Hakikat Seni Mendengarkan dengan Teknik Compassionate Listening

Hakikat Seni Mendengarkan dengan Teknik Compassionate Listening
info gambar utama

Mengutip sebuah kiasan bahwa proses komunikasi yang efektif berjalan dengan lancar, apabila lawan bicara menyampaikan pesan dan diterima baik oleh si pendengarnya. Namun, selama proses komunikasi berjalan, terkadang Kawan menemukan ketidakselarasan dalam proses komunikasi muncul dari kesalahpahaman lawan bicara dalam menangkap suatu informasi yang disampaikan.

Pastinya, Kawan sering mendengar pembicaraan yang dilontarkan oleh si lawan bicara karena terkesan “tidak nyambung”. Merasa pembicaraannya tidak satu frekuensi.

Biasanya, ketidakselarasan dalam proses komunikasi dimulai dari ketidakpahaman informasi yang disampaikan. Entah karena bahasanya kurang common di telinga kita, atau bisa jadi karena tidak paham penjelasannya terlalu rumit sehingga tidak masuk ke pikiran si pendengar.

Harapannya, ketika proses komunikasi itu berjalan dengan baik, diharapkan tidak terjadi keraguan dan ketidakpastian dari lawan bicara kita. Sehingga, informasinya sudah jelas dan clear, alias tidak ada yang terlewatkan. Komunikasi dinilai berhasil kalau kedua belah pihak ini terjadi sepemahaman atau sepemikiran atas informasi yang disampaikan.

Agar komunikasi yang dibangun ini bisa efektif, pentingnya mendengarkan secara aktif adalah kunci utamanya. Menjadi seorang pendengar yang baik bukan hanya dituntut untuk mendengarkan saja, tapi juga untuk memberikan feedback atau tanggapan informasi yang disampaikan oleh lawan bicara.

Mendengar secara aktif merupakan sebuah usaha untuk memahami konteks pembicaraan yang sedang disampaikan oleh lawan bicara kita. Lalu, seorang pendengar juga perlu memperhatikan respon apa yang tepat untuk disampaikan kepada teman bicara kita.

Respon yang dilontarkan pastinya juga mempengaruhi ada tidaknya hambatan dalam rentetan proses komunikasi yang dibangun, loh, Kawan. Nah, salah satu teknik untuk menjadi seorang pendengar yang baik bagi lawan bicara adalah dengan menerapkan compassionate listening. Melalui teknik ini juga bisa diketahui hakikatnya seni mendengarkan.

Menilik Tingkat Ketahanan COVID-19 Negara-negara di Asia Tenggara

Sebelum beranjak ke sana, terkadang kemampuan mendengarkan ini masih dianggap hal yang tabu. Setidaknya, ada beberapa alasan yang mendasari seseorang terkesan enggan untuk mendengarkan sebuah pembicaraan.

Hal lainnya yang menjadikan seseorang menutup telinga adalah rasa takut akan dikritik. Berusaha untuk bersikap bodo amat terhadap kata-kata orang merupakan sebuah usaha untuk terhindar dari lingkaran yang toxic. Di sisi lain, ada orang yang merasa ingin membantu orang lain yang datang kepadanya dan menceritakan masalah yang dia hadapi. Dia seakan mendengarkan, tapi terpacu uang terus berbicara dan memberi saran seolah-olah sarannya itu paling dibutuhkan saat orang tersebut sedang bermasalah.

Compassionate listening, keterampilan penting dalam proses komunikasi

Ilustrasi | Foto: Unsplash/Joshua Olsen
info gambar

Memiliki keterampilan komunikasi yang baik atau public speaking memang dibutuhkan dalam proses komunikasi. Namun, untuk menjadi pendengar yang baik dan memiliki compassionate listening juga jauh lebih penting.

Dengan menjadi seorang pendengar yang baik dan mendengarkan secara aktif, kita mampu mendengarkan cerita, keluh kesah, hingga memberikan saran dan respon terbaik yang ditujukan sesuai dengan keluhan permasalahan yang kita alami lebih dari sekedar ngobrol biasa.

Menjadi pendengar yang baik merupakan keterampilan yang dapat memelihara hubungan sosial, menjadi lebih kuat bukan hanya hubungan percintaan. Berikut tips menjadi seorang pendengar yang baik dengan compassionate listening.

Pentingnya Critical Reading dan Listening dalam Menyongsong Masa Depan

1. Membantu meringankan beban orang lain

Beban di sini artinya keluhan yang dirasakan oleh si lawan bicara. Sebagai pendengar yang baik, kita datang untuk meringankan keluh kesah yang menyesakkan di dalam dadanya. Seni compassionate listening membantu kita untuk mendengarkan secara aktif atas cerita yang ia sampaikan.

Kemudian, kita sebagai pendengar berusaha untuk memposisikan diri kita ketika seandainya dihadapkan pada posisi serupa. Seorang pendengar yang baik datang dengan satu tujuan yakni meringankan penderitaan yang kita rasakan. Kita juga sebagai pendengar juga berusaha memberikan respon positif sebisa mungkin tanpa menyudutkan siapapun.

2. Mendengarkan lebih dari sekadar mendengar

Banyak orang yang memiliki pandangan berbeda tetapi pandangan yang ia sampaikan itu tidak sepenuhnya bisa diterapkan disemuanya. Mereka sibuk dengan koar-koarnya sehingga jadi lupa kalau pendapatnya seakan paling benar. Padahal belum tentu.

Misalnya dalam sebuah seminar, rendahnya kemampuan mendengar digambarkan dengan seorang pewawancara menanyakan pertanyaan kepada narasumber. Narasumber ini sudah menjawabnya dengan panjang lebar.

Kemudian si pewawancara menanyakan pertanyaan lainnya yang sebenarnya pertanyaan itu sudah dijelaskan pada pertanyaan sebelumnya. Seni compassionate listening membantu kita kalau mendengarkan itu lebih dari sekadar mendengar. Dengarkan dahulu pembicaraan sampai selesai, baru lontarkan pertanyaan lain yang tidak menjurus.

3. Bedakan mana yang mendengar dan memang mendengarkan

Ilustrasi | Foto: Unsplash/Priscilla Du Preez
info gambar

Rendahnya kemampuan mendengarkan juga diperparah dengan omongan orang yang terkesan menyakitkan. Kawan pasti sering menemukan sebuah seruan di sekolah atau kuliah, bahkan di lingkungan kerja sehingga orang terkesan resisten ketika diminta untuk mendengarkan.

Dengan demikian, compassionate listening juga merupakan sebuah seni untuk mendengarkan. Jika ingin didengar ceritanya, silakan dengarkan. Yang baik ambil, yang buruk silakan dibuang.

Seberapa Penting Social Skill untuk Pengembangan Kariermu?

4. Membangun compassionate listening dengan latihan sederhana

Untuk meningkatkan kepekaan dalam mendengarkan, coba ikuti cara ini. Lakukan latihan dengan siapapun yang ingin Kawan jadikan lawan bicara. Bebas mau teman atau rekan kerja yang sekiranya bersedia untuk tandem.

Luangkan waktu beberapa menit untuk mendengarkan apa yang ingin dikatakan orang lain. Namun, sebelumnya tanyakan juga pada dirimu sendiri. Usahakan temannya jangan merespon dengan kata-kata, dengarkan saja dulu sampai selesai. Bagi lawan bicara, silakan untuk memakai gestur atau mimik kepada lawan bicaranya, tetapi jangan disela atau dipotong pembicaraannya.

5. Butuh konsentrasi

Ilustrasi | Foto: Unsplash/Engin Akyurt
info gambar

Menjadi seorang pendengar yang baik dan mendengarkan secara aktif pastinya butuh banget yang namanya konsentrasi. Terkadang orang-orang abai dengan konsentrasi ini, seakan buru-buru buat cepat ganti topik pembicaraan tanpa didengerin lebih lanjut.

Terkadang juga orang merasa tidak nyaman apabila di tengah-tengah pembicaraan dipotong obrolannya sehingga tidak efektif. Maka dari itu, membangun konsentrasi merupakan hal yang sangat penting ketika kita mendengarkan pembicaraan orang.

Compassionate listening mengajarkan kita untuk peka terhadap cerita yang disampaikan oleh si lawan bicara dan berusaha melibatkan diri ada di posisi serupa. Dengan mendengarkan secara aktif dan menjalin komunikasi secara intens, tidak perlu merasa canggung dan terburu-buru untuk beralih pembicaraan ke topik baru.

6. Kehadiran pendengar yang baik menjadi kado terindah untuknya

Kunci dari compassionate listening adalah try to understand, not problem-solve. Untuk menjadi pendengar yang baik, kita harus memiliki sikap rendah hati dan murah hati. Mendengarkan secara efektif dan penuh kasih membutuhkan fokus yang kuat pada orang yang berbicara.

Terkadang, hal tersulit dari compassionate listening bahwa kamu memposisikan sebagai orang yang mendengarkan bukan orang yang sedang mengalami masalah. Jika Kawan berpegang pada keyakinan bahwa sedang tidak baik-baik saja, mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana perasaannya.

Bukan hanya berdiam diri dan membiarkan telinga mendengarkan. Melalui komunikasi dengan cara ini, Kawan mengundang orang lain untuk benar-benar menjadi diri sendiri dengan cara yang otentik dan organik.

Sering dikatakan bahwa hadiah terbesar yang dapat diberikan seseorang kepada teman adalah hidup mereka merasa nyaman dengan kehadiran pendengar yang baik. Ada banyak cerita tentang orang-orang yang telah memberikan hidup mereka agar mereka dapat bertahan hidup.*

Referensi:Psychology Today | Counselling & Wellness Center of Pittsburgh

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RM
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini