Istimewanya Sumbu Filosofis dalam Tata Letak Kota Yogyakarta

Istimewanya Sumbu Filosofis dalam Tata Letak Kota Yogyakarta
info gambar utama

Penulis: Rangga Hadi Firmansyah

Jika Kawan pernah mengunjungi Kota Yogyakarta, pasti Kawan tidak asing dengan Keraton Yogyakarta, Tugu Pal Putih, hingga Gunung Merapi. Kawan tahu enggak, sih, ternyata antara Keraton, Tugu Pal, dan Gunung Merapi letaknya sejajar, loh!

Ketiga landmark Kota Yogyakarta tersebut berdiri di satu garis lurus yang sejajar, dan bahkan tidak hanya tiga landmark itu saja. Masih ada beberapa landmark Kota Yogyakarta lain yang dibangun sejajar.

Tata letak Kota Yogyakarta yang unik ini disebut juga dengan “Sumbu Filosofis”. Penataan kota berdasarkan sumbu filosofis ini tidak asal-asalan, loh! Ada makna filosofis yang sangat dalam dan juga sejarah yang panjang. Penasaran? Simak terus artikel ini, ya!

Hopjes, Permen Kopi Peninggalan Belanda yang jadi Pendahulu Kopiko

Tata letak kota yang unik

Tugu Pal Putih│jauzax/Unsplash
info gambar

Penataan Kota Yogyakarta memang dibuat sedemikian rupa dengan memperhatikan nilai-nilai filosofis yang tinggi. Termasuk, penerapan sumbu imajiner yang membentang lurus dari selatan ke utara Yogyakarta.

Dimulai dari ujung selatan terdapat Pantai Parangkusumo, kemudian di sisi sebelah utara dari Pantai Parangkusumo terdapat Panggung Krapyak. Dari Panggung Krapyak kemudian lanjut ke utara hingga ke Keraton, Tugu Pal Putih, dan terakhir Gunung Merapi yang berdiri gagah di ujung utara. Semua urutan tempat tersebut benar-benar membentuk sebuah garis lurus yang ditarik dari ujung selatan ke ujung utara.

Penggagas penataan Kota Yogyakarta berdasarkan sumbu filosofis ini adalah Sri Sultan Hamengkubuwono I, yang juga adalah sultan pertama dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sri Sultan Hamengkubuwono I yang memerintah dari tahun 1755 hingga tahun 1792 memang dikenal sebagai seorang yang visioner,. Bahkan, penataan kota yang ia ciptakan pada abad ke-18 masih relevan setelah 3 abad diciptakan.

Septoyo dan Lia Putrinda, Pengawal Kelestarian Alam Pesisir Pantai Sendangbiru

Sumbu imajiner sarat akan makna filosofis kehidupan

Gunung Merapi │ Foto: 3422763/Pixabay
info gambar

Seperti yang telah dibahas di atas, sumbu imajiner dalam penataan Kota Yogyakarta ini memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Makna filosofis dari sumbu imajiner ini adalah tentang keseimbangan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

Lebih dari itu, sumbu imajiner ini juga memiliki makna yang dalam terhadap setiap fase kehidupan manusia yang dimulai dari manusia lahir hingga manusia kembali ke Sang Pencipta. Dari Pantai Parangkusumo di ujung selatan hingga ke sisi sebelah utara di Panggung Krapyak adalah simbol dari fase kehidupan pertama manusia, yaitu fase saat manusia baru lahir hingga menginjak masa remaja.

Kemudian, urutan sumbu filosofis berikutnya adalah dari Panggung Krapyak menuju Keraton Yogyakarta, mewakilkan fase kehidupan manusia selanjutnya, yaitu masa pendewasaan dari masa remaja menuju masa dewasa.

Fase selanjutnya, saat seorang manusia dewasa telah menyerahkan dirinya kepada Sang Pencipta. Fase ini disimbolkan oleh sumbu yang ditarik dari Keraton hingga ke Tugu Pal Putih. Tugu Pal Putih ini juga merupakan simbol dari “Manunggaling Kawula Gusti”.

Fase terakhir, ketika kehidupan manusia telah berakhir dan menjadi satu dengan Sang Pencipta. Fase ini disimbolkan oleh sumbu yang ditarik dari Tugu Pal Putih hingga ke Gunung Merapi.

Tahun 2022 Bandara Soekarno Hatta Gunakan Tanda Pengenal Wajah

Sumbu filosofis kebanggaan masyarakat Yogyakarta

Prajurit Keraton Yogyakarta │ Foto: FaranoGunawan/Unsplash
info gambar

Sumbu filosofis ini adalah sebuah kebanggaan bagi masyarakat Yogyakarta yang juga menjadi nilai budaya yang dipertahankan dari generasi ke generasi. Tidak hanya menjadi kebanggaan, sumbu filosofis ini juga menjadi pedoman hidup bagi beberapa masyarakat Yogyakarta yang masih menjunjung tinggi nilai luhur budaya Jawa.

Wah, ternyata di balik landmark yang menjadi destinasi wisata populer di Yogyakarta ada banyak kisah menarik, ya. Selama ini, Kota Yogyakarta tidak hanya memiliki keunikan penataan kotanya saja, ternyata di balik penataan kota yang unik itu juga ada makna filosofis yang sangat dalam.

Apakah Kawan suka dengan artikel ini? Jangan lupa untuk terus memantau media sosial GNFI agar tidak ketinggalan informasi menarik lainnya ya!*

Referensi:JogjapolitanBinus TourismKemendikbud

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini