Mengenal Lais, Seni Akrobatik Tradisional Warisan Budaya Leluhur Garut

Mengenal Lais, Seni Akrobatik Tradisional Warisan Budaya Leluhur Garut
info gambar utama

Jika mendengar kata akrobatik, yang pertama kali terlintas di pikiran biasanya adalah bentuk atraksi yang umum dijumpai sebagai salah satu rangkaian dari pertunjukan sirkus.

Menjadi sebuah penampilan yang mengutamakan keseimbangan, ketangkasan, dan koordinasi motorik dari para pemainnya, akrobatik juga kerap ditemui sebagai bagian dari seni budaya, jenis olahraga, dan seni bela diri.

Meski sudah tidak asing dan dikenal sebagai salah satu pertunjukan yang banyak dipertontonkan di tanah air, akrobatik sendiri nyatanya sudah lebih dulu ditemukan di berbagai budaya sejak ribuan tahun lalu, sehingga keberadaannya tidak hanya identik dengan kebudayaan Indonesia.

Di antara sekian banyak jenis pertunjukan akrobatik tradisional ataupun modern yang berasal dari berbagai negara, Indonesia nyatanya juga memiliki salah satu seni akrobatik tradisional yang telah ada sejak zaman dulu hingga saat ini, yaitu Seni Lais.

10 Seni Pertunjukkan Jawa Barat dalam Warisan Budaya Tak Benda

Awal mula munculnya seni lais

Pertunjukkan atraksi tradisonal lais
info gambar

Sama seperti pertunjukan akrobatik pada umumnya yang mempertontonkan aksi mendebarkan dan terkesan membahayakan keselamatan, lais merupakan seni pertunjukan akrobatik tradisional yang tak kalah menantang dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu yang biasanya dilatih dari generasi ke generasi.

Jika dilihat secara sekilas, pertunjukan seni ini mempertontonkan aksi seorang pemain lais (pelais) terlatih yang dengan piawai menyuguhkan aksi bergelantungan pada seutas tali tambang yang membentang dan dikaitkan pada dua buah bambu dari ketinggian sekitar 12-13 meter.

Bicara soal asal-usul, kesenian satu ini diyakini berasal dari wilayah Kampung Nangka Pait, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Menurut penjelasan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Garut, lais sendiri merupakan bentuk pengembangan dari kegiatan sehari-hari yang dahulu kala dilakukan oleh seorang pria bernama Laisan.

Berawal sejak era kolonial Belanda, sosok yang sehari-harinya lebih banyak disapa dengan sebuatan Pak Lais tersebut diketahui sangat pandai dalam memanjat pohon kelapa dan memiliki cara berbeda dibanding orang-orang biasa pada waktu itu.

Jika orang biasa umumnya memanjat sejumlah pohon kelapa dengan naik dan turun secara berulang kali, lain halnya dengan Pak Lais yang hanya memanjat satu pohon saat ingin memetik sejumlah buah kelapa.

Keunikan muncul saat dirinya ingin berpindah memetik kelapa di pohon lain, bukannya memanjat ulang, Pak Lais rupanya hanya perlu menggelantung ke pohon lain dengan memanfaatkan pelepah daun di masing-masing pohon. Karena itu, saat awal memanjat ia biasanya memilih pohon-pohon yang memiliki jarak berdekatan.

Siapa sangka jika kepiawaiannya tersebut ternyata membuat orang-orang di sekitar merasa tertarik dan terhibur setiap kali Pak Lais memanjat dan memetik kelapa. Mereka selalu menyaksikan saat dirinya bergelantung dengan ahli dari satu pohon ke pohon kelapa lainnya.

Bukan hanya itu, semakin lama banyak orang-orang yang bersorak menyemangati aksi Pak Lais dengan diiringi nyanyian, tarian, dan tabuhan berbagai macam benda yang sengaja dibawa seperti potongan bambu, kaleng, bekas tempurung, dan lain-lain.

Berangkat dari hal tersebut, kebiasaan itu mendorong sejumlah tokoh kesenian untuk meminta Pak Lais agar keterampilannya dapat dimanfaatkan sebagai pertunjukan yang bisa dinikmati sebagai hiburan.

Setelah dibuat berbagai penyesuaian dan Pak Lais mengajarkan keahliannya kepada sejumlah pemuda secara turun temurun, seni lais pada akhirnya banyak dipertontonkan untuk menghibur berbagai acara perayaan seperti khitanan, pernikahan, syukuran, dan masih ada hingga saat ini.

Tidak hanya sebatas pertunjukan, dalam pelaksanaannya sendiri lais memiliki makna sebagai kesempatan untuk melatih diri dalam memunculkan kekuatan fisik dan kemampuan menyatu dengan alam.

Tarung Derajat, Seni Bela Diri Asal Jawa Barat Ciptaan Sang Legenda Aa Boxer

Alur pertunjukan atraksi lais

Mengenai pelaksanaan, seperti yang sempat disebutkan sebelumnya atraksi lais ini membutuhkan beberapa perlengkapan untuk bisa membuat seorang pelais mempertontonkan aksinya bergelantungan di udara.

Perlengkapan utama yang paling dibutuhkan tidak lain adalah dua buah batang bambu yang memiliki ukuran panjang sekitar 12-13 meter. Kedua bambu tersebut kemudian ditanamkan pada tanah dengan jarak enam meter setelah terlebih dulu dihubungkan dengan seutas tali tambang, yang digunakan untuk menggantikan fungsi pelepah pada pohon kelapa pada bagian ujung puncaknya.

Dalam versi modifikasi untuk kesenian, pertunjukkan lais biasanya melibatkan sebanyak tujuh hingga sembilan orang yang memiliki peran masing-masing.

Dari sekumpulan orang tersebut, satu di antaranya sudah pasti adalah seorang pelais yang akan melakukan atraksi di atas tali, kemudian ada satu orang berperan sebagai pemain lawak yang akan menghibur penonton sebelum pelais beraksi.

Selain itu, empat orang lainnya berperan memegang sekaligus memainkan alat musik tradisional angklung dogdog yang akan mengiringi aksi pelais, ditambah dengan satu hingga dua orang pemegang terompet.

Ketika beraksi, pelais akan mengawali pertunjukannya dengan memanjat salah satu bambu. Saat sudah sampai di atas pelais akan melakukan berbagai atraksi mulai dari berputar-putar, telungkup, melakukan gerakan jungkir balik, tiduran di atas tali, berpindah menggunakan sebelah tangan, dan berbagai gerakan lainnya yang ditutup dengan gerakan turun ke bawah dengan posisi kepala terlebih dahulu.

Semua gerakan dan pertunjukan tersebut biasanya berlangsung selama 45 menit dan dilakukan tanpa menggunakan alat keamanan profesional. Karena itu, tak heran jika tidak sembarang orang dapat melakukan pertunjukan tradisional tersebut melainkan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang terlatih.

Longser, Seni Teater Tradisional Penuh Banyolan dari Jawa Barat

Tantangan regenerasi dan upaya pelestarian

 Lais Pancawarna Medal Panglipur
info gambar

Sama seperti warisan budaya pada umumnya, seni lais rupanya juga menjadi salah satu budaya yang memiliki tantangan besar dalam hal regenerasi dan pelestarian.

Melansir Vice Indonesia, diketahui bahwa salah dua sosok yang saat ini masih menggeluti keseharian sebagai pegiat atraksi seni lais adalah seorang pria senja bernama Aki Ahudin yang saat ini berusia 72 tahun, dan menantunya Suhada yang berusia 34 tahun.

Aki Ahudin sendiri yang diketahui merupakan generasi ketiga dari pegiat atraksi seni lais saat ini sudah tidak lagi secara langsung tampil menunjukkan kepiawaian bergelantung di atas tali mengingat usianya yang sudah tidak lagi memungkinkan.

Bagian menjadi pelais diwariskan kepada Suhada yang disebut mulai melatih diri dan fisik sejak enam tahun silam. Tantangan untuk mencari sosok pelais selain Suhada muncul karena sebagian besar pemuda di desa tersebut lebih banyak yang memilih untuk merantau dan kerja di kota.

Meski begitu, di lain sisi ada juga beberapa pihak yang terus berupaya melestarikan seni lais dalam sebuah padepokan bernama Padepokan Panca Warna Medal Panglipur yang berada di kawasan lain Garut, tepatnya di Kampung Sayang, Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu.

Menukil Liputan6.com, pemimpin padepokan tersebut yakni Ade Dadang diketahui tetap berusaha agar pertunjukan seni asli tanah Garut tersebut tetap lestari dengan berinovasi dan mencari cara agar para anak-anak muda memiliki keberanian untuk melakoni seni lais dari ketinggian.

Budaya Jadi Harapan Besar Generasi Muda untuk Masa Depan Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini