Soal Sampah Cisadane, Pejuang Waktu: Larangan Buang Sampah Tidak Efektif Tanpa Edukasi

Soal Sampah Cisadane, Pejuang Waktu: Larangan Buang Sampah Tidak Efektif Tanpa Edukasi
info gambar utama

"Kita tidak bisa menyelesaikan sampah secara parsial apalagi hanya dilakukan setahun sekali saat Hari Sungai Nasional atau menanam pohon saat ada kegiatan."

---

Dari sekian banyak hal yang dibahas dalam KTT COP26 di Glasgow, Skotlandia, Sungai Citarum mendapat sorotan dari para pemimpin dunia. Pasalnya sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat tersebut memang terkenal dengan pencemaran, bahkan pernah dinobatkan sebagai sungai terkotor di dunia.

Dalam panel dialog “Scaling Up Governance and Collaborative Actions in Combinating Marine Plastic Litter Towards Climate Actions in Indonesia", Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil berkesempatan untuk mempresentasikan perkembangan Program Restorasi Sungai Citarum.

Pria yang akrab disapa Kang Emil tersebut pun menjelaskan 12 program strategis revitalisasi DAS (daerah aliran sungai) Citarum. Di antaranya rehabilitasi lahan sekitar 26 ribu hektare dari target 15.500 hektare, monitoring IPAL pabrik-pabrik di sekitar Sungai Citarum, serta menindak pelanggar lingkungan, penanganan limbah domestik dan industri, serta penegakan hukum untuk membuktikan bahwa penanganan Citarum tak main-main.

Meski sempat jadi sungai terkotor dan terjorok di dunia, Kang Emil menggunakan pola pentaheliks dan bersinergi dengan akademisi, pengusaha, media, dan komunitas untuk hasil penanganan yang lebih efektif.

“Hasilnya penanganan lebih efektif. Setelah tiga tahun Citarum bukan lagi sungai terkotor dan kami bisa menjelaskan dan membuktikan data-datanya. Berkat pentaheliks ini semua merupakan tanggung jawab bersama,” ujar Kang Emil, seperti dikutip dari laman Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat.

Pencemaran sungai di Indonesia memang masih menjadi masalah besar. Pasalnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pun menuturkan bahwa 59 persen sungai di Indonesia masih dalam kondisi tercemar berat.

Berbagai jenis limbah, dari rumah tangga, hingga industri seperti migas dan pertambangan, mencemari sungai-sungai. Pencemaran membuat kandungan oksigen menurun dan biota seperti tumbuhan serta hewan kecil yang ada di aliran sungai tidak dapat hidup.

Selain Citarum, ada pula nama Sungai Cisadane yang selalu dikaitkan dengan tumpukan sampah, kotor, bau, dan jadi penyebab banjir. Menangani permasalahan sampah dan pencemaran di sungai sepanjang 126 km tentu bukan pekerjaan mudah. Namun, setiap upaya yang dilakukan secara nyata tentu akan memberikan dampak.

Seperti yang dilakukan komunitas Pejuang Waktu, mereka secara rutin melakukan aksi bersih-bersih di Sungai Cisadane. Dalam sekali aksi, lebih dari satu ton sampah berhasil diangkut. Mereka pun punya banyak kegiatan terkait pelestarian lingkungan di sekitar Sungai Cisadane, dari penanaman pohon, pengolahan sampah, hingga memberikan edukasi pada masyarakat yang tinggal di sekitar sungai.

Demi mengetahui lebih lanjut tentang aksi komunitas Pejuang Waktu dalam upaya membersihkan Sungai Cisadane, Dian Afrillia dari GNFI berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Sutanandika sebagai sukarelawan yang menginisiasi terbentuknya komunitas tersebut pada Rabu (17/11/2021).

Berikut kutipan bincang-bincangnya:

Kegiatan bersih-bersih Cisadane © Dokumentasi Pejuang Waktu
info gambar

Boleh diceritakan apa itu Pejuang Waktu?

Kegiatan ini berasal dari beberapa pemuda yang berdomisili di wilayah Cijeruk dan Cigombong. Sebagian adalah siswa SMAN 1 Cijeruk dan sebagian yang lain adalah alumni SMAN 1 Cijeruk yang sudah kuliah, bekerja, dan menganggur.

Ada 3 orang guru yang terlibat Saya, Sutanandika Guru Bahasa Sunda, Dwiyoso Nugroho, Guru Sejarah di SMAN 1 Cijeruk, dan satu orang lagi bernama Dwi Handoko, guru di SMAN 1 Cisarua.

Kegiatan pertamanya dinamakan Cisadane Resik Vol.1 yang dilaksanakan di bulan April 2020. Pejuang Waktu belum dideklarasikan saat itu. Jumlah peserta waktu itu 10 orang pemuda, 2 orang anak kecil, serta 2 orang guru. Guru-guru menamakan kelembagaannya Pakwan Institute.

Pejuang Waktu mulai diperkenalkan di Cisadane Resik Vol. 2 yang dilaksanakan 5 Juli 2020. Jumlah anggota dan pengurus Pejuang Waktu saat ini 30-an. Sedangkan yang aktif sekitar 10 orang. Sisanya bekerja, kuliah di luar kota, menikah, dan lain-lain. Untuk pejuang waktu keanggotaanya dikhususkan bagi pemuda dari usia sekolah sampai dengan sebelum menikah.

Apa saja kegiatan komunitas Pejuang Waktu?

Salah satunya adalah Cisadane Resik. Kegiatannya meliputi aksi bersih-bersih sungai, menanam pohon, pengolahan sampah dengan maggot, serta pembibitan tanaman keras dan bunga.

Komunitas Pejuang Waktu juga membuat faceshield dan tersebar ke 4 Puskesmas, 1 RSUD Ciawi, Polsek Cijeruk, Koramil Cijeruk, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Satgas Covid 19 Provinsi Jabar, BNPB, dan lain-lain.

Kemudian ada Cisadane Resik Rescue yang kegiatannya yaitu mengumpulkan pakaian bekas layak pakai kemudian dipilah. Selain itu, ada juga makanan siap saji dan obat-obatan. Barang-barang tersebut akan segera disalurkan ketika terjadi bencana.

Cisadane Resik Rescue telah menyalurkan bantuan untuk korban longsor di wilayah Cicadas Kampung Adat Sinaresmi Ciptagelar di Sukabumi, banjir di Agrabinta Cianjur, longsor di Sukajaya Bogor Barat, bantuan untuk bencana kebakaran di Cengkuk Ciptagelar, kebakaran di Pasir Madang Bogor, hingga banjir di NTT.

Adapun program lain yang dilakukan adalah Cisadane Resik Literat yaitu kegiatan membaca buku dan pelatihan penulisan. Kemudian, ada program Peternak Madu Milenial yang saat ini baru sampai tahap pembibitan tanaman air mata pengantin.

Cisadane Resik | Dokumentasi Pejuang Waktu
info gambar

Dampak apa yang diharapkan dari program Cisadane Resik?

Program Cisadane Resik diharapkan berdampak pada perubahan perilaku. Pada generasi muda usia sekolah, sehingga diharapkan di kemudian hari muncul generasi yang cinta lingkungan dengan kebiasaan memilah sampah dan menanam pohon.

Harapannya aksi ini semakin bergulir dengan peserta dan lembaga yang lebih banyak terlibat. Aksi ini mendapatkan dukungan dari pelaku usaha lokal, nasional serta mendapatkan liputan media agar semakin menyebarkan semangat untuk memelihara sungai Cisadane khususnya, dan sungai-sungai lain umumnya.

Aksi ini ditiru di tempat dan lembaga lain seperti Jampang Hejo yang dilakukan oleh Napak Tirem dan Karang Taruna di Ujung Genteng, Bank Sampah Komunitas Bambu Runcing di Cipelang, dan saat ini sedang diinisiasi untuk kegiatan di wilayah Bogor Barat bersama aktivis lingkungan sekitaran Gunung Salak Endah.

Untuk program Cisadane Resik Rescue diharapkan berdampak pada kewaspadaan bencana, baik dengan alasan geografis pegunungan, maupun alasan kerusakan ekologis. Rentang waktu bencana longsor dan banjir bandang di Wilayah Bogor dari yang 10 tahunan sudah sampai tiga tahunan dan tingkat kebencanaan meningkat drastis. Sebagai contoh, longsor di Sukajaya sudah terjadi di Tahun 2009, dan berulang di 2020 dengan kerusakan yang masif.

Program maggot saat ini baru menjadi piloting, dikerjakan di sekretariat. Tujuannya adalah jika sudah terbentuk kebiasaan memilah sampah, maka pengolahan sampah organik menjadi penting, agar tidak menimbulkan bau dan malah menjadi sumber pendapatan tambahan, misalnya menjadi pakan ayam atau ikan. Selama ini bank sampah baru memilah sampah anorganik yang laku dijual untuk didaur ulang.

Untuk program Petani Madu Milenial, ini mengadopsi program yang dilakukan oleh Cabang Dinas Kehutanan Wilayah 1 Jawa Barat yang melakukan pendampingan terhadap Kelompok Petani Pengolah Hasil Hutan.

Dari program ini diharapkan kompos hasil pengolahan sampah organik dijadikan pupuk. Kemudian, menghasilkan madu, dan lebah yang ada membantu proses penyerbukan, menghindari punahnya serangga penyerbuk yang terjadi Inggris, serta sebagai tanaman hias dan bernilai ekonomis untuk menambah kas lembaga.

Ada rencana untuk memperluas area dan keluar dari Cisadane?

Sudah dilakukan di Pesisir Ujung Genteng, kami menginisiasi lembaga dan kelompok di Ujung Genteng, Cisadane Resik Vol.7 Jampang Hejo.

Harapannya ke depan adalah bisa menginisiasi kelompok-kelompok Peduli Sungai di Wilayah Sesar Cimandiri yang bermuara di Pelabuhan Ratu, Pantai Ciletuh, dan Ujung Genteng. Saat ini sedang diinisiasi di wilayah Anak Sungai Cisadane di Gunung Salak Endah, Kecamatan Pamijahan, mudah-mudahan akhir 2021 atau awal 2022 bisa segera dilaksanakan.

Kegiatan bersih-bersih © Dokumentasi Pejuang Waktu
info gambar

Bagaimana kondisi Sungai Cisadane saat ini?

Kondisi Sungai Cisadane menurut pandangan mata sudah tercemar oleh sampah, baik yang berbentuk maupun yang larut. Bisa dilihat sepanjang aliran Sungai Cisadane sampah yang mengapung, menyangkut di tanaman dan batu, serta yang tertimbun di pasir.

Sampah yang berbentuk mulai dari sampah rumah tangga yang organik sampai dengan yang susah terurai seperti plastik kemasan detergen, popok, botol, kain, dan lainnya.

Sampah cair yang sekarang banyak dibahas, warga-warga mengeluhkan pembuangan sampah cair dari beberapa pabrik di wilayah Caringin dan Cigombong yang dilakukan di saat hujan, selain berwarna, berbau, juga menimbulkan gatal. Tak jarang setelah proses tersebut dilakukan banyak ikan yang mabuk dan mati.

Apakah sungai masih jadi tempat sampah bagi warga yang tinggal di sekitar?

Masih, kesadaran yang terbentuk baru kesadaran temporal, semisal Hari Sampah atau Hari Sungai. Warga dan pemerintah setempat melakukan aksi kebersihan, namun di hari-hari yang lain sampah kembali menggunung. Baru beberapa tempat yang memiliki program pengolahan sampah yang berjalan, sisanya mati suri.

Dalam aksi bersih-bersih sungai, bisa membersihkan berapa banyak sampah?

Paling 1 ton sampah basah, kami tidak pernah menimbangnya secara pasti, namun 150 karung pasti penuh dengan pengisian berulang. Sampah kemasan yang mendominasi dari mulai plastik air mineral, detergen sampai dengan styrofoam boks makanan. Limbah cair dari industri sama sekali tidak bisa dipastikan jumlahnya.

Dari mana sampah-sampah yang ada di Cisadane berasal?

Sampah di Cisadane berasal dari industri makanan dan rumah tangga, baik yang ada di anak sungai, sungai, maupun sengaja berkendara membuang sampah ke sungai.

Sampahnya dikemanakan?

Sampai saat ini sampah masih dikumpulkan, dikeringkan, dan dibakar, karena untuk mengangkut ke TPA pun belum ada yang siap membantu dengan gratis.

Selain Pakwan Institute belum memiliki instalasi pemilahan sampah dan incinerator sampah yang baik. Program maggot untuk pengolahan sampah organik masih dalam proses. Semoga ke depan bisa menjadi wahana pelatihan.

Apa ada masalah lain di Cisadane selain sampah?

Beberapa jenis ikan endemik sepert arelot, senggal, gabus, bogor, kancra, sili-sili, berod, nilem, beunteur sudah mulai punah atau jarang terlihat. DAS Cisadane digunakan sebagai rumah tinggal dan usaha pemotongan hewan. Ada lagi penambangan pasir dan batu.

Apa saja sebenarnya potensi Sungai Cisadane?

Pertama, sebagai air minum. Sungai Cisadane masih dijadikan sumber air beku oleh beberapa perusahaan air minum negara. Kemudian untuk media peternakan ikan dalam keramba di sungai-sungai.

Sungai Cisadane juga memiliki potensi untuk wisata air, air terjun, dan arung jeram. Juga untuk wahana pelatihan atlet dan wisata sejarah. Di aliran sungai dan anak Sungai Cisadane ada banyak situs bersejarah yang terkait, mulai dari Bogor sampai ke Tangerang. Juga untuk Pembangkit Listrik Non Fosil yang ramah lingkungan. Debit air Sungai Cisadane lebih besar dari Ciliwung.

Kegiatan menanam pohon | Dokumentasi Pejuang Waktu
info gambar

Mengapa persoalan sampah di Cisadane tidak kunjung usai?

Perilaku adalah pola hidup yang tertanam sejak kecil dan dipengaruhi oleh lingkungan. Edukasi atau pendidikan dan kegiatan yang berkelanjutan adalah jawaban. Kita tidak bisa menyelesaikan sampah secara parsial apalagi hanya dilakukan setahun sekali saat Hari Sungai Nasional atau menanam pohon saat ada kegiatan.

Maka pola hidup ramah sampah terhadap lingkungan, dari mulai keluarga dan di sekolah diharapkan membangun kesadaran yang akan mengubah kebiasaan tersebut mulai dari sekarang sampai ke depan.

Pendekatan hukuman dengan Peraturan Daerah, Undang-Undang yang menakut-nakuti hanya bisa efektif jika penegakan hukum dan penegak hukumnya konsisten. Namun, di lain waktu kendor pengawasannya, mereka yang belum sadar lingkungan akan kembali membuang sampah di Sungai. Pemasangan baliho dan larangan membuang sampah tidak akan efektif jika tidak disertai edukasi yang memadai dan berkelanjutan.

Tantangan apa yang dialami dalam membersihkan Sungai Cisadane selama ini?

Belum banyak dukungan keikutsertaan atau partisipasi yang tetap dari lembaga-lembaga terkait dengan Sungai. Dua tahun ini baru dari Cabang Dinas Kehutanan Wilayah 1 yang secara teratur memberikan bantuan bibit tanaman. Koramil Cijeruk adalah lembaga pertahanan yang aktif dalam kegiatan ini

Dinas Lingkungan Hidup, Balai Besar Sungai, dan yang lainnya belum berperan serta secara aktif, begitu pula pemerintah daerah baru muncul di beberapa event yang bersesuaian. Malah ada beberapa kasus, ada oknum yang meminta uang rokok untuk kegiatan.

Apa harapan Anda untuk Sungai Cisadane dan komunitas Pejuang Waktu?

Saya berharap Cisadane kembali menjadi indikator peradaban yang maju di era modern. Cukup cerita zaman keemasan Kerajaan Tarumanegara dan Pakuan Pajajaran.

Kita harus menjadikan Sungai Cisadane Sungai yang bersih karena masyarakat dan industri juga sudah ramah lingkungan, dengan debit air yang stabil sebagai tanda bahwa gunung dan hutannya terjaga. Menjadi tempat bermain yang sehat dan pencaharian yang baik.

Untuk Komunitas Pejuang Waktu, tidak apa-apa tetap berjumlah sedikit, namun pewarisan idealisme hijaunya tetap terjaga. Bagaimanapun usia remaja kesibukan dan kepentingan datang dan pergi. Tetaplah menjaga pembasisan dan mewariskan semangat kepada yang baru-baru bergabung.Yang harus banyak adalah lembaga-lembaga, organisasi, dan peserta yang menjadi partisan bahkan inisiator di wilayahnya.

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Pahlawan, 10 November 2021.

Mereka adalah segelintir dari banyak pahlawan lingkungan yang mampu membangkitkan asa, mendobrak pesimistis, dan bermanfaat bagi sekitarnya.

Selamat Hari Pahlawan, angkat topi untuk ''Para Penabur Lingkungan''.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini