Poerbo Atmodjo, Bupati Pemerhati Lingkungan dan Arsitek Bendungan Zaman Belanda

Poerbo Atmodjo, Bupati Pemerhati Lingkungan dan Arsitek Bendungan Zaman Belanda
info gambar utama

Pada tanggal 22 Juli 1912 di Buitenzorg (Bogor), perkumpulan atas inisiatif Sijfert Hendrik Koorders didirikan dengan nama Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda (Nederlandsch Indische Vereeniging tot Natuurbescherming).

Organisasi ini beranggotakan himpunan orang-orang Belanda yang memiliki pengetahuan dalam bidang biologi (naturalis), para peneliti dan pemerhati lingkungan. Kegiatan mereka cukup progesif yaitu mendorong pemerintah Belanda untuk melindungi kekayaan alam Hindia Belanda.

Ternyata dari sekian nama besar yang menjadi anggota seperti Dr.F.C. Von Faber (Peneliti Kebun Raya Bogor), Karel Albert Rudolf Bosscha (Pimpinan Perkebun Teh Malabar), Peter Augistis Ouwens (mantan Direktur Museum Zoologi), Max Plescner (Kebun Raya Dehlem Berlin).

Terdapat juga satu nama pribumi yang masuk sebagai anggota yaitu Pangeran Poerbo Atmodjo, seorang Bupati Kutoarjo, Jawa Tengah yang juga arsitek bendungan dan pemerhati lingkungan (reboisasi hutan) untuk kemakmuran rakyat di daerahnya.

Birute Marija Galdikas, Sosok Kawan Sekaligus Pahlawan Bagi Orang Utan di Indonesia

Poerbo Atmodjo merupakan Bupati Kutoarjo/Regent van Kutoarjo yang memerintah pada dari tahun 1870-1915. Dalam catatan sejarah, Kutoarjo adalah kota kecil yang cukup ramai, awalnya bernama Semawung yang berumur lebih tua dari Purworejo yang dahulu bernama Brengkelan.

Poerbo Atmodjo lahir pada tanggal 20 Oktober 1849 di Ambal dan setelah menamatkan sekolah rakyat oleh ayahnya diusahakan agar kelak dapat bekerja di lingkungan Dinas Pamong Praja. Mula-mulanya dirinya belajar menjadi ahli juru ukur untuk memetakan daerah pertanahan.

Sejak muda Poerbo Atmodjo telah menyukai teknik bendungan air dan ilmu ukur. Selain karena telah berbakat dan memiliki pengetahuan teknis cukup, dirinya pun mendapat bimbingan dari ayahnya, R. A. A. Pringgoatmodjo.

Poerbo Atmodjo bersama Residen Bagelen kemudian mendapat kesempatan untuk melawat ke Kalkuta untuk mempelajari masalah pengairan/irigasi dan teknik bangunan pada bendungan Sungai Gangga.

"Setelah kembali, pengetahuan yang didapat dari India diterapkan di daerahnya untuk kepentingan irigasi pertanian dan menanggulangi banjir yang pernah melanda Kutoardjo," tulis Pandi Yudistira dalam buku Sang Pelopor - Peranan Dr. SH. Koorders dalam Sejarah Perlindungan Alam di Indonesia.

Sosok pembangun bendungan pada zaman kolonial

Sebagai seorang yang ahli dalam teknik bendungan air, Poerbo Atmodjo pernah diminta oleh R. A. A. Cokronegoro II untuk membangun bendungan di Sungai Bogowonto yang kemudian diberi nama Bendungan Boro.

Atas keberhasilan itulah, Poerbo Atmodjo diberikan jabatan sebagai Mantri Bendungan atau Mantri Pengairan. Luar biasanya, Bendungan Boro hingga kini masih terlihat kuat dan kokoh digunakan untuk mengatur pengendalian banjir dan saluran irigasi pertanian.

Padahal banyak yang mengira, pembangunan bendungan di Kutoarjo dan Purworejo ditangani oleh para ahli Belanda. Namun sejarah membuktikan bahwa sosok Poerbo Atmodjo merupakan aktor di balik pembangunan sebagian bendungan pada zaman Hindia Belanda.

"Hampir semua bendungan yang dibangun pada masa pemerintahannya, meskipun umurnya sudah tua, tetapi masih banyak yang kokoh termasuk Sluis Suren hingga saat ini masih berfungsi baik," papar Pandi dalam bukunya.

Soal Sampah Cisadane, Pejuang Waktu: Larangan Buang Sampah Tidak Efektif Tanpa Edukasi

Pada tahun 1870, ketika berumur 21 tahun, Poerbo Atmodjo diangkat menjadi Bupati Kutoarjo untuk menggantikan ayahnya. Sebagai bupati, dirinya memiliki beragam kelebihan, baik dalam pengelolaan pemerintah hingga mendayagunakan potensi sumber daya alam maupun manusia.

Beragam karya telah dicipta oleh Poerbo Atmodjo seperti mengeruk saluran air mawar pada tahun 1871, hal ini membuat air yang semula tidak mengalir dapat dialirkan dengan lancar, sehingga mutu kesehatan daerah tersebut relatif meningkat.

Upaya lainnya adalah mengeringkan Tanah Bonorowo yang sepanjang tahun tergenang air sehingga membentuk desa-desa baru, yaitu Desa Berco, Tunggulanyar, Tulurejo, Tegalrejo,Wonoenggal dan Banyuyoso. Sebagian besar telah berubah menjadi tanah persawahan seluas 1.800 bau yang di peruntukan bagi penduduk setempat.

Selain itu, jasa Poerbo Atmodjo sangat besar untuk memajukan perekonomian penduduknya di bidang pertanian dan peternakan, termasuk memberikan dorongan agar masyarakat gemar menabung.

Pada masa pemerintahannya masyarakat di Kutoarjo juga menggalang persatuan dengan mendirikan gedung organisasi sosial yang dinamakan Tanggal Pandriyo Darmo.

Pemimpin daerah yang peduli dengan lingkungan

Makam Pangeran Poerbo Atmodjo (Jaringan Santri)
info gambar

Pada masa pemerintahan Poerbo Atmodjo ada pencapaian luar biasa yang dilakukannya di bidang lingkungan. Pada tahun 1875, pemerintahannya mengeluarkan kebijakan menghutankan Pantai Selatan di dekat Kutoarjo dengan jalan menanam pohon-pohon nyamplung.

Tujuannya supaya tanah pantai menjadi teduh sehingga bisa menjadi tempat berlindung bagi manusia dan ternak. Apalagi berhembusnya angit laut menimbulkan kekeringan yang berakibat buruk bagi kesehatan manusia dan ternak.

Walaupun upaya untuk perbaikan lingkungan pada awal tidak berakhir sukses, tetapi dengan ketekunan dan kesabaran, pada 1892 penghutanan dilakukan secara besar-besaran dan hasilnya mencapai sukses besar.

Hasil karya penting pemerintahan Poerbo Atmodjo adalah terbentuknya tiga jalur tanah yang berhutan berukuran panjang 10 km dan lebar 25 m. Hal ini sesuai dengan cita-cita kepala daerah tersebut yang berharap tarap kesehatan daerah itu meningkat, dan hasil pertanian bertambah.

Sebagai pemerhati lingkungan, dirinya juga menanami tanah pegunungan yang terletak di sebelah utara kabupaten dengan pohon jati. Dirinya juga melalukan reboisasi terhadap pegunungan yang gundul, antara lain di Desa Wonosido, Semayu, dan Dilem.

"Dengan demikian pertumbuhan alang-alang bisa dicegah dan pepohonan di hutan itu sangat bermanfaat bagi lingkungan di sekitarnya," sebut Pandi.

Termasuk Satwa Endemik yang Paling Dijaga, Berapa Populasi Gajah Sumatra Saat Ini?

Atas jasa yang besar terhadap pembangunan daerah dan kemakmuran rakyatnya, Poerbo Atmodjo mendapat berbagai tanda jasa pengangkatan dan penghormatan dari Pemerintah Hindia Belanda.

Seperti Surat Keputusan Kerajaan Belanda (Koninklijk Besluit) Ratu Wilhelmina tanggal 30 Agustus 1899 Nomor 12, menerima bintang tanda jasa berupa (Ridder der Oranje van Nassau Orde).

Lalu ada juga Surat Keputusan Kerajaan Belanda (Koninklijk Besluit) Ratu Wilhelmina tanggal 27 Agustus 1908 Nomor 30, diangkat sebagai Satria Singa Kerajaan Belanda (Ridder der Nederlandsche Leeuw).

Poerbo Atmodjo menjabat sebagai Bupati Kutoarjo selama 45 tahun dari tahun 1870 sampai 1915, kemudian putranya sendiri Raden Adipati Aryo Poerbohadikusumo menjadi penggantinya dan memerintah selama 18 tahun (1915-1933).

Pada tanggal 13 Oktober 1928, Poerbo Atmodjo meninggal dunia pada umur 79 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Bukit Satria, Desa Kaliwatubumi, Kecamatan Butuh Kabupaten Poerworejo di dalam satu kompleks dengan ayahnya, R.A.A. Pringgo Atmodjo.

Atas segala jasa Poerbo Atmodjo, Pemerintah Hindia Belanda kemudian mengangkatnya sebagai anggota kehormatan dalam Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda yang dipimpin Dr.S.H. Koorders.

"Pangeran Poerbo Atmodjo dan Dr. S.H. Koorders merupakan pemerhati lingkungan alam sejati. Walaupun bekerja dalam bidang yang berbeda, namanya selalu akan dikenang dan terdaftar dengan kehormatan dalam Pemerintah Hindia Belanda," tutupnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini