Rujak Cingur Masuk Daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2021

Rujak Cingur Masuk Daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2021
info gambar utama

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah mengumumkan daftar Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun 2021. Secara keseluruhan totalnya mencapai 289 dan terbagi dalam beberapa kategori meliputi tradisi dan ekspresi lisan, seni pertunjukkan, adat istiadat masyarakat dan perayaan-perayaan, pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam semesta, serta kemahiran tradisional.

Keputusan tersebut telah ditetapkan dalam sidang penetapan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek dan Tim Ahli Warisan Budaya Jumat. Dengan adanya penambahan tersebut, ini jumlah WBTB di seluruh Indonesia telah mencapai 1.528.

Melansir Tempo.co, di antara banyaknya daftar WBTB, rupanya ada beberapa makanan tradisional yang masuk ke dalam daftar tersebut, salah satunya rujak cingur khas Jawa Timur.

Nikmatnya Mi Caluk dan Aneka Hidangan Tradisional Khas Aceh

Rujak cingur dan keunikan moncong sapi

Rujak cingur | @Gunkarta Wikimedia Commons
info gambar

Rujak memang bukan makanan yang asing di Indonesia. Di berbagai daerah, ada banyak jenis rujak yang umumnya terdiri dari potongan buah segar dan sambal pedas-manis. Paling pas mengonsumsi rujak di siang hari sebagai camilan segar atau biasa jadi pilihan kudapan saat kumpul-kumpul dengan teman atau keluarga. Pemilihan buah dalam ruka biasanya cenderung memadukan rasa asam dan manis, kemudian dicocol dengan sambal yang pedas.

Namun, rujak cingur yang banyak dijumpai di Surabaya ini cenderung berbeda karena perpaduannya terbilang unik. Meski namanya rujak, penampilannya sangat berbeda, begitu pula dengan rasanya. Bagi yang belum pernah mencobanya mungkin akan terheran-heran dengan makanan ini. Namun, karena rasanya enak dan perpaduannya unik, maka rujak cingur jadi salah satu makanan yang wajib dicoba saat berkunjung ke Surabaya.

Dalam satu porsi rujak cingur terdiri dari irisan mentimun, bengkuang, mangga muda, nanas, kedondong, krai atau mentimun khas Jawa, lontong, tahu, tempe, taoge, kangkung, kacang panjang, dan cingur. Dalam bahasa Jawa, cingur artinya congor, mulut atau moncong sapi.

Setelah semua bahan dicampur jadi satu, rujak diberi bumbu yang terbuat dari petis udang, gula merah, cabai, kacang tanah goreng, dan pisang klutuk yang diulek sampai halus.

Selain perpaduan semua bahan dan bumbu, ada pula rujak cingur versi matengan. Bedanya, matengan ini penyajiannya hanya bahan-bahan matang seperti tahu-tempe goreng dan sayuran rebus kemudian diberi bumbu yang sama. Versi ini biasa dipilih orang-orang yang kurang suka buah-buahan.

Umumnya, rujak cingur disajikan dengan alas pincuk daun pisang dan diberi tambahan kerupuk udang sebagai pelengkap. Menyantap rujak dengan perpaduan buah, sayur, dan cingur mungkin terasa aneh pada awalnya. Namun, hidangan ini memberikan rasa yang nikmat beragam, dari manis, gurih, legit, pedas, ada sensasi segar dari buah dan cingur yang teksturnya kenyal.

Meski sekilas nampak mirip pecel atau gado-gado, tetapi rasa rujak cingur ini memang unik dan berbeda, salah satunya karena menggunakan petis dalam bumbunya. Petis sendiri merupakan olahan ikan atau udang yang dimasak hingga berbentuk pasta. Kebanyakan petis udang berwarna cokelat gelap kehitaman dan memiliki aroma tajam layaknya terasi, tetapi rasanya cenderung manis.

Mencicipi Rujak Teplak dan Soto Tauco Khas Tegal

Rujak cingur legendaris di Surabaya

Rujak cingur | Meutia Chaerani / Indradi Soemardjan Wikimedia Commons
info gambar

Sebagai kota asal dari kuliner rujak cingur, tentunya Surabaya merupakan tempat yang tepat untuk mencicipi hidangan tersebut. Di sana, rujak cingur cukup mudah ditemukan karena merupakan makanan favorit masyarakat.

Salah satu penjual rujak cingur legendaris di Surabaya adalah Rujak Cingur Genteng Durasim yang berlokasi di Jalan Genteng Durasim, Kecamatan Genteng. Tempat makan rujak cingur ini sudah ada sejak tahun 1943.

Seperti dikutiip Detik.com, saking terkenalnya dalam sehari penjual rujak cingur ini butuh 12 kilogram cingur per hari. Bahkan, saat sedang ramai seperti lebaran, bisa mencapai 18 kilogram cingur per hari. Untuk menikmati seporsi rujak cingur, Anda bisa merogoh kocek sebesar Rp45 ribu.

Kemudian, ada pula warung rujak cingur lain yang tak kalah populer di Surabaya yaitu Rujak Cingur Achmad Jais di Jalan Achmad Jais, Peneleh, Kecamatan Genteng. Warung ini juga termasuk melegenda karena telah buka sejak tahun 1970.

Uniknya, rujak cingur di sini tidak menggunakan kacang tanah untuk bumbunya. Sebagai gantinya, sang penjual menggunakan kacang mede untuk memberikan rasa yang lebih gurih, ditambah lagi potongan cingur di warung ini pun terkenal melimpah. Tak heran bila harga per porsinya antara Rp60-80 ribu.

Pilihan lain mencoba rujak cingur di Surabaya adalah Rujak Cingur Joko Dolog di Taman Taman Apsari St, Embong Kaliasin, Genteng. Warung rujak cingur ini terkenal dengan isian yang banyak tetapi harganya termasuk terjangkau dibanding yang lain, yaitu Rp26 ribu per porsi. Karena tempatnya selalu ramai, siap-siap mengantre untuk mendapatkan sepiring rujak cingur nikmat khas Joko Dolog.

Mengingat Kehangatan Keluarga Bersama Jagung Titi Kuliner Khas Flores

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini