Perkembangan Musik Tradisi, Dewa Budjana: Musisi Etnik Indonesia Tidak Pernah Habis

Perkembangan Musik Tradisi, Dewa Budjana: Musisi Etnik Indonesia Tidak Pernah Habis
info gambar utama

''Kalau menurut saya musik etnik di Indonesia tidak pernah berhenti ada terus ya, kita itu sangat kaya.''

---

Indonesia dengan perbedaan ragam tradisi dari Sabang hingga Merauke telah melahirkan bermacam-macam budaya. Terutama musik etnik yang menjadi kekayaan dari setiap masyarakatnya.

Musik etnik Indonesia sendiri telah banyak mewakilkan namanya ke dunia internasional. Beragam catatan membuktikan musik etnik Indonesia telah diakui bahkan sejak zaman kolonial Belanda.

Selain itu beragam musisi etnik asal Indonesia semisal Gesang atau Harry Roesli pernah menghiasi skena musik etnik. Bahkan hasil karyanya bisa melintasi genre dan diakui musikalitasnya pada zamannya.

Hal ini juga dirasakan oleh musisi dan gitaris ternama Dewa Budjana yang telah puluhan tahun bergelut di dunia musik. Baginya musisi etnik Indonesia tidak pernah kehilangan Sumber Daya Manusia (SDM).

"Tiap daerah banyak aktivis muda yang bergerak di musik tradisi dan tertarik dengan musik barat juga. Walaupun tetap juga ada musisi karawitan dengan pakemnya tradisi. Misal gamelan di Jawa, terus wayang, tidak pernah hilang," ucapnya saat dihubungi oleh GNFI, Selasa (2/11/2021).

Kondisi inilah yang membuatnya optimis dengan perkembangan musik etnik di Indonesia. Juga melihat respons dari masyarakat terutama anak muda yang mulai mengapresiasi musik daerahnya.

Kepada penulis GNFI, Rizky Kusumo, Bli Budjana--sapaan akrabnya--pun menceritakan proses membuat album solonya yang juga menggabungkan antara musik etnik dengan modern. Hal yang menarik karena dia juga berkolaborasi dengan beragam musisi terkenal dari luar negeri.

Selain itu juga terkait alasannya tertarik mengeksplorasi musik etnik. Juga kecintaannya kepada budaya leluhurnya, yaitu Bali.

Berikut kutipan wawancaranya:

Mengapa Anda tertarik dengan musik etnik?

Saya sebenarnya memasukan musik etnik sebagai ornamen saja dalam karya-karya saya. Apalagi saya sebetulnya tidak menguasai gamelan atau instrumen tradisional lain.

Tidak menguasai, cuma akar saya adalah Indonesia dan juga Bali. Karena itu menyukai instrumen daerah jadi memasukannya dalam karya.

Memang dalam berkarya tidak ada unsur kesengajaan. Misal saya tidak masukan instrumen tradisi tetapi ada yang bilang musik saya ada unsur etniknya.

Tidak ada kesengajaan walau pakai instrumen barat tetapi musiknya dianggap seperti etnik, mungkin ya karena darah Indonesia.

Mengembangkan Musik Etnik Indonesia Sebagai Kekayaan Budaya

Awal mula bersentuhan dengan musik etnik?

Kalau yang pertama banget pas SMA, senang apalagi masih remaja, band saya itu pakai gamelan walau saya bukan pemain gamelan.

Tetapi dalam pesta kesenian di SMA 2 Surabaya, tahun 1980 sampai 1983 tiap tahun selalu tampil dengan gamelan.

Memang referensi saya itu Eberhard Schoner dengan Bali Agung, Guruh Gipsy, Harry Roesli dengan Titik Api itu yang memberi influence kepada saya. Belum lagi ada musisi barat yang memakai gamelan.

Tetapi memang saya tidak menguasai misal karawitan. Saya bikin musik itu cari komposisi, terus saya sesuaikan dengan gamelan Jawa. Lalu ke Jakarta bikin project dengan komposisi sendiri tetap ada unsur etniknya.

Apa tantangan saat mengeksplorasi musik etnik?

Kalau tantangannya itu tetap tuning ya. Bagi saya tuning itu penting, tetapi kalau pakai gamelan, tuningnya pasti tidak sama dengan instrumen barat.

Ketika gamelan kita ambil suaranya dengan tuning yang standar internasional bunyi eksotiknya jadi hilang. Jadi itu dilema yang berkepanjangan.

Jadi kalau ada orang pakai band, lalu pakai gamelan atau musik etnik lain. Tuning pasti tidak sama apalagi dia pakai kuningan.

Bagi orang tertentu yang kupingnya sensitif menganggap itu fals. Tetapi dalam beberapa hal, musik itu tidak ada batasan. Musik itu adalah bunyi jadi fals itu tidak ada aturannya lagi.

Justru nada mi ke fa di tengah-tengah dalam gamelan jadi eksotik bunyinya. Padahal fals, kalau kita mainkan dalam format gitar.

Karena itu dalam konsep manggung, saya hanya melibatkan pemain suling, jarang saya memakai gamelan full. Karena saya masih terkendala buat itu.

Tidak banyak juga pemain gamelan yang tempo akurasinya tepat dengan drummer. Jadi mencari pemain gamelan dan drummer yang presisinya pas sangat sulit

Kalau begitu mengapa tertarik mengeksplorasi musik etnik?

Buat saya nadanya sangat eksotik ya. Walaupun cuma lima nada pentatonik, tetapi saya senang memainkan nada itu dengan perpaduan harmoni barat.

Misal hanya bertemu chord c-am-f-g. Saya eksplorasi dengan berbagai chord. Saya senang dengan harmoni chord barat. Dengan piano harusnya c saya ganti apa. Saya senang bermain disitu.

Pernah mengeluarkan album Mahandini, boleh diceritakan prosesnya?

Album saya sejak 2002 berjudul Samsara. Saya selalu rekaman di Amerika entah di Pantai Barat atau Timur.

Mahandini itu direkam tahun 2018. Kalau saya rekaman di luar itu tidak melibatkan pemain gamelan. Saya sengaja mencari drummer atau bass yang memengaruhi musik saya sejak muda, istilah saya pernah liat atau sedang top. Ini penting supaya bisa membuka komunitas saya masuk ke sana.

Mengapa saja ajak Jordan Rudess (kibor/piano) dari Dream Theater, karena saya pikir Dream Theater ini sangat besar di dunia. Selain itu saya pikir pemain piano ini penting. Drummer Marco Minnemann dari grup metal. Pemain bass (Mohini Dey) dari India akurasinya paling jago.

Dalam komposisi misal dalam lagu Mahandini. Saya sengaja ambil notasi-notasi dari Bali. Misal saya turunkan setengah, tetapi dalam gamelan kan tidak mungkin. Jadi saya mainkan dalam band.

Bagaimana pendapat mereka dengan musik etnik Indonesia?

Beberapa kali kolaborasi misal dalam lagu Joged Khayangan, saya libatkan Bob Mintzer, seorang pemain saksofon nomor satu di dunia. Dia merasa komposisi yang saya bikin jarang dia dengar.

Karena dia kan lebih sering mainin jazz atau musik barat. Saat dia baca partitur, tangannya pasti sudah langsung ke sana karena sehari-hari mainnya itu.

Denger notasi yang saya buat, dia merasa agak beda. Bukan hanya pentatoniknya. Tetapi perpaduan ini buat dia asing, namun setelah main enak-enak saja.

Mahandini buat para musisi yang mendengar awalnya bilang notasi agak unik. Tetapi karena mereka profesional jalan-jalan saja.

Tantangan musik etnik di Indonesia?

Kalau menurut saya musik etnik di Indonesia tidak pernah berhenti ada terus ya. Kita itu sangat kaya, misal di Pulau Jawa, Jawa barat (Jabar) saja ada beberapa kesenian, lalu Jawa tengah (Jateng), terus Jawa timur (Jatim) misal sampai Banyuwangi beda lagi.

Bahkan tiap daerah banyak aktivis muda yang bergerak di musik tradisi dan tertarik dengan musik barat juga.

Walaupun tetap juga ada musisi karawitan, pakemnya tradisi ada juga. Misal gamelan di Jawa, terus wayang, tidak pernah hilang.

Beruntungnya karena gamelan bagi masyarakat Jawa dan Bali sudah semacam spiritual, mereka bermain setiap hari.

Sederet Musisi Indonesia yang Memperkenalkan Musik Etnik ke Mancanegara

Bagaimana apresiasi anak muda, misal saat Anda mengeluarkan album dengan musik etnik?

Keluarin album Mahandini, banyak musisi yang melihat album saya karena suka Dream Theater atau metal. Atau karena ada John Frusciante eks gitaris Red Hot Chilli Peppers (RHCP).

Tetapi saat mereka dengar kok ada Soimah disitu, menyanyikan lagu dengan notasi Jawa Bali campuran. Membuka mata dan telinga.

Saya anggap (project) ini bisa menyatukan Soimah yang belum tentu bisa bikin album dengan Jordan Rudess. Atau Jordan Rudess dengar suara Soimah yang bisa tiba-tiba melengking, khas suara sinden.

Melihat kondisi musisi etnik di Indonesia, apa sudah lebih baik?

Saya rasa setiap musik punya tempat sendiri-sendiri. Misal bicara musisi etnik, malah banyak yang tidak tahu pemusik etnik ini kerjanya keliling dunia.

Hal-hal ini kan memang mereka tidak dipublikasikan saja. Karena itu penting negeri ini mempromosikan musisi yang mewakili negeri ini ke mana-mana.

Kalau dikatakan tidak ada peminatnya, sekolah musik tradisi yang ada di Jawa dan Bali buktinya tidak pernah sepi. Saya lihat juga pada acara World Musik, banyak sekali musisi yang tidak terjamah dan dilihat secara populer.

Padahal bisa saja di dunia musik etnik sangat besar namanya. Saya lihat sangat berkembang dan tinggal peran pemerintah saja memperkenalkan mereka secara luas.

Anda pernah ikut dalam festival musik etnik, bagaimana tanggapan masyarakat sendiri?

Saya pernah ikut, bayangin musik seperti itu kan dibilang segmented sebetulnya. Tetapi mainnya di Stadion Manahan, Solo. Lapangan besar, tetapi penontonya cukup banyak.

Itu kan festival rutin tiap tahun, musisinya dari seluruh dunia. Saya bertemu dengan musisi China, Eropa, karena itu penting sekali di daerah untuk terus menyelenggarakan festival seperti itu

Saat pandemi tahun lalu. Saya coba bikin lagu dengan semua bahasa daerah judulnya Satu Jalan. Saya libatkan semua musisi yaitu para penyanyi dari daerah, Kalimantan, Flores, Papua.

Jadi saya berbicara dengan mereka, ternyata berkembang sekali, ada regenerasi. Misal kita tahu di Flores ada Ivan Nestroman. Ternyata generasi di bawahnya masih banyak yang muncul dan hebat-hebat.

Bagaimana peran pemerintah harusnya menurut Anda?

Tentunya dipromosikan, supaya saat mewakili ke luar biar orang tahu juga, ini dari Indonesia. Juga festival harus didukung.

Kemarin ada Lembaga Musik Kolektif (LMK) Musik Tradisi, bagaimana tanggapannya?

Penting ada badan untuk musik tradisi. Nanti kan ada standardisasi, jangan cuma pemain gamelan dan rindik di Bali jemputnya memakai kendaraan umum.

Jangan hanya jadi pajangan di hotel, hanya dipakai suaranya saja, tetapi harus jadi musik spesial. Kalau liat begitu kan kasihan

Bagaimana kondisi musik etnik Bali sekarang?

Mereka sangat tergantung pariwisata. Biasanya musisinya tampil untuk event tourisme karena tidak ada turis mungkin banyak yang diam.

Tetapi sebetulnya berkembang, sangat berkembang. Seperti yang saya bilang, musik itu bagi orang Bali sudah menjadi spiritual jadi keseharian.

Di Banjar nongkrong main gamelan, di setiap kampung ada tari dan gamelan. Pasti mereka membuat kreativitas baru. Cuma memang kalau sifatnya komersial itu harus ada standardisasi.

Ada wacana digitalisasi musik etnik, tanggapannya?

Itu lambat laun harus ya. Saya termasuk orang yang lebih suka anolog, sukanya fisik. Tetapi tidak boleh tertutup juga dengan perubahan zaman.

Peradaban kan tidak mungkin kembali lagi. Dan walaupun orang sudah pindah ke digital semua, tetap ada komunitas-komunitas yang suka fisik, misal piringan hitam.

Namun digitalisasi itu penting agar dokumentasi jadi lebih bagus. Misal Kartu Tanda Penduduk (KTP) kalau dahulu pasti ada KTP ganda, bahkan super ganda. Kalau sekarang terdata dengan lebih baik.

Bicara Musik Etnik dan Budaya Betawi, Ipank HoreHore: Kite Anak Muda Nyang Kudu Jagain Obornye

Bagaimana musik etnik Indonesia menjadi diplomasi budaya?

Saya pernah kerja sama dengan pemain Jepang. India juga pernah. Enggak tahu tata caranya beda. Saya belum pernah bertemu, saat bertemu, saya kasih partitur.

Partiturnya not balok mereka baca dengan set reading yang bagus dan cepat sekali bekerja. Saya rasa tidak semua pemain musik tradisi di Indonesia seperti itu, walau sudah ada kampus karawitan, tidak semua bisa dengan bahasa yang sama.

Saya sempat ngajak ngobrol pemain gamelan, saya tanya di kuliahnya belajar not balok enggak? Katanya ada sedikit, habis itu not angka sisanya hafal. Tidak masalah kalau jiwanya menghafal.

Tetapi kalau bicaranya bertemu bangsa lain kita susah nyambungnya. Kalau notasi gamelan misalnya standar semua, nanti bertemu dengan musik Jepang, China, Korea Selatan (Korsel). Bisa menyatu menjadi orkestra dunia.

Walau saya baru bertemu satu orang. Saya harap saya salah. Dia bilang baca dengan not angka, secara tradisi biasanya menghafal jadi kan masih sama. Saya tidak tahu kampus lain udah ada atau belum.

Kalau semuanya pakai standar internasional dibuat satu scoring, misal ini tradisi China, India partiturnya ada, satu komposer yang mengerti gamelan. Semuanya baca jadi bunyi yang luar biasa.

Tetapi bagaimana dengan potensinya?

Pemain muda ini jago-jago banget. Cuma saya tidak tahu sistemnya karena baru tanya satu orang.

Mungkin ada yang udah standar jadi ketika dia bertemu komposer dunia, dia langsung siap baca gamelan dengan partitur internasional.

Harapanya dengan musik etnik Indonesia?

Muncul wajah muda yang baru, kemudian lebih banyak lagi yang tertarik dengan musik tradisinya sendiri. Tidak papa dengar musik barat, kpop atau apa saja. Tetapi tahu musik daerahnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini