Pimpinan RI Berkeliling Temui Sejumlah Pemimpin Negara, Hasilkan Kesepakatan Apa Saja?

Pimpinan RI Berkeliling Temui Sejumlah Pemimpin Negara, Hasilkan Kesepakatan Apa Saja?
info gambar utama

Dimulai sejak hari Jumat, (29/10/2021) lalu, sejumlah perwakilan dari pemerintahan Indonesia yang tidak hanya terdiri dari Presiden Joko Widodo, melainkan juga berbagai pimpinan dari beberapa Kementerian diketahui melakukan rangkaian perjalanan kerja ke luar negeri yang berakhir dengan kepulangan kembali ke tanah air pada hari ini, Jumat, (5/11).

Perjalanan tersebut diikuti oleh sejumlah pihak yang berkepentingan di antaranya Menko Perekonomian, Menko Kemaritiman dan Investasi, Menteri Luar Negeri, Menteri Keuangan, Menteri BUMN, dan Sekretaris Kabinet.

Sedikit berbeda dengan kunjungan kerja ke luar negeri yang biasanya dilakukan terutama semenjak pandemi melanda, perjalanan kali ini memang dapat dikatakan cukup kompleks karena melibatkan keberlangsungan berlapis dari berbagai sektor di tanah air yaitu sektor ekonomi, investasi, dan lingkungan.

Lebih detail, perjalanan yang berlangsung dalam kurun waktu tepat satu minggu tersebut nyatanya memang memiliki tujuan utama untuk menghadiri dua gelaran Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang melibatkan sejumlah pemimpin dari berbagai negara.

Adapun dua gelaran yang dimaksud adalah KTT G20 yang fokus pada sektor ekonomi, dan KTT COP26 yang secara spesifik membahas mengenai permasalahan iklim sebagai topik krusial bagi seluruh masyarakat dunia.

Namun selain dua tujuan utama tersebut, pada saat yang bersamaan juga dilakukan pertemuan dengan sejumlah pihak potensial dalam hal investasi, di antaranya dua pendiri raksasa teknologi Microsoft dan Amazon yaitu Bill Gates serta Jeff Bezos, yang kemudian dilanjut dengan lawatan menemui perwakilan dari pimpinan Uni Emirat Arab (UEA) yaitu Putra Mahkota Abu Dhabi, Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Progres dan kabar baik apa saja yang dibawa dari rangkaian kunjungan kerja tersebut bagi keberlangsungan Indonesia?

Gelontorkan Dana Fantastis, Ini Negara dengan Investasi Terbesar di Indonesia

Berawal dari kunjungan ke Eropa untuk hadiri KTT G20

KTT G20
info gambar

Seperti yang telah disebutkan, perjalanan kerja tersebut diawali dengan menghadiri KTT G20 yang berlangsung di Roma, Italia pada tanggal 30-31 Oktober, dengan fokus utama membahas mengenai berbagai permasalahan ekonomi yang terjadi di sejumlah negara anggota G20.

Dari sekian banyak isu pembahasan dalam konferensi tersebut, salah satu yang secara spesifik memberi dampak bilateral bagi Indonesia yaitu adanya komitmen kerja sama ekonomi hijau dan transisi energi antara Australia dan Indonesia. Pembahasan mengenai rencana tersebut terjalin antara Presiden Jokowi dan Perdana Menteri Australia, Scott Morrison.

Lain itu, Indonesia juga mendapatkan kehormatan ketika salah satu perusahaan rintisan tanah air yaitu Gojek, mendapat apresiasi dan pujian dari Ratu Belanda yaitu Maxima Zorreguieta Cerruti terkait upaya pemberdayaan digitalisasi UMKM yang telah dilakukan, dan dianggap sebagai inspirasi yang dapat diikuti oleh sejumlah negara lainnya dalam melakukan hal serupa.

Terakhir, pada kesempatan yang sama Indonesia juga mengantongi ketetapan sebagai tuan rumah KTT G20 periode selanjutnya yang akan berlangsung di bulan Oktober 2022.

Berdayakan UMKM, Ratu Belanda Puji Gojek di Forum KTT G20 Roma

Kehadiran Indonesia di KTT COP26 yang menuai kekecewaan

Presiden Joko Widodo saat menyampaikan pidato di KTT COP26
info gambar

Bersamaan dengan berakhirnya KTT G20, perjalanan berlanjut dengan menghadiri KTT dengan tingkat urgensi lebih tinggi yaitu COP26 yang terselenggara di Glasgow, Skotlandia.

Gelaran tersebut sejatinya berlangsung mulai tanggal 31 Oktober hingga 12 November mendatang. Namun, pihak Indonesia diketahui hanya mengikuti rangkaian konferensi yang membahas lebih dalam mengenai jalan keluar untuk permasalahan iklim tersebut di tanggal 1-2 November.

Sayangnya, keikutsertaan Indonesia dalam COP26 kemarin ternyata mengundang sejumlah penilaian kurang memuaskan yang dilontarkan oleh praktisi, aktivis, atau berbagai pegiat lingkungan dalam negeri yang menganggap pemerintah atau dalam hal ini Presiden Jokowi kurang memanfaatkan momentum tersebut dengan baik.

Jika merujuk pada pandangan salah satu aktivis lingkungan yang dimuat oleh Tempo, yaitu Yuyun Harmono selaku Manajer Kampanye Keadilan Iklim Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), dijelaskan bahwa alih-alih bersikap tegas dan menyorot isu yang lebih serius perihal permasalahan iklim, Yuyun menyayangkan Presiden Jokowi yang terkesan secara berulang mengungkap pencapaian lama perihal penanganan isu iklim yang terjadi di tanah air dalam pidatonya.

"Menyampaikan capaian yang sudah dilakukan dan mendorong tanggung jawab negara maju dari konteks pendanaan. Dan tentu saja ini adalah posisi yang sama di negara-negara berkembang," ujar Yuyun.

Meski begitu, sebagaimana KTT COP26 yang belum usai dan masih berjalan hingga tanggal 12 November, pastinya belum ada kesepakatan final yang dihasilkan dari konferensi tahunan tersebut.

Adapun perkembangan dan pembahasan dari hasil COP26 akan dibahas lebih lanjut dalam beberapa artikel yang selanjutnya akan dipublikasi oleh GNFI.

Konferensi Perubahan Iklim Butuh Aksi Nyata, Bukan Sekadar Klaim Semata

Pertemuan dengan Bill Gates hingga Jeff Bezos

Di samping tujuan utama untuk menghadiri KTT COP26, di sela-sela gelaran tersebut Indonesia juga diketahui melakukan pertemuan bilateral dengan sejumlah pihak potensial terkait jalannya investasi di berbagai sektor yang masih memiliki kaitan erat dengan permasalahan iklim.

Dijelaskan melalui rilis resmi Kemlu, pihak pertama yang ditemui di antaranya Presiden Amerika Serikat yaitu Joe Biden, yang di mana dalam pertemuan tersebut Indonesia menawarkan peluang bagi AS untuk berinvestasi di bidang energi baru dan terbarukan (EBT), termasuk pengembangan ekosistem mobil listrik dan baterai lithium.

Tak cukup sampai di situ, penjajakan kerja sama juga berlangsung saat melakukan pertemuan dengan pendiri dari raksasa teknologi Microsoft, yaitu Bill Gates.

Dibagikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir, Gates melalui Yayasan Sosial dan Lingkungan miliknya yakni Bill & Melinda Gates Foundation diketahui tertarik untuk bekerja sama dengan salah satu BUMN kesehatan di Indonesia yaitu Bio Farma, untuk melakukan pengembangan vaksin berbasis mRNA.

Tak jauh berbeda dengan Bill Gates, Jeff Bezos yang merupakan pendiri dari Amazon pada hari yang berbeda juga melakukan penjajakan kerja sama dengan pihak Indonesia yang diwakili oleh Menkeu Sri Mulyani.

Sekilas informasi, sama halnya seperti Bill Gates, setelah melepaskan jabatan sebagai CEO Amazon Bezos memang diketahui lebih fokus dalam menahkodai Bezos Earth Fund, sebuah yayasan sosial yang memiliki tujuan utama dalam menangani permasalahan iklim di dunia.

Berangkat dari hal tersebut, pembahasan dari pertemuan yang dilakukan Bezos bersama Menkeu Sri nyatanya lebih mengarah kepada arah invetasi di tanah air dalam bidang EBT sebagai upaya untuk menurunkan emisi karbon dan efek rumah kaca.

Menilik Upaya Indonesia Hadapi Permasalahan Iklim Lewat Pajak Karbon di Tahun 2022

Kantongi komitmen investasi Rp468 triliun dari UEA

Presiden Jokowi dan Pangeran MBZ melakukan pertemuan bilateral di Istana Al-Shatie, Abu Dhabi, PEA, Rabu (03/11/2021). (Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev ) Sumber: https://setkab.go.id/tiba-di-istana-al-shatie-presiden-disambut-putra-mahkota-abu-dhabi/
info gambar

Bertolak dari Eropa, perjalanan kerja yang dilakukan oleh tim pemerintahan Indonesia lalu sampai ke tujuan akhir yaitu Uni Emirat Arab tepatnya Abu Dhabi. Dalam kunjungan tersebut Presiden Jokowi bertemu dengan Putra Mahkota Abu Dhabi sekaligus deputi komandan tertinggi Pasukan Angkatan Darat UEA, Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Kabar baiknya, dalam pertemuan tersebut Indonesia dikabarkan mengantongi komitmen bisnis dan investasi dari UEA yang ditaksir mencapai 32,7 miliar dollar AS atau setara Rp468 triliun.

Adapun dalam sebuah video konferensi pers yang dimuat lewat kanal YouTube resmi Sekretariat Presiden, Menlu Retno Marsudi menjelaskan lebih detail mengenai hasil pertemuan yang terjadi.

“Pertemuan yang dilakukan antara kedua pemimpin berlangsung cukup lama, sekitar 2,5 jam dan membahas berbagai macam isu termasuk kerja sama di bidang energi terbarukan, pembangunan Ibu Kota baru, investasi, dan juga perdagangan,” pungkas Retno.

“Selama kunjungan ini terdapat komitmen bisnis dan investasi senilai 32,7 miliar dollar AS dari 19 perjanjian kerja sama yang akan dipertukarkan di Dubai.” tambahnya.

Tak Hanya Bangunan Fisik, Ibu Kota Negara Baru Perlu Bangun Peradaban

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
AH
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini