah penyebarannya, tikus bulan kerap dijumpai di sejumlah daratan sekaligus kepulauan Asia Tenggara, atau secara lebih spesifik meliputi Semenanjung Malaya seperti Malaysia, Thailand, Myanmar, kemudian daratan Sumatra dan Kalimantan.

Sementara itu jika bicara mengenai morfologi tubuh, yang membedakan dari tikus biasa yaitu tikus bulan mudah dikenali dari ukuran tubuhnya yang memang lebih besar, kemudian bagian kepala sekaligus moncong yang runcing serta kaki lebih pendek.

Selain itu, warna bulu juga menjadi pembeda utama sebagaimana hewan satu ini umumnya memiliki bulu berwana putih di bagian depan tubuh hingga kepala, sedangkan untuk bagian belakang tubuh hingga ekor biasanya didominasi oleh bulu berwarna hitam.

Dalam beberapa kondisi atau wilayah, seperti salah satunya di Kalimantan bahkan kerap dijumpai populasi tikus bulan dengan keseluruhan bulu berwarna putih.

Masih menurut sumber yang sama, hewan ini diketahui juga memiliki ciri khas berupa kemampuan untuk mengeluarkan bau menusuk seperti amonia yang sangat kuat, dan diyakini sebagai salah satu upaya yang dilakukan untuk melindungi diri mereka dari pemangsa.

Sementara itu mengutip Animal Diversity Web, tikus bulan juga memiliki masa berkembang biak yang terjadi sepanjang tahun, dan biasanya melahirkan satu hingga dua anak dalam satu tahun dengan masa kehamilan di kisaran selama 35 hingga 40 hari.

Soal makanan, hewan satu ini diketahui bertahan hidup dengan memangsa cacing tanah, serangga, laba-laba, kalajengking, kelabang, kaki seribu, kepiting. Selain itu, mereka juga kerap memangsa katak kecil, ikan, dan buah-buahan.

Jika bicara mengenai keberadaannya, tidak ada data pasti yang menunjukkan besaran populasi tikus bulan secara global sampai saat ini. Di samping itu, meski dianggap langka sekaligus unik namun tikus bulan masih ada di kategori Least Concern atau tidak terancam eksistensinya menurut pantauan status IUCN.

Penemuan Tikus Paling Ramping di Dunia dari Sulawesi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini