Ketika Cendol Elizabeth Diandalkan dalam Diplomasi Cendol RI dengan Inggris

Ketika Cendol Elizabeth Diandalkan dalam Diplomasi Cendol RI dengan Inggris
info gambar utama

Baru-baru ini, salah satu jenis kuliner daerah berupa minuman menyegarkan yang berasal dari wilayah Bandung mencuri perhatian masyarakat Indonesia, yaitu es cendol yang secara spesifik dimiliki oleh salah satu merek pembuat cendol ternama, yakni Cendol Elizabeth.

Setelah ditelusuri, minuman tersebut ternyata banyak diperbincangkan saat Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjadikan cendol sebagai salah satu jamuan istimewa yang disuguhkan kepada Menteri Luar Negeri Inggris, Elizabeth Truss, saat berkunjung ke Kota Bogor, Jawa Barat.

Bukan kali pertama, sebenarnya model diplomasi seperti ini kerap dilakukan oleh Gubernur yang sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Wali Kota Bandung tersebut. Selain cendol, berbagai potensi tanah air yang pernah dijadikan sebagai objek diplomasi oleh Kang Emil--sapaan akrab Ridwan Kamil--kepada negara lain, di antaranya kopi dan batik.

Tak kalah menghasilkan reaksi luar biasa dari perwakilan negara yang terlibat, pada ‘Diplomasi Cendol’ kali ini Menlu Inggris bahkan dengan terbuka menawarkan minuman tersebut untuk dijajakan pada restoran yang berada di London.

Berkat "Cendol" Forum Online Asli Indonesia Raih Penghargaan di Singapura

Cendol Elizabeth dan nama yang istimewa di Inggris

Disambut dengan penuh kehormatan di Gedung Creative Center Kota Bogor, Jumat (12/11), kunjungan Menlu Inggris ke kota hujan tersebut sebenarnya didasari dengan peluncuran program Nurture to Scale a scale up programmers for Indonesian startups, yang terjalin antara Pemprov Jawa Barat dan Inggris.

Dalam selingan kunjungan tersebut, rombongan Inggris kemudian disuguhkan jamuan istimewa berupa es cendol Elizabeth yang terkenal sebagai jenama kuliner cendol asal Bandung.

Ketika disuguhkan, Menlu Elizabeth Truss diketahui merasa senang ketika menikmati minuman menyegarkan yang memiliki nama sama dengan dirinya.

“Kami sangat berbangga dan dapat kehormatan kunjungan Menteri Luar Negeri Inggris Elizabeth Truss, dan yang paling istimewa beliau senang sekali meminum cendol itu yang utama. Ternyata ada cendol elizabeth yang terkenal di Jabar dan nama beliau adalah Elizabeth,” tutur Ridwan Kamil.

Bukan hanya Menlu Inggris, tak dimungkiri bahwa di kalangan masyarakat Indonesia selama ini pasti akan langsung teringat akan negara tersebut apabila menikmati atau mendengar nama cendol elizabeth.

Di Inggris, 'Elizabeth' nyatanya merupakan nama yang umum digunakan dan cukup istimewa, terutama jika mengingat bahwa nama tersebut merupakan nama turun-temurun dalam silsilah keluarga kerajaan untuk Ratu Inggris.

Berhasil membuat suasana obrolan menjadi lebih cair dan santai, Kang Emil bahkan mengungkap jika Menlu Inggris pada akhir pertemuan menawarkan agar es cendol bisa dijual di berbagai restoran yang berada di negaranya.

“Jadi beliau meminta kalau bisa buka restoran di London ada cendolnya lah itu tentang diplomasi cendolnya.”

Akan semakin menarik dan membanggakan jika memang cendol elizabeth bisa mendunia hingga ke Inggris, bagaimana sebenarnya awal mula muncul nama cendol elizabeth dan hal apa yang membedakan merek satu ini dengan cendol lainnya?

Cendol dan Dawet, Serupa tapi tak Sama

Sudah hadir sejak tahun 1972

Cendol Elizabeth pusat
info gambar

Meski di beberapa daerah dikenal dengan nama cendol, namun di sejumlah daerah tanah air lainnya ada juga yang menyebut minuman satu ini dengan nama dawet. Berbeda nama, sebenarnya jenis dan bentuk keduanya hampir sama.

Cendol atau dawet lebih merujuk kepada gumpalan menyerupai agar-agar berwarna hijau yang terbuat dari tepung beras atau tepung beras ketan. Warna hijau didapat dari sari daun suji atau daun pandan yang dicampurkan dalam proses pembuatannya.

Saat sudah jadi, cendol atau dawet, umumnya disajikan dengan parutan es batu atau butiran es batu biasa, kemudian dicampur dengan air santan dan gula merah cair sebagai pemanis.

Menilik riwayatnya, nama elizabeth ternyata memiliki kaitan dengan jenama fesyen lokal yang juga asli buatan Indonesia, yaitu Elizabeth yang didirikan oleh Handoko Subali dan Elizabeth Halim.

Melansir Liputan6.com, generasi pertama kehadiran cendol yang sudah terkenal ini dimulai dari sosok pria bernama Rohman asal Pekalongan yang ikut membantu pamannya berjualan cendol di Bandung.

Setelah berhasil mengumpulkan uang dan memiliki gerobaknya sendiri, Rohman kemudian menjajakan cendol dengan berkeliling kemudian menetap di satu tempat yang berada di kawasan Leo Genteng, Astana Anyar.

Tempat yang dimaksud nyatanya merupakan kediaman dari pendiri tas Elizabeth, yaitu Elizabeth Halim. Singkat cerita, saat sudah cukup akrab dengan pendiri tas Elizabeth, Rohman ikut menjajakan dagangan cendolnya di depan toko tas Elizabeth yang pertama kali berada di Jalan Ciatel No. 15.

Berlatar belakang kondisi yang tidak bisa membaca karena tidak sekolah sejak Sekolah Dasar, diceritakan bahwa setiap pengunjung yang ingin membeli es cendol milik Rohman akhirnya selalu membuat pesanan ke dalam toko tas secara bersamaan.

Kejadian tersebut yang akhirnya membuat es cendol milik Rohman ikut dinamai es cendol elizabeth.

“Sudah aja Man, cendolnya sekalian namain Cendol Elizabeth”, ujar pemilik toko tas Elizabeth waktu itu, menurut penuturan Nur Hidayah, putri kedua Rohman.

Semenjak saat itu, cendol yang dijual oleh Rohman pada akhirnya lebih dikenal dengan nama cendol elizabeth.

Semakin mendapat banyak pengunjung, diketahui bahwa mulai tahun 1982 Rohman menyewa sebuah lahan seluas 3x3 meter di jalan Inhoftank. Tempat yang secara detail berada di Jalan Inhoftank No.64 tersebut dikenal sebagai lokasi es cendol elizabeth pusat dan tak pernah sepi pengunjung.

Bahkan hingga saat ini, es cendol elizabeth sudah memiliki jaringan penjual yang tersebar di beberapa kota besar mulai dari Palembang, Jambi, dan Surabaya, baik dalam bentuk warung kecil dan gerobak sederhana.

Tenang Dulu, Ini Perbedaan Cendol Singapura dan Cendol Indonesia!

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini