Catatan Penghormatan Raja dan Masyarakat Jawa Kuno Terhadap Sosok Guru

Catatan Penghormatan Raja dan Masyarakat Jawa Kuno Terhadap Sosok Guru
info gambar utama

Dalam kisah Mahabharata, Resi Durna harus merenggang nyawa dalam pertempuran berdarah Bharatayudha. Sosok yang waktu muda memiliki nama Bambang Kumbayana ini berpihak pada Kurawa yang sedang melawan saudaranya Pandawa.

Resi Durna, merupakan guru besar di Perguruan Sokalima, pendidik sejati bagi Pandawa dan Kurawa. Karena itulah, baik Durna hingga Pandawa tidak berani menyerang satu sama lain.

Walau pada akhirnya, Durna bisa tumbang dengan siasat dari Sri Kresna. Kesedihan begitu mendalam didapati oleh para Pandawa juga Kurawa yang mendapati guru mereka harus tewas dalam pertempuran ini.

Penghormatan kepada sosok guru dalam kisah Mahabharata ini ternyata terus terwariskan dalam tradisi Kerajaan Jawa. Para Raja Jawa yang mengaku masih keturunan dari para Pandawa ini mewariskan penghormatan paling tinggi kepada guru.

Bagi masyarakat Jawa kuno guru dianggap tokoh yang mampu menuntun para siswa kepada jalan yang benar. Karena tugas mulia ini, hingga kini kedudukan guru pada masyarakat masih cukup terpandang.

Menukil dari Majalah Arkeologi Nasional, pada zaman Jawa kuno profesi guru dikenal dengan nama ācārya, guru, dewaguru, dan mahaguru. Sementara yang lain sering menyebut guru dengan nama rama atau pita, yang berarti ayah.

Sekolah Dibuka, Bagaimana Kesiapan Pembelajaran Tatap Muka?

Istilah ācārya dan dewaguru memiliki perbedaan penyebutan yang nantinya disesuaikan dengan lingkungan. ācārya biasanya digunakan untuk menyebut guru yang mengajar di lingkungan istana, seperti mendidik putra-putri raja.

Sementara untuk dewaguru diberikan kepada tokoh yang mengajar di pusat-pusat pendidikan Jawa Kuno atau dikenal sebagai maṇḍala. Biasanya tempat ini berlokasi di daerah yang terpencil seperti, lereng gunung, puncak bukit, tengah hutan, tepi pantai.

Para guru ini akan membimbing para siswa dari beberapa jenjang, seperti ubwan dan manguyu untuk jenjang atas, sedangkan kaki dan endang yang masih menempuh jenjang bawah.

"Segala aturan maupun nasihat dari para dewaguru wajib dipatuhi oleh seluruh sisya (siswa) yang dibimbingnya," tulis Aang Pambudi Nugroho dalam artikelnya bertajuk
Refleksi Hardiknas 2 Mei: Dulu, Raja Jawa dan Rakyatnya Wajib Menghormati Guru.

Prasasti sebagai perintah penghormatan kepada guru

Guru untuk mengajar (Shutterstock: Phectography)
info gambar

Prasasti Śankhara yang tertulis dalam prasasti dari masa Meḍang (Mataram Kuno) pada Abad 8 Masehi telah menulis sikap penghormatan seorang raja kepada guru. Tertulis dalam prasasti itu ayah Śankhara yang sangat patuh kepada gurunya.

Ayah Sankhara yang dimaksud dalam prasasti ini merujuk kepada sosok Raja Sanjaya, sementara Sankhara sendiri adalah Rakai Panangkaran. Kemudian Rakai Panangkaran juga mengeluarkan prasasti yang menunjukkan sikap menghormati para guru.

Semua cerita ini tertulis jelas pada Prasasti Kalasan yang ditemukan di sekitar halaman Candi Kalasan, Yogyakarta. Prasasti ini menceritakan tentang para guru Raja Śailendra yang memerintahkan pembangunan bangunan suci sebagai tempat pemujaan Dewa Tara di Kalasan.

Pembangunan ini kemudian dilakukan oleh keturunan raja-raja Sailendra yang mendapat persetujuan dari Dinasti Sanjaya. Kelak juga didirikan sebuah vihara untuk para Biksu yang dimuliakan dalam ajaran Agama Buddha.

Dengan ini diketahui bahwa pembangunan vihara ini sebagai tempat untuk pendidikan Agama Buddha Mahayana. Tujuan dari pendirian bangunan ini terlihat dari baris enam Prasasti Kalasan yaitu untuk menghormati guru.

Alternatif Perguruan Tinggi, Deretan Sekolah Kedinasan ini Jadi Favorit Bagi Lulusan SMA

Para Brahmana juga disebut sebagai guru spiritual bagi raja dan masyarakat Jawa Kuno. Karena itulah mereka sering mendapat anugerah berupa hadiah dan hak-hak istimewa dari raja.

Prasasti Dinoyo I (682 Saka atau 760 Masehi) menceritakan tentang kisah Raja Gajayana yang membuat bangunan suci untuk Resi Agastya yang juga merupakan bangunan untuk para Brahmana. Ada juga beberapa prasasti yang memberitakan Raja Rakai Watukura Dyah Balitung (889 – 910 Masehi) memberikan hadiah kepada kalangan agamawan.

Tentunya yang paling fenomenal adalah kisah Perang Ganter yang terjadi di daerah Ganter, sekitar Malang sekarang pada 1222 Masehi. Konflik ini terjadi antara kaum Brahmana dan Raja Kertajaya, yang memerintah Kediri antara 1200-1222 Masehi.

Salah satu muasabab konflik ini adalah perintah dari Kertajaya agar para Brahmana menyembah dirinya. Para Brahmana ini menolak lalu pergi ke Tumapel meminta perlindungan kepada Ken Arok.

Ken Arok yang memang ingin berpisah dari Kediri menyetujui untuk membantu para Brahmana menumpas pasukan Kediri. Dengan bantuan rakyat dan kaum Brahmana, Ken Arok kemudian menyerang Kediri.

Akhirnya dalam pertempuran ini, Ken Arok berhasil memaksa Raja Kertajaya untuk menyerahkan kekuasaannya. Perang Genter pun menandai keruntuhan Kerajaan Kediri lalu bermulanya pemerintahan Dinasti Rajasa di Kerajaan Singasari.

Masyarakat Jawa kuno wajib menghormati guru

Siswa sedang salim kepada guru (Shutterstock: Toto Santiko Budi)
info gambar

Penghormatan kepada guru wajib dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di suatu desa. Hal ini terlihat dalam berbagai prasasti khususnya pada masa pemerintahan Raja Balitung (Medang/Mataram Kuno) sampai Raja Kertajaya (Kerajaan Kaḍiri).

Aturan ini tertulis dalam prasasti pada bagian sapatha (kutukan) yang disebut dengan istilah pañca mahātāka yang memiliki arti lima dosa besar. Menurut Trigangga dalam buku Tiga Prasasti Batu Jaman Sindok, perbuatan-perbuatan yang termasuk dalam lima dosar besar dijelaskan secara lengkap dalam Prasasti Mantyāsih meliputi:

(1) Membunuh seorang brahmana
(2) Melakukan lamwukanyā (pemerkosaan?)
(3) Durhaka pada guru
(4) Membunuh janin
(5) Berhubungan dengan orang yang melakukan kejahatan tersebut di atas

Bedasarkan isi pañca mahātāka ini dalam Prasasti Mantyāsih ini menjelaskan bahwa durhaka kepada guru tergolong sebagai dosa besar. Karena itulah masyarakat Jawa Kuno diharapkan tidak melanggar aturan itu.

Termasuk di sini sangat diwajibkan untuk menghormati para guru dalam kehidupan. Selain pañca mahātāka ada juga sumber data yang menyatakan larangan untuk durhaka kepada guru.

Menggali Sejarah Pendidikan Indonesia di Masa Pendudukan Jepang

Misalnya tertulis dalam Prasasti Wuraṇḍungan (865 Saka atau 943 Masehi). Dalam prasasti tersebut pada baris 6a tertulis, yaitu:

"Demikianlah para pejabat dari bagian desa (anakwanwa) sampai (keturunannya dari) cucu (putu), buyut, goleng anggas, segaris keturunan keluarga masyarakat dan keturunan selanjutnya apabila melanggar perintah raja tidak berbeda dengan suatu tindakan orang (yang) selamanya berbuat tindakan dosa seperti tidak berbakti saat berguru."

Menarik bila kita menyimak isi dari Prasasti Wuraṇḍungan yang menyatakan bahwa tindakan tidak berbakti kepada guru sama halnya melanggar perintah raja. Bahkan hal ini termasuk sebagai tindakan yang berdosa.

Memang pada masa lalu, guru bukan hanya sebagai seorang pengajar, tetapi juga dianggap tokoh keagamaan atau spiritual. Keberadaan guru tidak hanya ada di istana, tetapi juga di masyarakat dengan nama gurudeśa.

Gurudeśa diduga memiliki tugas sebagai penasihat masyarakat yang memiliki masalah pribadi ataupun sosial. Pada perkembangan zaman para gurudeśa ini lebih dikenal dengan dukun atau orang-orang pintar yang tinggal di desa.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini