Pencinta Buku Wajib Tahu, Bibliosmia Parfum Alami dari Buku

Pencinta Buku Wajib Tahu, Bibliosmia Parfum Alami dari Buku
info gambar utama

Hayo ngaku, pasti Kawan di sini suka cium-cium buku baru saat dibuka segelnya? Pasti tergiur dan tidak sabar untuk mengendus aromanya, bukan? Berbicara soal aroma buku, kalau sudah mencium wangi cetakan buku memang paling bisa ngebangun mood. Apalagi bagi Kawan para pecinta buku.

Pastinya aroma ini sudah tidak asing oleh kamu pembaca setianya. Para pecandu buku ketika sudah ingin segera mencium aromanya, jadi bikin kecanduan dan tidak bisa nolak.

Bisa dibilang pecandu buku yang ketagihan dengan semerbak wanginya bau buku dikenal dengan sebutan book-sniffer. Merujuk pada aroma sebuah kertas buku dan sensasi yang selalu mencuri perhatian pembaca buku, terbitlah istilah yang disebut dengan bibliosmia.

Asal-usul istilah Bibliosmia

Bibliosmia Pecinta Buku | Foto: IstockPhoto
info gambar

Dilansir dari situs Bobo, kata bibliosmia berasal dari bahasa Yunani untuk mengartikan kata “buku” dan “bau” atau “aroma”. Jika menyebut kata bibliosmia, kita langsung teringat pada kata bibliophile yang merujuk pada arti “kutu buku”.

Bibliosmia merupakan istilah yang disematkan oleh pecinta buku karena tidak akan ditemukan sensasinya di dalam e-book atau buku elektronik. Bisa dibilang bibliosmia ini adalah filianya para penyuka buku.

Bibliosmia dinilai sebagai pengalaman berharga ketika ingin membaca buku fisik. Bibliosmia juga menjadi alasan mengapa buku fisik masih tetap digemari hingga saat ini. Aroma yang ditimbulkan oleh kertas buku konon katanya berasal dari campuran senyawa kimia dari material kertas, lem, dan tinta.

Tidak heran, jika buku-buku yang dikeluarkan itu mengandung aroma yang terdapat di setiap halamannya akan menyebar dan melepaskan aroma yang berbagai macam. Sensasi aroma bibliosmia ini bisa Kawan temukan, baik di buku fisik baru maupun buku lama juga tidak ketinggalan.

Sulit Berkata Tidak? Ikuti 7 Langkah Efektif Berhenti jadi 'Yes Man'

Bibliosmia layaknya pluviophile

Rintik-rintik Hujan | Foto: Pixabay/Pexels
info gambar

Mengutip dari Agromedia.com, bagi para pecinta buku bibliosmia ini diibaratkan juga seperti mencium aroma tanah sehabis diguyur hujan atau dalam istilah filianya disebut pluviophile. Aroma hujan atau petrichor berhasil menghipnotis para penyukanya dan disukai banyak orang.

Begitupun dengan wangi buku yang berhasil merayu hidung para penyuka buku karena wewangiannya yang khas. Wanginya buku tidak akan pernah dapat tergantikan oleh apapun. Apalagi wanginya buku merupakan salah satu hal yang membuat kamu lebih suka membaca buku fisik daripada buku elektronik.

Namun, bedanya para pecandu bibliosmia ini merasakan aroma pada setiap halaman demi halaman buku. Aromanya pun awet sampai bertahun-tahun lamanya bahkan aroma ini juga ditemukan di buku yang sudah lapuk termakan usia.

Kalau aroma hujan cuma bisa dirasakan saat guyuran hujan tiba saja. Sensasinya yang bikin ketagihan ini benar-benar dilakukan berulang-ulang tiap mau baca dan selesai baca. Apalagi ketika sedang asyik membaca buku, sekelebat lewat aroma yang mengagetkan hidung.

Kedengarannya memang terlihat aneh aktivitas yang satu ini. Namun kenyataannya, tetap dilakukan dan terjadi pada pecinta buku maupun orang yang berniat ingin membeli buku. Bagi yang belum coba gimana sensasi aromanya, cobain deh!

Dukung Realisasi SDGs, Siswa SMA Indonesia Gelar Kompetisi Kewirausahaan Nasional

Dari mana aroma kertas berasal?

Buku-buku Tua | Foto: Suzy Hazelwood/Pexels
info gambar

Dilansir dari Situs Buku Gramedia.com, sebenarnya aroma yang ditimbulkan dari kertas buku ini disinyalir adanya gabungan senyawa kimia dalam kertas. Gabungan dalam senyawa yang ada dalam kertas buku seperti kandungan alami selulosa dan lignin yang berasal dari batang pohon (bahan utama penbuatan kertas).

Kandungan alami ini juga mengandung campuran senyawa kimia lainnya seperti benzaldehida, vanilin, etil heksanol, toluena, dan etil benzena. Tidak heran jika reaksi kimia yang terjadi dari berbagai senyawa ini, menghasilkan senyawa organik yang mudah menguap hingga baunya bisa tercium oleh kita si pembaca ketika sedang membaca.

Jika ditelusuri dari bahan utamanya, kertas dibuat dari kayu yang berasal dari pohon sehingga punya banyak senyawa organik seperti selulosa dan lignin. Senyawa yang terkandung dalam kertas ini bereaksi terhadap cahaya, panas dan kelembapan.

Jika dibiarkan lama, akan terurai dan melepaskan senyawa organik volatil yang mudah menguap. Nah, menguapnya senyawa inilah yang kemudian tersebar ke udara yang juga menyasar sampai ke hidung kita.

Berbicara soal bibliosmia, ternyata tidak semua buku bisa sama dari segi aroma maupun kandungan pembuatan kertasnya. Karakteristik aromanya pun juga setiap buku memiliki perbedaan.

Bibliosmia juga erat kaitannya dengan usia buku tersebut. Ketika usia buku masih baru alias masih segelan, aroma yang dikeluarkan masih fresh. Buku baru mengeluarkan aroma yang wangi karena didominasi dari tinta dan lem perekat yang berada di punggung bukunya.

Namun, semakin tua usia bukunya, makin kuat bau bibliosmia yang ditimbulkan. Biasanya kondisi ini ditemukan di perpustakaan umum atau perpustakaan kampus yang berjajar rak-rak buku tua. Saat bukunya sudah lapuk termakan oleh usia, kertasnya pun juga sudah mulai usang karena adanya proses kerusakan.

Buku yang masih terbilang baru belum mengalami proses penguraian senyawa seiring dengan berjalannya waktu. Bisa dikatakan buku baru belum ada proses pelapukan. Kemudian buku baru, ketika kimia disatukan dari tinta dan perekat yang terdegradasi dan bereaksi dengan oksigen maka akan mengeluarkan bau tersendiri.

Reaksi kimia gabungan antara tinta dan perekat dengan oksigen dalam istilah kimia disebut hidrolisis asam. Reaksi ini menghasilkan banyak senyawa dan terciptanya bibliosmia pada buku.

Pada buku yang sudah lama atau tua termakan usia, seluruh bahan kimia mengeluarkan aroma yang menunjukkan proses penuaan atau kerusakan dari senyawa yang telah dijelaskan tadi. Kawan pasti menemukan ada bercak kuning atau gradasi kuning yang ada pada buku-buku tua? Hal ini dikarenakan reaksi kandungan lignin yang bereaksi dalam jangka waktu yang lama.

Bibliosmia pada buku tua lebih terasa tercium aromanya. Proses bahan kimia dalam pembuatan buku ternyata juga memiliki kandungan yang berbeda. Seperti kandungan hidrogen peroksida untuk membuat kertas menjadi lebih putih, dan peranan kandungan lain seperti alkyl ketene dimers agar kertas jadi lebih tahan air.

Smart Farming, Solusi Ketahanan Pangan Hadapi Pandemi dan Perubahan Iklim

Habits bibliosmia sampai warisan dunia

Seorang Wanita Penjaga Toko Buku | Foto: Ichad Windhiagiri/Pexels
info gambar

Kebiasaan menghirup aroma buku oleh para book sniffer memang sudah menjadi kebiasaan atau habit orang-orang. Buku baru dianggap memiliki bau yang khas yang memberikan relaksasi ketika menghirupnya.

Mereka yang perhatian terhadap bau-bauan buku ini atau dikenal dengan sebutan book-sniffer terkadang tidak mengenal bukunya masih segelan atau sudah lama. Apalagi aroma-aroma seperti ini biasanya mudah dikenali oleh para pembeli yang berniat untuk membeli buku dan bagi orang-orang yang bekerja di toko buku dan percetakan.

Fakta yang mengejutkan adalah wanginya buku ternyata sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO. Hal ini dikarenakan bau bisa mempengaruhi ingatan kita.

Setiap buku yang kita baca atau kita beli memiliki aroma bibliosmia yang berbeda-beda. Melalui buku yang berbeda aromanya inilah juga menimbulkan kesan dan kenangan tersendiri bagi si pemiliknya.

Referensi:Situs Buku Gramedia | Agromedia | Bobo

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RM
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini