Opung Putra Rusmedia, Perempuan Pelindung Hutan Adat dari Kerakusan Korporasi

Opung Putra Rusmedia, Perempuan Pelindung Hutan Adat dari Kerakusan Korporasi
info gambar utama

Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) terkait iklim (COP26), lebih dari seratus pemimpin dunia telah mengikrarkan janji untuk mengakhiri deforestrasi dan mengembalikan fungsi hutan pada 2030.

Dikutip dari Kompas, Kamis (11/11/2021), beberapa pakar menyambut baik langkah yang diambil para pemimpin ini di Glasgow, Skotlandia. Pasalnya penebangan hutan selama ini berkontribusi besar untuk memicu perubahan iklim.

Hutan yang gundul tidak mampu menyerap gas karbon dioksida untuk menghangatkan bumi, padahal hutan menjadi penyerap dari sepertiga karbon dioksida global yang dipancarkan tiap tahun.

Karena itu nantinya lebih dari 30 perusahaan terbesar di dunia akan berkomitmen untuk menghentikan investasi dalam kegiatan yang terkait dengan deforestrasi.

Miliki Jutaan Hektare, Inilah 10 Provinsi dengan Hutan Terluas di Indonesia

Sementara itu pemerintahan dari 28 negara telah berjanji untuk menghapus deforestrasi dari perdagangan global, seperti makanan dan produk pertanian lainnya semisal minyak kelapa sawit, kedelai, dan kakao.

Industri-industri ini tercatat menjadi pendorong atas penebangan hutan untuk memberi ruang bagi hewan ternak dan tanaman. Sebagai pengekspor minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia pun punya peran penting terkait komitmen tersebut.

Greenpeace mencatat, di Indonesia saja telah terjadi deforestrasi luas lahan sekitar 2,13 juta hektare (ha) atau setara dengan luas 3,5 kali luas Pulau Bali dalam 5 tahun terakhir.

Karena itu Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Arie Rompas, meminta komitmen dari pemerintah untuk membuktikan memoratorium lahan hutan maupun pencegah kerusakan iklim yang makin parah.

"Sebaik-baiknya komunikasi pemerintah dipoles, tidak akan mampu menutupi realitas dan masalah di lapangan," ujarnya, dalam CNN Indonesia.

Perjuangan perempuan lindungi hutan

Kondisi hutan yang terus mengkhawatirkan, telah memunculkan satu sosok pejuang lingkungan bernama Rusmedia Lumban Gaol atau dikenal dengan panggilan Opung Putra.

Perempuan yang berasal dari Desa Pandumaan, Sumatra Utara (Sumut), ini begitu gahar melawan PT Toba Pulp Lestari (TPL), sebuah perusahaan kayu yang mengambil lahan hutan kemenyan.

Ribuan petani hamijon atau kemenyan memang telah menggantungkan hidupnya dari memanen getah yang memiliki bau khas tersebut. Mereka bahkan sudah melakukannya sebelum negara ini berdiri.

Kemenyan menjadi salah satu tanaman endemik yang tumbuh di Indonesia. Beberapa kelompok masyarakat lokal Sumut--khusus Suku Batak--masih mempertahankan batang-batang kemenyan untuk generasi mendatang.

Namun, TPL berhasil mendapatkan izin dari pemerintah untuk memulai penggarapan lahan di dalam hutan kemenyan sejak 1993. Hutan Kemenyan pun dibabat, diganti dengan eukaliptus yang membuat masyarakat protes.

Mereka melawan, dengan beragam cara, terus menjaga lahan dari perusahaan, melakukan demonstrasi untuk mendesak pemerintah tidak lagi memasukan wilayah mereka dari konsesi perusahaan.

"Ini tanah warisan leluhur, akan kami pertahanankan. Kami lebih baik mati daripada menjadi budak (bekerja di TPL)," kata Rusmedia dengan mata berkaca-kaca, seperti digambarkan Greeners.

Apresiasi untuk Penjaga Hutan dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia

Sejak 1986, Rusmedia terus melawan perusahaan yang bahkan hampir mengancam nyawanya. Dirinya bahkan sering terkena berita bohong (hoaks) yang dilancarkan perusahaan untuk menjeratnya dengan tindakan pidana.

"Suami dan anak laki-laki aku di penjara hanya karena kami menjaga hutan kami, rumah kami dirusak, perempuan-perempuan disekap. Pendeta sekaligus tokoh adat kami juga ditangkap dan dipaksa tanda tangan surat pengakuan," jelas perempuan dengan 12 anak ini.

Dirinya juga kerap bolak-balik ke Jakarta menyalurkan aspirasi masyarakat adat ke Istana. Dia terus memperjuangkan agar hutan kemenyan yang telah 300 tahun menjadi bagian masyarakat tidak ditebang oleh perusahaan.

Namun, pemerintah tidak pernah hadir membela hak masyarakat adat yang sedang memperjuangkan hutan leluhurnya. Bahkan beberapa dari mereka harus digelandang ke Kepolisian.

Selain ditangkap, mereka juga sudah biasa bila mendapatkan ancaman pembunuhan. Mereka menilai pihak perusahaanlah yang menjadi dalang dari segala peristiwa, seperti pembakaran gubuk, meracuni tanaman, dan memanggil polisi militer untuk mengalahkan gerakan komunitas.

"Aku selalu ada di medan pertempuran. Aku selalu hadir dalam setiap aksi protes, dan juga aksi langsung di lahan-lahan," ungkap perempuan berusia 72 tahun ini.

"Kami, perempuan-perempuan tua ini, selalu berada di barisan depan aksi. Sebab, orang-orang sewaan perusahaan dan polisi selalu sungkan untuk mengasari kami. Mereka pasti malu berhadapan dengan kami." kenangnya, menukil Suara.

Terus berjuang hingga akhir

Pohon kemenyan (Shutterstock)

Bagi Rusmedia, dan warga adat Pandumaan-Sipituhuta hutan kemenyan memang tidak hanya warisan leluhur. Tetapi selama ini telah menolong penghidupan mereka.

Hasil dari menggarap tanaman ini bahkan bisa mensekolahkan anak-anak mereka. Selain itu juga sebagai cara mereka untuk menyambung hidup.

Sebelum datangnya TPL, jumlah tiap pohon kemenyan dahulu mampu menghasilkan 3 kilogram dalam sekali sadap. Namun sekarang getah kemenyan yang keluar dari tiap pohon jauh menyusut, kadarnya hanya sekitar 1 ons saja.

Menurut Opung Putra, tanaman Kemenyan di desanya sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Karena itu, bila ekosistem lingkungan rusak akan menyebabkan tanaman kemenyan mengalami depresi.

Sehingga getah yang dikeluarkan oleh tanaman ini menjadi menurun dan kualitasnya juga tidak baik. Apalagi bila pohon-pohon yang disekitar ditebang, akan membuat warnanya menjadi hitam.

Cerita Berseminya Hutan Cogong Pasca Perambahan Selama Dua Dekade

"Semua tanaman kami disini rontok semua, tidak ada yang tumbuh lagi. Tumbuh itu yang kami buat kompos banyak, pupuk banyak, kalau tidak ada itu, tidak tumbuh lagi. Jadi kalau kemenyan ini tidak boleh dikomposi, tidak boleh dibantu-bantu, harus tumbuh sendiri, harus dari tanah sendiri komposnya," ceritanya dalam sebuah wawancara dengan Greenpeace.

Karena kondisi inilah dirinya terus berjuang menuntut haknya, walau sebagai perempuan tentunya ini tidak mudah. Perempuan dengan penampilan sederhana ini beruntung karena didukung suami dan anak-anaknya.

Sang suami, Opung Putra Borru, selalu mempersiapkan bekal untuk istrinya sebelum berangkat. Sedangkan anak-anaknya, meski khawatir tetapi terus mendukung ibunya.

"Besok ini jumat, hari ke pasar, anak laki-lakiku yang gantikan ke pasar. Tak apa kata dia, Aku liat mamak orang di rumah kerjanya berantam, mamakku pergi berjuang demi warga desa,’” kata nenek 31 cucu ini menirukan tuturan anaknya.

Rusmedia terkadang sedih sekaligus haru setiap kali mengingat aksi-aksi bersama ibu-ibu lain ketika turun ke jalan, berjalan kaki ke kantor-kantor pemerintah.

Dirinya mengaku awalnya takut berorasi di depan umum. Sekarang, sudah terbiasa bersuara di depan para pejabat. Akhirnya sejak puluhan tahun berjuang, pada 2016, Opung Putra menjadi salah satu perempuan adat yang menemui Presiden Jokowi dalam seremoni penyerahan hutan adat.

Secara simbolis Presiden menyerahkan SK adendum untuk mengeluarkan 5.172 hektare wilayah Pandumaan dan Sipituhuta dari konsesi TPL.

Beberapa perwakilan hadir di Istana Negara bersama delapan komunitas yang mendapatkan penetapan hutan adat. Sebuah kisah yang berakhir bahagia dalam perjuangan lingkungan di Indonesia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini