Kisah Tombolotutu, Raja yang Pilih Mati Ketimbang Tunduk dengan Belanda

Kisah Tombolotutu, Raja yang Pilih Mati Ketimbang Tunduk dengan Belanda
info gambar utama

Sosok terpandang dan istimewa bagi masyarakat Sulawesi Tengah (Sulteng), Tombolotutu memperoleh anugerah gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo tahun ini. Tombolotutu merupakan raja dari Kabupaten Parigi Moutong yang menerima takhta kerajaan pada tahun 1877 dalam usia cukup belia, yaitu 20 tahun.

Dipaparkan oleh Kumparan, Tombolotutu merupakan raja yang yang memiliki komitmen tinggi dalam menumpas penjajahan Belanda.

Seperti disampaikan oleh Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando, pesan moral penetapan Tombolotutu sebagai pahlawan nasional adalah komitmennya menentang perjanjian dengan Belanda. Syarif mengisahkan, saat itu Tombolotutu tidak memberikan satu jengkal tanah dan satu gram emas di Sulteng kepada penjajah Belanda demi masyarakat.

"Kita beruntung dipimpin oleh turunan Raja Tombolotutu, beliau selaku Bupati Parigi Moutong adalah Raja Samsurizal Tombolotutu. Sehingga tugas kami baik dari tim pengkaji gelar pahlawan daerah maupun dari pusat adalah memastikan bahwa setiap orang ditetapkan sebagai pahlawan nasional memang adalah orang-orang yang telah berjuang pada masanya," kata pria yang menjadi Ketua Tim Pengkajian Pengusulan Gelar Pahlawan (TP2GP) Nasional.

Melansir Tempo, setelah penetapan Tombolotutu sebagai pahlawan nasional, pihak keluarga langsung melakukan acara syukuran. Pihak keluarga mengaku telah menempuh jalan panjang agar leluhurnya tersebut bisa diakui jasa-jasanya oleh negara.

Mengenal 4 Sosok yang Menyandang Gelar Pahlawan Nasional Baru

Memang banyak upaya yang dilakukan agar sosok kebanggaan masyarakat Sulteng ini diakui jadi pahlawan nasional. Apalagi diketahui upaya ini sudah dilakukan sejak tahun 1990 an, tetapi terkendala dokumen resmi sebagai data primer.

Pada 2014 sudah dilakukan beberapa seminar, salah satunya di Universitas Kebangsaan Malaysia. Para peserta seminar kemudian mendorong Dr Lukman Nadjamuddin dari Universitas Tadulako (Untad) untuk meneliti perjuangan Tombolotutu.

Selain itu dilakukan juga penelitian bersama antara Untad dengan Kabupaten Parigi Moutong soal perjuangan Tombolotutu saat melawan Belanda.

Akhirnya hasil penelitian yang dilakukan pada 2017 itu menelurkan sebuah buku berjudul Bara Perlawanan di Teluk Tomini, Perjuangan Tombolotutu melawan Belanda. Akibat buku itu, wacana agar Tombolotutu menjadi pahlawan nasional kembali intensif.

Tidak hanya dalam dunia akademis, masyarakat umum pun mendorong agar Tombolotutu menjadi pahlawan nasional. Apalagi melihat dari sejarah perjuangan Tombolotutu melawan Belanda, maka sosok ini dianggap layak dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

“Berdasarkan historis sejarah perlawanan Tombolotutu melawan Belanda, menurut saya Tombolotutu layak menjadi Pahlawan Nasional,”kata Taswin Borman tokoh masyarakat Kabupaten Parigi Moutong dikabarkan Parigimoutongkab.

Sosok pemimpin yang ditolak sejak awal

Tombolotutu yang kini telah resmi menyandang gelar pahlawan nasional secara silsilah merupakan anak dari Massu dan Pua Lara. Massau merupakan saudara tiri lain ibu dari Pondatu, Raja Moutong ke-4 (1881 -1892). Dalam catatan Kurais D. P. Masulili, jiwa kepahlawanan ternyata sudah dimiliki oleh Tombolotutu sejak belia. Terutama jiwa kepemimpinan dalam aktivitas keseharianya di Molosipat, tempat tinggalnya.

Menjelang abad ke-19, karena tekanan dari Belanda situasi di Moutong menjadi sangat sukar. Apalagi setelah perjanjian pada 1897, membuat kerajaan tidak bisa menentukan nasibnya sendiri melainkan ditentukan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Salah satunya terkait dengan pergantian kekuasaan kerajaan yang memang harus mengikuti perintah Belanda. Namun mulai muncul perlawanan dari masyarakat akibat dukungan Belanda kepada Daeng Malino, eksploitasi emas, dan penguasaan sumber daya alam.

Lima Tokoh Perjuangan Kemerdekaan RI Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

"Sejak awal, banyak yang meragukan legitimasi Daeng Malino dalam menduduki takhta, sebaliknya cenderung melegitimasi Tombolotutu yang selalu mendapat dukungan kuat dari “arus bawah”, karena sejalan dengan masyarakat atas penolakan terhadap sejumlah kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda," catat Lukman Nadjamuddin dalam tulisannya berjudul Tombolotutu dalam Pandangan Henri Hubert van Kol yang dikutip dari Mercusuar.

Dosen Pendidikan Sejarah FKIP Untad ini menyebut Tombolotutu saat itu juga tidak puas dengan kondisi sosial, politik, dan ekonomi akibat intervensi Belanda. Apalagi saat itu pembagian tanah pasini malah diubah menjadi lahan eksploitasi pertambangan perusahaan besar yang didukung oleh Belanda.

"Bagi Tombolotutu, tidak ada pilihan kecuali mengibarkan bendera perlawanan kepada Belanda dan berkomitmen mempertahankan Moutong sebagai kerajaan yang merdeka dari dominasi kolonial," bebernya.

Lebih memilih mati daripada menyerah

Menukil Tirto, sebagai upaya melawan pasukan Tombolotutu, Belanda mengirim pasukan Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) dari Gorontalo ke Moutong. Sementara itu Raja Tolombotutu dengan 600 pasukannya membangun pertahanan di daerah Kaili.

Pertempuran pertama kemudian pecah di Kaili, Tolombotutu harus kehilangan dua sekondannya, Laringgi dan Moloagu. Belanda sebenarnya mendapat perlawanan dari sekutu Tolombotutu yaitu Raja Banawa La Makagili Tomedoda.

Tetapi kemudian Belanda kembali memberangkatkan pasukan sebanyak 75 orang dari Makassar pada 15 Juli 1901. Kemudian baru bisa memadamkan perlawanan Tolombotutu setelah melakukan dua ekspedisi militer pada Agustus 1901.

Sementara CNN Indonesia menulis, untuk melawan pasukan Tolombotutu, Belanda sampai mengirimkan pasukan elite bernama Marsose. Total 170 pasukan elite diterjunkan Belanda untuk memburu Tolombotutu dan pengikutnya.

Pasukan Marsose merupakan tentara dari KNIL yang terlatih dan dididik khusus. Mereka sudah terlatih hidup di hutan dan mempunyai persenjataan yang lengkap.

Pasukan ini dibentuk untuk menumpas gerilyawan Aceh, mereka dikenal sangat kejam dan tanpa kenal ampun. Dalam catatan mereka juga yang telah menangkap Tjoet Nja' Dhien pada 1906.

Tetapi tetap saja pasukan Marsose ini sangat sulit untuk menangkap Tolombotutu dan pengikutnya. Kehebatan Tolombotutu, menurut masyarakat setempat bisa tercermin dalam perlawananya menghadapi pasukan Marsose.

Ini Dia Enam Tokoh yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional!

"Kita sudah bisa membayangkan bagaimana kekuatan Tombolotutu saat itu, meski dengan pasukan Marsose, Belanda tidak pernah berhasil menumpas Tombolotutu," kata Taswin.

Dalam cerita lainnya, Belanda melakukan berbagai cara untuk mengalahkan Tombolotutu salah satunya melemahkan Bolano. KNIL saat itu membakar kampung-kampung di sana juga menangkap Raja Makagili.

Ternyata hal ini berdampak kepada pasukan Tombolotutu, mereka mulai terdesak dan keteteran menghadapi KNIL. Apalagi mereka terus didesak mundur ke Toli-toli lalu pegunungan Tinombo.

Selain itu, mertua dari Tombolotutu menolak untuk membantu membuat keadaannya makin terdesak. Apalagi Tombolotutu perlu ditandu oleh para pengikutnya karena kakinya sakit saat melewati Pegunungan Donggulu.

Saat itulah Belanda mulai mengancam akan membunuh rakyat Donggulu bila tidak berhasil menangkap Tombolotutu. Pemerintah kolonial juga menjanjikan akan membebaskan rakyat dari pajak dan kerja paksa.

Karena kondisi inilah penguasa Donggulu memilih untuk berpihak kepada Belanda dan ikut melawan Tombolotutu. Mulai dari situlah, pasukan geriliya dari Tombolotutu terus melemah.

Militer Belanda kemudian berhasil mengepung tempat persembunyian Tombolotutu pada 1904. Pada masa krisis inilah, Tombolotutu meminta kepada pengikutnya untuk menusuknya dengan keris Locari miliknya.

Jenazah Tombolotutu lalu diurus oleh mertuanya dan dikubur di Toribulu. Memang bagi Tombolotutu, lebih baik mati daripada tunduk dan akhirnya ditawan oleh pemerintah Belanda.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini