Filosofi Minimalis, Penting Agar Hidup Lebih Tenang

Filosofi Minimalis, Penting Agar Hidup Lebih Tenang
info gambar utama

Penulis: Brigitta Raras

Kawan, coba saat ini perhatikan dan amati di sekeliling Kawan, kamar, ruang tamu, atau ruangan lainnya. Apakah Kawan tipe orang yang memiliki banyak barang menumpuk tapi jarang terpakai? Atau justru Kawan memiliki barang sedikit tapi sangat fungsional dan memiliki nilai (value) untuk Kawan? Coba kembali pikirkan, apakah Kawan nyaman dengan kondisi ruangan Kawan saat ini atau tidak.

Jika Kawan merasa memiliki masalah dengan barang yang menumpuk atau ingin mengetahui, bahkan mencoba menjadi seorang minimalism, artikel ini sangat cocok untuk Kawan.

Suka Nonton Anime? Yuk, Tingkatkan Produktivitas dengan Teknik Animedoro

Mengenal hidup minimalis

Ilustrasi | Foto: Leone Venter/Unsplash
info gambar

Dalam buku yang berjudul goodbye things, Fumio Sasaki menulis, bahwa hidup minimalis ala orang Jepang adalah seseorang yang benar-benar mengetahui apa yang penting bagi dirinya sendiri dan tetap mempertahankan hal-hal tersebut untuk dirinya.

Filosofi minimalis ini, mengajak Kawan untuk mengenal kebutuhan barang, menggunakan barang, dan mengetahui efek dari hal-hal yang Kawan lakukan terhadap suatu barang. Minimalis juga merupakan filosofi dalam mengurangi dan membuang elemen yang kurang berguna dan tidak berguna, tanpa mengurangi fungsi utamanya.

Dengan belajar untuk menjadi minimalis atau mengetahui apa itu filosofi minimalis, Kawan akan melatih mindset dan sikap untuk mengontrol segala kebutuhan hidup. Terlebih terhadap barang, Kawan akan mulai menilai suatu barang dengan bijak dan bukan hanya keinginan semata.

Tak sedikit orang yang menilai bahwa hidup minimalis adalah hidup yang pas-pasan dan pelit. Faktanya, minimalis bukanlah seperti itu, minimalis justru memiliki keterkaitan kuat dengan kondisi keuangan yang baik.

Hal itu dikarenakan Kawan mampu mengontrol untuk tidak membeli barang-barang yang mungkin tidak berguna untuk Kawan. Kemudian, uang tersebut dapat Kawan alokasikan untuk menabung dan investasi dalam mempersiapkan masa depan.

Secara tidak langsung dengan belajar minimalis, Kawan mampu mengontrol ego dan bijaksana dalam memilih barang, mana yang menjadi kebutuhan dan mana yan menjadi keinginan saja. Secara singkat, minimalis adalah gaya hidup dalam mengontrol segala kebutuhan, bukan keinginan saja.

Sedang Persiapkan Interview? Ini Langkah Agar Percaya Diri

Konsep minimalis sangat mengedepankan fungsional suatu barang. Gaya hidup ini, tentunya dapat diterapkan di berbagai sektor. Misal, dalam sektor fesyen. Kawan dapat mulai untuk memilih pakaian sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan saja.

Lebih baik membeli pakaian dengan harga yang terjangkau dan sesuai dengan bahan serta kualitas, namun dapat dipakai selama bertahun-tahun. Dibandingkan, Kawan membeli dengan harga murah, namun kualitas jelek dan hanya terpakai beberapa bulan saja.

Kemudian, dalam bidang sosial media, gaya hidup ini juga dapat diterapkan. Menggunakan secara bijak dengan mengikuti akun-akun yang memberikan nilai positif dan value untuk hidup Kawan. Selain itu, Kawan juga dapat membatasi penggunaan sosial media secara bijak. Selain itu, hidup minimalis juga dapat diterapkan di berbagai sektor lainnya yang tentunya berhubungan dengan penggunaan dan konsumsi sesuatu.

Penerapan minimalis dalam hidup

Ilustrasi | Foto: Jacinta Christos/Unsplash
info gambar

1. Kenali kegunaan setiap barang

Cobalah untuk mengelompokkan dan ketahui kegunaan masing-masing barang tersebut. Kembali pikirkan, bagaimana barang tersebut bisa bertambah. Barang fungsional memiliki sifat praktis, memiliki kegunaan dan membantu dalam kehidupan sehari-hari Kawan.

Kawan harus memilih barang mana yang benar-benar digunakan dan bernilai untuk kehidupan Kawan. Selain itu, jika barang tersebut bernilai, pastikan barang itu harus dan bisa digunakan.

2. Buang

Jika Kawan memiliki barang-barang yang tidak digunakan dalam waktu 90 hari, maka cobalah mulai untuk Kawan singkiran.

Zeirganik Effect: Kebiasaan Mengingat Pekerjaan yang Belum Selesai

3. Simpan

Jika barang Kawan dalam jangka waktu 90 hari tidak digunakan, namun akan berguna di lain hari, seperti palu, obeng, atau peralatan yang memang pada umumnya tak digunakan setiap hari. Maka, Kawan dapat menyimpannya barang tersebut dengan rapi.

4. Berikan

Jika Kawan memiliki barang yang menumpuk di ruangan dan itu masih layak pakai, namun Kawan sudah tak pernah memakainya lagi. Daripada Kawan membuangnya, cobalah untuk berikan kepada orang yang mungkin lebih membutuhkan.

Dengan mencoba dan belajar menjadi minimalis, dapat membuat pikiran Kawan menjadi tenang. Hal ini dikarenakan, Kawan tak perlu membuang energi untuk memikirkan banyak barang, namun tak ada nilai fungsionalnya. Selain itu, Kawan juga akan lebih mudah merapikan dan mencari barang yang dibutuhkan. Apakah Kawan sudah mulai tertarik dan ingin mencoba menjadi seorang minimalis?*

Referensi: medium | satu persen | idn times

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini