Berdirinya Planetarium, Cita-Cita Bung Karno Agar Indonesia Pahami Langit

Berdirinya Planetarium, Cita-Cita Bung Karno Agar Indonesia Pahami Langit
info gambar utama

Gedung Planetarium terdiri dari empat lantai, sesuai gambar pada maket awalnya. Terdapat satu kubah di tengah yang tergabung dengan ruang pameran di bawahnya dan dikelilingi bangunan luas.

Lokasi Planetarium masuk dalam kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat. Di sini ada beragam tempat edukasi, seperti ruang observatorium, ruang teater untuk pendidikan, dan didukung dengan tempat parkiran yang luas.

Gagasan Planetarium muncul dari Presiden Soekarno pada awal dekade 1960-an. Bung Karno saat itu berharap bisa meningkatkan tradisi pengetahuan dalam masyarakat Indonesia.

Selain itu, meruntuhkan takhayul masyarakat terkait munculnya benda-benda langit, seperti gerhana dan komet yang sering dikaitkan dengan malapetaka, bencana alam, atau perginya seorang pembesar, dan kejadian lain yang sifatnya merugikan.

Soekarno juga menyadari perkembangan sains akan membuat Indonesia bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain. Masa itu astronomi menjadi cabang sains yang menjadi penanda kemajuan peradaban bangsa.

Saat itu negara-negara seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet sedang melakukan perlombaan luar angkasa--space race. Diketahui pada 1957, Uni Soviet berhasil meluncurkan satelit pertama ke luar angkasa bernama Sputnik sedangkan Amerika Serikat berencana mengirimkan manusia ke Bulan.

“Kita sebagai bangsa yang baru lahir kembali, kita harus dengan cepat sekali, cepat, check up mengejar kebelakangan kita ini, mengejar di segala lapangan. Lapangan politik kita kejar, lapangan ekonomi kita kejar, lapangan ilmu pengetahuan kita kejar, agar supaya kita benar-benar di dalam waktu yang singkat bisa bernama Bangsa Indonesia yang besar, yang pantas menjadi mercusuar daripada umat manusia di dunia," pidato Soekarno saat pemancangan tiang pertama planetarium pada 9 September 1964 yang dikutip dari Langit Selatan, Rabu (10/11/2021).

Mengenal 6 Observatorium dan Planetarium yang Ada di Indonesia

Hal yang cukup membanggakan saat itu adalah, Planetarium Jakarta akan menjadi planetarium terbesar yang ada di dunia. Selain itu, Indonesia pun mengungguli bangsa-bangsa Asia Tenggara yang sudah membangun tempat simulasi luar angkasa.

“Planetarium akan kita dirikan di Jakarta ini, di tempat ini, adalah planetarium yang terbesar di seluruh dunia … sehingga di bawah kubah itu bisa duduk orang. Lima ratus orang. Di lain-lain tempat cuma tiga ratusan saudara-saudara ini Indonesia bukan main,” tambah Bung Karno dalam pidatonya.

Namun proyek gedung Planetarium dan Observatorium ini bukanlah pembangunan dengan biaya sedikit. Apalagi Indonesia masih tergolong negara yang baru berdiri dan membutuhkan banyak pembangunan pada sektor lain.

Karena itulah, Bung Karno meminta partisipasi dari pihak swasta dalam proyek mercusuar ini. Beberapa perusahaan swasta yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) membantu proyek ini dengan menyediakan dana Rp1,67 miliar.

Uang yang diturunkan GKBI untuk pembangunan Gedung Planetarium Jakarta diturunkan secara berangsur yaitu pada tahun 1964, 1965, dan 1966.

Sementara itu ada juga yayasan yang dibentuk Bung Karno untuk pembelian mesin proyektor planetarium dan teropong bintang dari perusahaan Carl Zeiss-Jerman seharga 1,5 juta dolar AS, dan beragam pembangunan lain. Yayasan ini akan menghimpun beragam dana komisi yang biasa didapat saat pembelian barang ke luar negeri.

Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 155 tahun 1963 yang ditandatangani Presiden pada 26 Juli 1963 menjadi landasan dalam pembangunan Planetarium Jakarta. Namun ketika pecah pemberontakan Gerakan 30 September (G30S) proyek Planetarium harus berhenti sejenak.

Ali Sadikin meneruskan mimpi Soekarno

Historia menulis, akibat rentetan peristiwa G30S, GKBI pun kehabisan dana dan tidak mampu lagi membiaya pembanguan Planetarium dan Observatorium Jakarta. Melihat kondisi ini Pemerintah DKI Jakarta kemudian mengambil alih proyek pada 1966-1968.

Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin menunjuk beberapa ahli seperti staf Observatorium Bosscha, Santoso Nitisastro sebagai pemimpin pembangunan dan dibantu oleh teknisi senior bernama Kodrat Iman Satoto.

Akhirnya setelah pembangunan gedung planetarium, pemasangan proyektor serta perlengkapan lainnya berhasil diselesaikan. Gubernur Ali Sadikin lalu meresmikan Planetarium Jakarta pada 10 November 1968.

“Waktu diresmikan 10 November 1968, pintu masih terbuka, membawa masuk sinar dari luar, juga air ketika hujan. Orang keluar masuk dalam keadaan pintu yang terbuka. Saat itu Planetarium dan Observatorium Jakarta belum layak beroperasi,” kata Darsa Sukartadiredja, Kepala Planetarium dan Observatorium Jakarta, periode 1977–2001.

Tak Hanya Hujan Meteor, Dua Galaksi Tetangga bisa disaksikan di Langit Indonesia Oktober Ini

Barulah pada 1 Maret 1969, planetarium Jakarta menggelar pertunjukan teater bintang pertama. Pengurus Planetarium pada masa itu akhirnya menerapkan hari itu sebagai tanggal lahir Planetarium dan Observatorium Jakarta.

Walaupun saat itu kondisi bangunannya masih sangat sederhana. Tetapi tempat ini masih bisa memukau para penonton. Di dalamnya ada bangunan silinder beratap kubah, di tempat ini sering digelar pertunjukan teater bintang dengan proyektor yang dibeli dari Jerman dan 500 buah kursi di dalamnya, serta beberapa ruang kecil lainnya.

Darsa mengaku, kehadiran planetarium tidak langsung menarik perhatian bagi masyarakat. Mereka perlu mempromosikan tempat ini kepada masyarakat luas melalui stensilan, poster, dan sablon, bahkan sampai mengedarkan surat-surat ke sekolah.

Hasil mulai terlihat pada 1975 hingga awal 1980-an. Saat jumlah pengunjung planetarium sampai menyentuh angka 30-40 ribu per tahun. Lalu mulai terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya hingga tujuh kali lipat pada dekade 1980-an.

Planetarium dan cita-cita pahami langit

Sepanjang sejarahnya, planetarium juga memiliki beragam teleskop, seperti pada 1964 di mana mereka mempunyai teleskop Coude yang digunakan untuk pengamatan dan pemotretan Matahari.

Lalu pada 1982 ada juga teleskop portable kecil untuk mengamati fenomena gerhana matahari total. Pada 1992, Pemerintah DKI Jakarta lalu menyetujui pembelian teropong bintang bergaris tengah 31 cm sebagai pengganti alat yang sudah uzur.

Pada 1996, proyektor pertama Planetarium Jakarta kemudian diganti proyektor Planetarium generasi terbaru dari Pabrik Carl Zeiss setelah 27 tahun bekerja. Widya Sawitar, Astronom Planetarium dan Observatorium Jakarta mengaku telah banyak melihat perubahan pada gedung ini sejak dibangun pada 1964.

Misalnya saja alat peraga di ruang pertunjukan. Dahulunya alat ini masih bekerja secara manual tetapi pada 1996, mekanismenya diganti dengan komputerisasi untuk membuat pengunjung lebih terkesan.

"Kalau dahulu jeli melihatnya semua putih bintangnya. Kalau yang tahun 1998 kita bisa lihat bintang ya kalau ada merah ya berwarna merah, lebih variatif. Sekarang bisa berkelap kelip. Mengubah banyak. Bintang itu bisa dibuat secara individual," ujarnya yang dilansir dari CNN Indonesia.

Sekarang planetarium juga menyediakan 10 teropong yang bisa dibongkar pasang untuk kepentingan pengunjung. Namun begitu, dirinya tidak menampik masih ada teropong yang tergolong sudah uzur.

"Itu (teleskop) sudah lama (usianya), udah rata-rata di atas 30 tahun," jelasnya.

Widya juga menilai, sekarang banyak pengunjung yang hadir kerap melontarkan pertanyaan kritis. Pasalnya saat ini pengetahuan dan informasi tentang astronomi sudah sangat tersebar di internet.

"Mereka sudah banyak belajar dari ragam media seperti internet. Jadi ketika ke sini rasa penasaran mungkin sama, tetapi makin banyak pertanyaan karena saking banyaknya info-info yang beredar," tandas pria yang telah bekerja di Planetarium Jakarta sejak 1992 ini.

Jurnalis Langit Selatan, Avivah Yamani Riyadi, menyatakan peran Planetarium Jakarta masih sangat penting untuk menjembatani para saintis ilmu astronomi dengan masyarakat. Posisi ini masih sangat penting walaupun sekarang masyarakat bisa mengakses ilmu astronomi secara luas melalui internet.

"Tetapi tidak semua orang bisa memiliki kemampuan untuk menyaring berita yang benar,” kata Avivah.

Tentunya otoritas peneliti planetarium dan observatorium Jakarta masih sangat dibutuhkan untuk menghadirkan berita yang benar tentang astronomi, karena itulah kedekatan planetarium kepada masyarakat juga sangat penting agar bisa menepis segala berita bohong tentang astronomi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini