Misteri Kota Gaib Wentira, Kerajaan Jin dengan Bangunan Berwarna Keemasan

Misteri Kota Gaib Wentira, Kerajaan Jin dengan Bangunan Berwarna Keemasan
info gambar utama

Wentira mungkin masih asing bagi telinga sebagian masyarakat Indonesia. Tetapi bagi masyarakat Sulawesi Tengah (Sulteng), nama tempat ini menyimpan banyak misteri yang belum terpecahkan

Nama Wentira berasal dari kata Ngata Uwentira berarti kota tak kasat mata atau tidak terlihat. Lokasinya berada di hutan lebat pada pegunungan yang terletak antara Kota Palu dan Kabupaten Parigi Moutong, Sulteng.

Sementara itu Suku Toraja Kuno menyebutnya To Wae Ntira. Menurut beberapa cerita saat masuk dalam dunia Wentira, nantinya kita akan terombang-ambing di antara dunia nyata dan dunia supranatural.

Seperti hal namanya, tempat ini merupakan kota gaib, lantaran tidak semua orang bisa melihatnya bahkan mengunjunginya. Hanya orang-orang yang diberikan "kemampuan lebih" yang mampu menembus kota ini atau beberapa sedang sial seperti tersesat.

Kawasan Wentira memang dikenal sebagai tempat paling angker bukan hanya di Sulawesi, tetapi juga di Indonesia. Di sini dianggap salah satu tempat Kerajaan Jin yang terbesar di Indonesia.

Banyak kisah misteri yang membuat kepercayaan masyarakat tentang adanya Kota Wentira makin kuat. Misalnya saja cerita tentang seseorang yang memesan mobil BMW i series warna kuning dengan memberikan alamat Wentira.

Penelusuran Ilmiah Soal Keberadaan Kota ‘’Hilang’’ Saranjana

Hebohnya, orang yang memesan mobil mewah itu adalah seorang pria tua tanpa ada keanehan sama sekali menurut sales promotion perusahaan tersebut. Tetapi setelah mobil itu diantar, ternyata tempat yang mereka datangi adalah hutan lebat.

Banyak juga warga sekitar Wentira yang percaya bila melewati daerah tersebut harus membunyikan klakson sebanyak tiga kali agar perjalanan lancar. Apalagi banyak kisah mistis, seperti orang tersesat lalu berpindah ke kota gaib.

Ada juga kisah seorang pemuda yang tiba-tiba memanjat tebing di Pulau Kalimantan untuk mengambil sarang burung walet. Hebatnya pemuda ini tidak memakai pengaman apa pun.

Melihat aksi pemuda ini, banyak warga yang sontak terkejut, lalu menanyakan asal muasal dirinya. Lalu dengan santai dia menjawab asalnya dari Kota Wentira Palu, tidak lama setelahnya pemuda itu menghilang.

Banyak yang percaya bahwa warga Wentira juga sering berkelana untuk mengembangkan kotanya. Kota Wentira disebut juga terdapat di Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), Mekongga, Sulawesi Tenggara (Sultra), dan bisa saja sampai ke Kalimantan.

Sementara itu warga setempat menyakini jembatan Uwentira adalah pintu gerbang menuju kerajaan gaib. Selain itu, ada tugu kuning yang dipercaya sebagai penanda awal gerbang menuju kota gaib ini.

Peradaban Atlantis yang hilang?

Wentira sebenarnya hanya daerah berhutan lebat, disekelilingnya terdapat pohon-pohon raksasa yang tumbuh di pinggir jalan, dengan batang putih, berbentuk besar, cenderung lurus dan menjulang sangat tinggi.

Konon tidak ada satu pun warga yang berani memotong pohon tersebut. Di antara kesenyapan hutan, terdapat jembatan yang tidak seberapa.

Persis jembatan berikut jurang dan ngarai tajam disitulah dipercaya sebagai pusat Kota Wentira. Negeri jin yang dipercaya penghuninya sering keluar dunianya dan masuk dalam kehidupan manusia.

Di balik segala misteri dan keangkeran kisah kota Wentira ini, ternyata banyak juga cerita yang menakjubkan. Digambarkan oleh orang yang pernah ke tempat itu, Wentira merupakan kota modern dengan peradaban luar biasa.

Semua jenis kendaraan, baik pribadi maupun umum, seperti Moda Raya Terpadu (MRT) ada. Masyarakat sangat makmur dan serba ada.

Kisah Batu Belimbing, Teladan Persahabatan Melayu dan Tionghoa

Banyak masyarakat yang percaya bahwa Wentira merupakan Kota Atlantis yang hilang. Pasalnya beberapa orang yang memiliki kemampuan khusus melihat kota ini terdiri dari bangunan-bangunan yang berlapis emas.

Dalam cerpen Kota-Kota Gaib yang ditulis Raudal Tanjung Banua misalnya mendeskripsikan Uwentira/Wentira sebagai kota gaib. Bahkan dapat mengubah kepribadian seseorang 180 derajat. Dari segi bangunan, gedung-gedungnya penuh dengan warna keemasan.

"Yang menarik, lanjut Mayor, bangunan Uwentira tumbuh dengan arsitektur serupa cangkang telur, kecuali warnanya dominan kuning keemasan. Ada serupa telur ditegakkan sehingga terlihat lonjong, ada yang direbahkan sehingga tambak menggembung. Ada pula dimiringkan, mirip posisi berdiri patung Tosalagi dalam kepercayaan orang Kaili. Pintu dan jendela-jendelanya berderet tiap lengkungan, sehingga tak hanya untuk menerima cahaya tetapi langsung mendapat curahan hujan pertama...," tulisnya dalam buku terbitan Jawapos pada 2014 yang dikutip dari Klipingsastra.

Selain bangunannya yang aneh, ciri-ciri fisik dari orang Wentira sebenarnya hampir sama dengan orang normal. Hanya saja warga Wentira tidak punya garis pemisah di atas tengah bibir.

Selain itu masyarakat di kota gaib ini selalu menggunakan pakaian warna kuning. Beberapa kali orang Wentira keluar dari kotanya untuk berbelanja ke pasar tradisional. Tetapi oleh masyarakat, orang-orang Wentira ini dibiarkan dan tidak ada yang berani menganggu.

Hubungan dengan Belanda

Dikabarkan oleh IDN Times, kota gaib ini ternyata berkaitan dengan pemerintahan kolonial Belanda. Memang kota ini ditandai dengan adanya sebuah jembatan buatan Belanda yang menjadi proyek besar jalan di bagian leher Pulau Sulawesi atau yang kini disebut Jalan Trans Sulawesi.

Proyek ini dikomandoi oleh Jusuf Radja Tiangso. Sementara pengerjaannya diresmikan oleh A.C.D de Graeff selaku Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 19 September 1927.

Hal ini diketahui bedasarkan catatan dokumen Onder Afdeeling Paloe yang menunjukkan jembatan kayu di Wentira dikerjakan oleh pekerja Tionghoa pada tahun 1933.

"Bersamaan jembatan tersebut pula, Pemerintah Belanda membuat sebuah pasanggrahan yang disebut dengan Kebun Kopi,” terang Koordinator Komunitas Historia Sulteng, Moh Herianto.

Antara kota Wentira dengan Suku Kaili pun memiliki hubungan, salah satunya terlihat dari pakaiannya yang berwarna kuning. Warna kuning diidentikan sebagai warna emas sesuai dengan Istana Jin di kota Wentira.

Ketika Junghuhn Membongkar Kisah Misteri yang Menyelimuti Kawah Putih

Herianto menyebut isu adanya kota Wentira ini baru muncul pada periode 1950 an. Menurutnya hal ini berkaitan dengan munculnya prahara politik pada zaman itu.

Sekitar tahun 2018 hingga 2019, pemerintah mulai memperbaiki jalur di Jalan Trans Sulawesi yang menghubungkan Kota Palu dan Kabupaten Parigi Moutong.

Pemerintah memperbaiki fasilitas umum seperti ruas jalan, drainase, penahan longsor, juga jembatan, salah satunya jembatan Uwentira. Kalman salah satu warga sekitar melihat banyak kendaraan yang lewat sering membunyikan klakson agar bisa selamat.

Kalman mengaku hingga sekarang banyak warga yang datang berkunjung ke Wentira. Walaupun motif dari orang-orang ini tidak banyak diketahui.

"Ada yang datang mandi, ada yang naik ke atas sampai ke danau itu dan ada juga yang bawa sesajen atau yang pasang telur untuk pasang shio," sebut Kalman.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini