Naniura, Kuliner Ikan Tanpa Dimasak yang Jadi Santapan Istimewa Raja Batak

Naniura, Kuliner Ikan Tanpa Dimasak yang Jadi Santapan Istimewa Raja Batak
info gambar utama

Jika mendengar istilah hidangan berupa ikan mentah yang dikonsumsi tanpa melalui proses pemasakan sama sekali, yang pertama kali terlintas di pikiran kebanyakan orang pasti tak jauh dari santapan bernama Sashimi yang berasal dari Jepang.

Mengutamakan kesegaran secara utuh yang diperoleh dari ikan-ikan di laut dengan kualitas terbaik, belum terlalu banyak yang tahu jika selama ini salah satu wilayah di Indonesia nyatanya juga memiliki kuliner khas serupa yaitu berupa penyuguhan ikan mentah bernama Naniura

Naniura adalah santapan khas yang dibuat oleh masyarakat di wilayah pesisir Toba Samosir, Sumatra Utara, dan menjadi salah satu primadona kuliner hingga saat ini.

Meski tak sepopuler hidangan khas Batak lainnya seperti Arsik, Saksang, atau Mie Gomak, namun Naniura memiliki kenikmatan khas yang tercipta dari proses pematangan alami meski ikan mentah yang digunakan sebagai bahan utama tidak melalui proses pemasakan sama sekali.

Menyantap Arsik, Kuliner Khas Batak dengan Campuran Andaliman yang Menggetarkan Lidah

Manfaatkan penyerapan bumbu khas batak selama lima jam

Seringkali dijuluki sebagai Sashimi versi Batak, meski tidak melalui proses pemasakan layaknya digoreng, dikukus, dibakar, atau sejenisnya, namun ikan mentah yang diolah menjadi Naniura nyatanya mengalami proses pematangan setelah melalui proses fermentasi yang dilakukan selama berjam-jam.

Melansir Indonesia.go.id, Naniura saat ini banyak menggunakan ikan mas sebagai bahan utama untuk pembuatannya, terlebih dulu dibersihkan dengan mengeluarkan kotoran dari dalam perut, mencabut sejumlah duri, membelah ikan menjadi dua bagian, dan melumurinya dengan air serta perasan jeruk nipis, hal tersebut yang membuat Naniura sama sekali tidak amis ketika disantap.

Sementara itu untuk fermentasi, ikan tersebut dilumuri dengan bumbu kuning khas Batak yang terdiri dari utte jungga (asam Batak), andaliman, cabai merah, bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, kacang tanah, kunyit, dan batang kecombrang.

Semua bahan bumbu tersebut terlebih dulu disangrai kemudian ditumbuk halus untuk selanjutnya dilumuri secara merata ke seluruh bagian ikan mentah. Setelahnya, baru ikan didiamkan selama kurang lebih empat hingga lima jam. Selama proses itu lah ikan mentah yang digunakan akan matang walau tanpa dimasak sedikit pun.

Mencoba Sensasi Makan Ayam Masak Darah dan Sashimi Ala Suku Batak

Awalnya hanya menggunakan ikan batak

Ikan batak
info gambar

Sebelum menggunakan ikan mas, Naniura awalnya hanya dibuat dengan mengolah satu jenis ikan yang oleh warga setempat dinamai Dekke Ihan atau Ikan Batak, jenis ikan endemik di Sumatra Utara.

Di lain sisi, ikan batak dulunya disebut sering digunakan sebagai persembahan atau sajian kepada Tuhan dalam setiap pelaksanaan acara adat yang sakral. Ikan ini disajikan dengan harapan pemberian makanan tersebut dapat mendatangkan berkat dari Tuhan Yang Maha Kuasa, baik berupa kesehatan dan umur panjang, mendapat banyak keturunan, serta murah rezeki dan banyak harta.

Salah satu tempat yang diketahui menjadi habitat dari ikan batak adalah sebuah sungai bernama Sungai Sirambe Nauli yang berada di Desa Bonan Dolok, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir.

Sayangnya, saat ini keberadaan ikan tersebut kian langka dan sulit ditemukan. Karena hal itu, tak heran jika masyarakat pesisir Toba yang ingin membuat Naniura beralih dengan menggunakan ikan jenis lain di antaranya ikan mas, mujair, dan gabus.

Rempah Andaliman, Merica Khas Batak yang Tembus Pasar Mancanegara

Santapan Raja dan kenikmatan yang diceritakan dalam sebuah lagu

Sebelum dapat dinikmati oleh berbagai kalangan seperti saat ini, banyak yang mengungkap bahwa Naniura dulunya merupakan salah satu santapan elite yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan Raja-Raja Batak termasuk pada saat menjamu para tamu kerajaan.

Tidak dapat diolah sembarangan, disebutkan bahwa kala itu Naniura hanya boleh dibuat oleh koki atau juru masak kerajaan.

Beruntung, saat ini kuliner nikmat tersebut sudah dapat dinikmati oleh berbagai kalangan dan ditemui dengan mudah di sejumlah tempat seperti warung makan yang berada di kawasan wisata Danau Toba dan sekitarnya.

Menariknya, kenikmatan dari Naniura ternyata memang menjadi hal yang istimewa bagi masyarakat Suku Batak di pesisir wilayah Toba sendiri. Pasalnya, cita rasa dari hidangan satu ini bahkan membuat seorang pujangga yang diketahui merupakan seorang penulis dan pencipta lagu bernama Nahum Situmorang menciptakan lagu berjudul Tabo do Dekke Naniura.

Lagu daerah berbahasa Batak tersebut mengandung makna mengenai kenikmatan hidangan Nainura. Bukan hanya itu, lirik yang terdapat dalam lagu tersebut juga memiliki arti berupa ungkapan perasaan dari pembuat lagu yang memohon kepada sang orang tua agar direstui berjodoh dengan perempuan yang berasal dari tepi Danau Toba, supaya dirinya selalu bisa merasakan kenikmatan Naniura.

Menengok Lapo Tuak, Tempat Orang Batak Bercakap dan Menghibur Diri

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini