Mengenal Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional dari Sumatra Barat

Mengenal Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional dari Sumatra Barat
info gambar utama

Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional merupakan salah satu bidang yang termasuk dalam Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbud Ristek).

Menukil dari laman warisanbudaya.kemdikbud.go.id, keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional meliputi teknologi tradisional, arsitektur tradisional, pakaian tradisional, kerajinan tradisional, kuliner tradisional, transportasi tradisional, dan senjata tradisional.

Tahun 2021 ini, ada enam keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional dari daerah Sumatera Barat yang masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Tenun Kubang

Kubang merupakan salah satu nagari di Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, yang telah memproduksi kain tentun sejak tahun 1930-an. Awalnya, tenun dibuat dengan alat sederhana bernama gedongan dan umumnya dilakukan oleh kaum wanita di rumah masing-masing. Karena merupakan pekerjaan sambilan, pembuatan selembar kain tenun pun terbilang cukup lama, yaitu 4-5 hari untuk kain sepanjang empat meter.

Motif tenun Kubang awalnya hanya kotak-kotak, biasa disebut Bugis Kubang. Pewarnaan kain terbuat tumbuhan seperti daun senam untuk warna hijau, getah gambir, kacang minang, dan pinang untuk warna merah dan kuning, serta kulit bodi untuk warna hitam.

Di Kubang, tenun juga diolah menjadi berbagai kerajinan seperti songket, sarung, pakaian, tas, dompet, hingga sandal.

10 Seni Pertunjukkan Jawa Barat dalam Warisan Budaya Tak Benda

Randang paku Dharmasraya

Randang paku merupakan masakan tradisional khas Kabupaten Dhamasraya. Proses pembuatannya hampir sama dengan rendang daging, tetapi keunikan kuliner ini adalah bahan bakunya yang berupa ikan dan sayur paku (pakis). Paku merupakan tumbuhan semak yang tumbuh di kaki bukit bersuhu lembap.

Kabupaten Dhamasraya yang berada di pinggir Sungai Batanghari membuat masyarakatnya mudah mendapatkan ikan. Untuk membuat randang paku, bumbu yang diperlukan antara lain, santan, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lengkuas, serai, daun salam, daun kunyit, daun jeruk, daun ruku-ruku.

Semua bahan dimasak sekitar enam jam sampai kering serupa abon. Hingga saat ini, proses memasak randang paku masih tradisional menggunakan tungku dan kayu bakar.

Rujak Cingur Masuk Daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2021

Dadiah Nagari Aia Dingin

Dadiah | @Jeffry Wongso Shutterstock
info gambar

Bagi masyarakat di Nagari Aia Dingin, dadiah merupakan makanan yang sudah ada sejak tahun 1950-an. Dadiah atau dadih merupakan yoghurt tradisional Minangkabau dan terbuat dari susu kerbau yang difermentasikan dalam wadah bambu kemudian ditutup dengan daun pisang atau daun waru selama tiga hari sampai menggumpal.

Pakar kuliner William Wongso mengatakan kepada Kompas.com, bahwa tekstur dadiah sangat kental dan padat. Jika dibuat dari susu sapi, teksturnya tidak akan bisa sepadat susu kerbau.

Setelah padat, dadiah yang rasanya masam sudah bisa dikonsumsi. Biasanya untuk menu sarapan pagi dan dicampur dengan emping dan gula merah, yang biasa disebut dengan hidangan ampiang dadiah. Selain itu, dadiah juga bisa dijadikan lauk untuk makan nasi bersama sambal.

Batik Besurek Khas Bengkulu, Perpaduan Gambar Bunga dan Kaligrafi

Batik tanah liek

Prof Gusti Asnan, ahli sejarah dari Universitas Andalas menjelaskan bahwa batik di Sumatra dipengaruhi oleh orang Jawa yang berada di Minangkabau sebelum masuknya agama Islam. Seni membatik ini masuk sejalan dengan Ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Singosari dari Tanah Jawa.

Seperti dilansir Kompas.com, salah satu pelopor pengembangan batik kuno di Kota Padang, Wirda Hanim, mengatyakan bahwa penamaan batik tanah liek ini karena proses pewarnaannya menggunakan tanah liek alias tanah liat. Warna asli tanah liat yang kuning kecokalatan menjadi warna dasar batik tersebut sebelum diberi motif.

Untuk corak batik tanah liek sendiri biasanya menggunakan motif untuk ukiran Rumah Gadang, seperti itiak pulang patang, kaluak paku, dan pucuak rabuang.

Pentingnya Memahami Perbedaan Apresiasi dan Apropriasi Budaya

Teh talua

Teh talua | @Paramita Damayanti Shutterstock
info gambar

Siapa yang tak tahu teh talua? Minuman khas Sumatra Barat ini memang begitu tersohor karena keunikannya. Sekilas, penampilannya mirip dengan teh tarik. Namun, bahan pembuatannya jauh berbeda.

Mengutip Merdeka.com, teh talua terbuat dari campuran teh, gula, dan telur bebek atau ayam kampung mentah. Untuk membuat segelas teh talua, pertama-tama, kocok telur, susu, dan gula sampai berbusa, kemudian seduh dengan air teh panas. Terakhir, peras sedikit jeruk nipis untuk menambahkan kesegaran dan menghilangkan bau amis dari telur.

Selain bahan-bahan tersebut, ada juga penjual yang menambahkan bahan lain seperti bubuk cokelat, pala, kayu manis, kapulaga, atau tambahan pemanis seperti krimer atau kental manis. Teh talua nikmati diminum hangat-hangat dan digemari kaum pria karena diyakini dapat menambah stamina.

Belajar Sejarah dan Budaya Jawa di Desa Tembi Yogyakarta

Kawa daun Pariangan

Kawa daun atau aia kawa merupakan minuman kopi yang diseduh dari daun kopi. Minuman tradisional ini telah lama menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Sumatra Barat sebelum masuk budaya minum kopi yang berasal dari biji kopi.

Kawa daun biasa disajikan dalam tempurung kelapa dibelah dua menyerupai mangkuk, mengingat zaman dahulu tidak tersedia gelas sebagai tempat minum. Kawa daun juga dapat dinikmati dengan gula dan berbagai kudapan.

Pariangan yang berada di lereng Gunung Marapi, Kabupaten Tanah Datar, merupakan salah satu tempat untuk mencoba minuman kawa daun. Untuk membuat kawa daun, daun kopi dikeringkan dan dijadikan bubuk untuk kemudian diseduh.

Prof. Gusti menjelaskan bahwa masyarakat Minangkabau sejak awal memang tidak mengonsumsi biji kopi untuk minuman. Baru pada akhir abad ke-18, seorang saudagar dari Amerika datang dan membeli biji kopi. Kejadian ini akhirnya menyadarkan masyarakat bahwa biji kopi memiliki nilai tinggi daripada yang mereka kenal sebelumnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini