Hopjes, Permen Kopi Jadul Peninggalan Belanda yang jadi Pendahulu Kopiko

Hopjes, Permen Kopi Jadul Peninggalan Belanda yang jadi Pendahulu Kopiko
info gambar utama

Kawan pasti kenal dengan Kopiko, jenama permen kopi asal Indonesia yang telah mendunia lewat pasar ekspor. Kopiko berkali-kali viral diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia. Contohnya, saat dibawa ke luar angkasa sebagai bekal astronaut NASA atau saat muncul dalam adegan drama Korea Vincenzo, Mine, dan Hometown Cha-Cha-Cha sebagai iklan. Saking populernya, Kopiko menjadi sinonim dari permen kopi di Indonesia.

Namun, tidak banyak yang tahu jika permen kopi telah menjadi kudapan populer di negeri ini jauh sebelum Kopiko dipasarkan pada 1982 oleh PT Mayora Indah. Permen kopi tersebut dikenal sebagai 'Hopjes' dan kehadiranya tidak terlepas dari pengaruh kolonialisme Belanda yang menjadi negara asalnya.

Rupa Hopjes (baca: hopye) adalah permen persegi berwana coklat yang terbuat dari susu, karamel, serta ekstrak kopi. Teksturnya keras dan akan melunak saat berada di mulut. Ciri khas lainya, Hopjes selalu dikemas dengan kertas pembungkus makanan.

Kelompok Mahasiswi Asal Yogyakarta Olah Kulit Salak jadi Permen Anti Diabetes

Asal mula permen Hopjes

Hopjes di Belanda khas dengan kemasan kaleng yang semarak | Foto: heavenly-holland.com
info gambar

Ada beragam versi mengenai asal mula Hopjes, tetapi semuanya menyinggung tentang penciptaanya yang tidak disengaja. Menurut Timo Waarsenburg dalam buku Heerlijk Haags: of de geschiendenis van het Haagsche Hopje, di Den Haag tinggal seorang diplomat Belanda yang juga pecinta kopi bernama Baron Hendrik Hop (1723-1808).

Suatu hari, Hop tidak sengaja menciptakan permen dari secangkir kopi, krim, dan gula yang ditinggal semalaman di atas penghangat ruangan. Ketika Hop dilarang mengonsumsi kopi karena alasan kesehatan, ia meminta bantuan kepada pembuat roti bernama Theodorus van Haaren yang tinggal di lantai bawah rumahnya.

Kepada Haaren, Hop meminta permen ciptaanya diproduksi agar ia dapat menikmati rasa khas kopi tanpa harus meminumnya. Permen tersebut kemudian populer dan diberi nama dari Hop atau lebih lengkapnya haagsche hopjes (hopjes asal Den Haag).

Hopjes kemudian dijual dalam kemasan kaleng timah yang bahan bakunya berasal dari wilayah jaajahan Belanda saat itu, Hindia Belanda. Hingga kini, rumah Hop masih berdiri sebagai titik bersejarah di Den Haag dan hopjes menjadi buah tangan khas dari kota tersebut.

Personal Boundaries, Membangun Jarak Antara Diri Sendiri dan Orang Lain

Masuknya Hopjes ke nusantara

Peredaran hopjes di Indonesia adalah salah satu contoh pengaruh kolonial dalam kuliner | Foto: Dokumentasi Pribadi
info gambar

Masuknya Hopjes ke nusantara adalah bagian dari pengaruh kolonialisme Belanda yang turut merambah bidang kuliner. Muncul berbagai jenama hopjes dari dalam negeri. Seiring perkembangan zaman, kepopuleran hopjes meredup tetapi tidak serta merta punah dari peredaran. Produsen yang masih eksis di antaranya Jamin Haagsche Hopjes di Jakarta, Sumber Hidup (SH) di Probolinggo, dan Mia Nada Hopjes di Semarang.

Mia Nada sendiri dirintis sekitar tahun 1940 oleh Oen Djioe Nio, istri dari pemilik pabrik kopi Margo Redjo. Menurut surat kabar De Locomotief terbitan 1947, Margo Redjo sempat memimpin produksi kopi di seluruh Hindia Belanda pada tahun 1929. Terletak di kawasan bersejarah Pecinan Semarang, pabrik kopi yang juga menjadi lokasi pembuatan hopjes tersebut telah beroperasi sejak 1915 dan kini diteruskan oleh generasi ketiga.

Sama seperti Margo Redjo, Mia Nada juga pernah merasakan masa jaya ketika peredarannya mencapai Jakarta, Bandung, hingga Surabaya. Setiap menjelang Natal, Oen juga kerap membagikan hopjesnya pada anak-anak di sekolah. Mia Nada kemudian berhenti diproduksi sekitar 1960 dan baru dihidupkan kembali oleh generasi kedua, Inge, pada tahun 2007 setelah menemukan resep Hopjes peninggalan mendiang ibunya.

Melihat Status dan Upaya Konservasi Penyu di Indonesia

Pembuatan Hopjes Mia Nada kini masih mempertahankan cara-cara manual seperti tahapan produksinya dulu. Mulai dari memasak adonan, memotong permen, hingga mengemas permen dengan kertas.

Misalnya saat memotong permen, dibutuhkan perhitungan waktu yang tepat sebelum adonan mengeras. Peralatan dapurnya pun sebagian masih asli yang digunakan sejak dahulu.

Tiga varian yang tersedia dibedakan sesuai warna pembungkus kertas ialah hitam untuk rasa orisinal atau kopi, coklat untuk jahe, dan merah untuk teh. Selain dipasarkan secara daring, Mia Nada tersedia dalam takaran ons di Toko Oen, toko roti tertua di Kota Semarang yang beroperasi sejak 1936. Tertarik untuk mencoba permen Hopjes?*

Referensi: Waarsenburg, T., (2014). Heerlijk Haags: of de geschiendenis van het Haagsche Hopje. De Nieuwe Haagsce & De Companje | Situs Mayora.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FW
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini