Kisah Kota Dolar, Ketika Majalaya Berjaya Melalui Industri Tekstil

Kisah Kota Dolar, Ketika Majalaya Berjaya Melalui Industri Tekstil
info gambar utama

Pada satu waktu, suara riuh mesin tenun sudah semarak sejak pagi hari dari rumah-rumah warga. Memamfaatkan alat tenun sederhana yang disebut tustel atau Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), para perajin yang didominasi oleh perempuan begitu giat bekerja.

Para perajin ini dengan tangan-tangan terampilnya tidak hanya menghasilkan pakaian yang berkualitas. Tetapi membuat Kecamatan Majalaya, Bandung, Jawa Barat dengan industri tekstilnya pernah dijuluki Kota Dolar.

Industri tenun di Hindia Belanda memang mulai berkembang setelah pemerintah kolonial membuat Textiel Inrichting Bandoeng (TIB) --kini menjadi Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil-- pada 1922. Tujuan pendiriannya memang untuk mengembangkan teknik dan peralatan tenun.

Setelahnya mulai banyak pelatihan yang dilakukan kepada warga sekitar, apalagi saat itu Bupati Bandung Raden Adipati Aria Wiranatakoesoema mendukung TIB sehingga mampu menjaring minat penduduk sekitar.

Kemudian pada 1927, alat tenun baru didemonstrasikan dan diyakini bisa bekerja lebih efektif dan efisien. Perajin perempuan disebut menjadi pemeran penting dalam penyebaran teknik tenun baru ini

Sementara itu pada 1929, di Majalaya kemudian dibangun industri tenun skala besar, pabrik ini memiliki 30 alat tenun. Pada tahun-tahun berikutnya, TIB terus memproduksi ribuan alat tenun yang menyebar hingga daerah luar kota.

Depresi ekonomi dunia pada 1930, ternyata memberikan dampak positif kepada industri tekstil. Pasalnya industri perkebunan yang bergantung pada ekspor menjadi sangat terguncang karena terdampak depresi.

Karung Tepung Terigu Indonesia Ini Disulap jadi Kaos. Terkenal di New York Fashion Week 2020!

Akibatnya mayoritas para petani kemudian beralih profesi ke sektor lain untuk mencukupi kebutuhan hidup. Dari sinilah banyak masyarakat yang mulai ikut pelatihan TIB dan menjadi tonggak awal melesatnya industri tekstil.

Pada 1938, setelah depresi berakhir industri tekstil telah mengalami perkembangan pesat. Di Bandung saja, dicatat ada 1700 pabrik pemintalan kecil dengan 12.000 alat tenun dan 32.000 pekerja.

"Mayoritas pabrik itu menjadikan sarung sebagai hasil produksi utama," tulis Rifai Shodiq Fathoni dalam artikelnya berjudul Kota Dolar: Industri Tekstil di Majalaya Abad ke-20.

Rifai menjelaskan, pemodal China menjadi pemeran penting dalam meningkatnya industri tekstil di Majalaya. Dari rentang tahun 1930 sampai 1940 an awal, pemodal China bisa mengontrol 36 persen alat tenun tangan di Bandung.

Mereka kemudian melebarkan pengaruh ekonominya kepada masyarakat, seperti mendirikan usaha-usaha tenun kecil, ada juga yang membeli usaha tenun pengusaha lokal, atau mengendalikan usaha berskala kecil ini dengan sistem bakul.

"Pada 1942, broker China makin mendominasi dengan memegang kontrol 77 persen atas pabrik-pabrik kecil," sebutnya.

Geliat industri tekstil Majalaya sempat berhenti sejenak saat pemerintah Jepang menjajah Hindia Belanda. Apalagi pada 1944, banyak alat tenun yang dirampas untuk kemudian disalurkan menuju Malaya, Burma, dan negara lain yang dikuasai Jepang.

"Di Majalaya sendiri sekitar 5000 tenun dirampas dan pada akhir perang hanya tersisa 25 persen peralatan."

Kejayaan industri tekstil Majalaya

Industri Tekstil Majalaya (Commons Wikimedia)

Pasca penyerahan kedaulatan kepada Indonesia, industri tekstil kembali menggeliat. Apalagi saat itu pemerintah Indonesia menetapkan industri ini menjadi kendaraan penting bagi perkembangan ekonomi masyarakat.

Hasilnya tidak salah, Industri tekstil mencapai puncaknya pada awal tahun 1960-an dan Majalaya mampu memproduksi 40 persen dari total produksi kain di Indonesia. Bahkan sampai menembus pasar ekspor ke beberapa negara lantaran kualitas produknya yang kompetitif.

Sedikitnya satu juta kain dipesan kepada perajin tenun Majalaya, baik berupa sarung, maupun lembaran kain yang diproduksi secara tradisional.

"Pencapaian itu menyebabkan kota Majalaya disebut sebagai Kota Dolar dan tahun-tahun tersebut merupakan masa keemasannya," tulis Hans Antlov dan Tommy Svensson dalam buku berjudul From Rural Home Weavers to Factory Labour: The Industrialization of Textile Manufacturing in Majalaya.

Selain itu berkembangnya teknologi membuat Majalaya menguasai 25 persen dari 12.882 alat tenun mesin di Jawa Barat. Bahkan pada 1964 pemerintah ingin menjadikan kota ini sebagai daerah pemenuh kebutuhan sandang nasional.

Karena itu pemerintah mulai melakukan beragam langkah untuk melindungi sektor industri tekstil, salah satunya dengan program benteng. Tujuan untuk melindungi para pengusaha lokal dengan ancaman bisnis dari pengusaha luar.

11 Desainer Indonesia Akan Pamerkan Busana Muslim di New York

Ada juga badan induk tekstil pada 1956 yang bertujuan untuk membantu perdagangan, standardisasi, dan teknologi industri lokal. Mereka juga membentuk koperasi desa di Majalaya untuk mengurangi pengaruh dominasi pedagang China.

Tetapi tetap saja industri lokal ini masih sangat bergantung kepada bahan mentah yang distribusikan oleh broker China. Hal ini diperparah dengan tidak stabilnya kondisi politik pada 1967, membuat pemerintah tidak mampu memberi proteksi dan kredit.

"...Menyebabkan perkembangan pengusahan lokal terhambat dan jumlah pabrik orang-orang Sunda yang mandiri pun makin berkurang," tutur Rifai.

Kondisi industri tekstil lokal kembali mendapat pukulan setelah Rezim Orde Baru (Orba) mengeluarkan UU No. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA). Akhirnya karena tidak mampu bersaing, banyak pabrik-pabrik lokal di Majalaya dijual kepada pemodal asing.

"Hingga akhirnya hanya tersisa 11 persen dari perusahaan tenun yang dimiliki dan dikontrol langsung oleh pebisnis lokal, sementara mayoritas pabrik dijadikan bawahan oleh perusahaan besar China."

Memang dalam waktu satu dekade, perkembangan teknologi yang begitu cepat menimbulkan petaka bagi industri tekstil Majalaya. Mereka tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi karena masih tetap menggunakan alat tenun tradisional.

Hingga akhirnya pada 1970 sampai 1980, industri tekstil Majalaya yang pernah jaya akhirnya mandek. Sejak akhir 1990 hingga sekarang kondisi pabrik tekstil di daerah ini juga makin menurun, terutama pada skala menengah ke bawah yang memang didominasi oleh pengusaha lokal.

Dari kota dolar menjadi kota dokar

Dipaparkan oleh KONTAN (h/t Pemeriksaan Pajak), ada beberapa faktor yang membuat industri tekstil di Majalaya kehilangan pamor. Hal yang pertama adalah kurangnya pemasaran.

Misalnya seperti sarung dan kain mentah Majalaya mulai tergantikan karena pedagang lebih memilih produk dari China. Apalagi dengan adanya pasar bebas membuat produk Majalaya tidak lagi kompetitif.

Lalu kedua adalah biaya produksi yang membengkak. Adanya kenaikan dan mahalnya bahan baku impor sekaligus kenaikan tarif listrik telah membebani pengusaha. Apalagi janji pemerintah untuk memberikan subsidi listrik kepada industri rakyat pun jauh panggang daripada api.

“Pemerintah bilang ada diskon tarif listrik dan insentif untuk impor bahan baku, tetapi kami tak pernah merasakan manfaatnya,” gerutu Ikin salah satu pedagang di Majalaya.

Permasalahan lainnya adalah kondisi mesin tekstil yang masih tradisional pun menjadi sebuah kendala. Sementara itu untuk membeli mesin baru para pedagang akan terkendala dengan modal.

Muhamad Romli, salah satu perajin mengaku cukup sulit untuk membeli mesin baru. Pasalnya harganya bisa mencapai Rp1 miliar per unit, tentunya mereka akan merogoh kocek lebih dalam bila harus mengganti puluhan unit.

“Perbankan pun enggan mengucurkan pinjaman modal, karena risiko bangkrut di industri tekstil sangat besar,” keluhnya.

#TukarBaju Yogyakarta: Solusi Perpanjang Umur Tekstil

Akhirnya tidak aneh, bila para perajin kemudian memutuskan untuk menggulung tikar. Memilih profesi lainnya untuk bertahan hidup daripada membangkitkan industri tekstil yang sedang menuju senjakala.

"Sekarang, Majalaya bukan Kota Dolar lagi, tetapi Kota Dokar, karena yang asalnya mesin tenun di mana-mana, kini menjadi dokar atau delman yang di mana-mana," ujar Camat Majalaya Ajat Sudrajat, menukil Tribunews.

Sekarang yang tersisa dari Majalaya adalah kisah kesuksesan mereka pada puluhan tahun silam. Kisah kejayaan ini terukir indah menjadi monumen yang tersebar di alun-alun Kota Majalaya.

Sementara para perajin mulai terpinggirkan dan jauh dari hiruk pikuk pabrik-pabrik tekstil berskala besar dengan modernitas teknologi. Sembari tekun memintal alat tenun yang pernah puluhan tahun memberikan kejayaan pada mereka.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini