Rumah Adat Reje Baluntara, Cagar Budaya Tersembunyi di Aceh Tengah

Rumah Adat Reje Baluntara, Cagar Budaya Tersembunyi di Aceh Tengah
info gambar utama

Tidak banyak yang mengetahui tentang keberadaan Rumah Adat Reje Baluntara. Kalau Kawan berkunjung ke Aceh Tengah, singgahlah ke Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh tengah. Kopi Gayo yang terkenal itu berasal dari kabupaten ini.

Di kota ini terdapat Danau Laut Tawar yang keberadaannya mirip laut sehingga disebut sebagai Laut Tawar. Luas danau mencapai 5.472 hektare dan mempunyai volume air 2.537.483.884 meter kubik. Ada pula ikan endemik danau, yaitu ikan depik. Nah, berdekatan dengan danau ini, di salah satu kecamatan yang bernama Kecamatan Lut Tawar terdapat desa bernama Toweren Uken.

Hampir sama dengan kebanyakan desa-desa lain di Aceh Tengah, Toweren Uken didominasi oleh perkebunan kopi. Di samping itu, penduduk Toweren Uken juga mengusahakan pertanian dan perikanan. Terdapat banyak karamba di pinggiran danau. Banyak diusahakan ikan air tawar di sana, seperti ikan mujair.

Nah, di Desa Toweren Uken terdapat peninggalan cagar budaya yang menyimpan nilai-nilai luhur sejarah, kearifan budaya, dan filosofis khususnya bagi masyarakat desa tersebut. Bangunan tersebut berupa rumah panggung. Terbuat secara keseluruhan dari kayu, terlihat kusam tetapi tetap kuat.

Melihat Catatan Rasio Murid dalam Jenjang Pendidikan Indonesia

Melihat kondisi Rumah Adat Reje Baluntara

Potret rumah Adat Reje Baluntara | Foto: Lintas Gayo
info gambar

Apalagi, kondisi rumah kurang terpelihara dan tanpa warna. Hanya sedikit warna kemerahan terlihat mewarnai sebagian ukiran di bagian dinding atas di serambi depan (lepo), itu pun sudah memudar. Di hadapan bangunan rumah adat tersebut, terdapat sebuah batu hitam menyerupai prasasti.

Batu terbagi menjadi dua bagi, di sebelah kanan dan kirinya terdapat tulisan silsilah Raja Baluntara yang pernah mendiami rumah adat tersebut. Rumah Adat Reje Baluntara ini merupakan bangunan tempat tinggal Raja Baluntara secara turun-temurun.

Bangunan yang cukup tua dan terlihat lusuh karena telah wujud di sana sejak abad ke-18. Kata ‘Baluntara’ sendiri mempunyai arti ‘Belantara’. Ini mengartikan Raja Baluntara adalah raja yang menguasai hutan belantara sekitar Toweren pada zaman itu.

Uniknya, bangunan tidak banyak menggunakan paku. Kayu-kayu yang digunakan dibuat seperti ‘knock down’ saling berkait dan mengunci satu sama lain.

Kita masih bisa memasuki bagian dalamnya walau terasa gelap karena tidak terdapat listrik. Siang hari tetap gelap karena jendela-jendela yang ada tidak pernah dibuka. Hampir di setiap dinding dan kayu yang di dalam bangunan tersebut terdapat berbagai ukiran kerawang Gayo.

Cerita Mistik Sultan HB IX, Dengar Bisikan Gaib hingga Bertemu Nyi Roro Kidul

Jenis ukiran ini juga dapat dijumpai pada kain-kain (tradisional) kerawang Gayo. Ukiran khas tadi dapat ditemui di ruang serambi, yaitu pada tiang kayu (vertikal) dan bagian atas dinding dalam (horizontal).

Pada bangunan ini terdapat ukiran yang bermuatan filosofis di setiap konstruksi visualnya. Di bagian dindingnya terdapat berbagai macam motif kerawang, seperti puter tali, emun mupesir, dan emun berkune.

Sementara, terdapat 13 jenis motif ukiran kerawang yang terdapat pada rumah adat, yaitu emun berangkat (awan berarak), emun beriring (awan berbaris), emun berkune (awan bercabang), emun mupesir (awan berpencar), emun mutumpuk (awan berkumpul), puter tali (pilin berganda), pucuk rebung (pucuk rebung), tekukur (pengukiran), mata ni lo (matahari), sarak opat (sarak empat), nege (naga), iken (ikan) dan kurik (ayam).

Disebut rumah adat tujuh ruang

Potret rumah adat reje baluntara | Foto: Cagar Budaya Kemdikbud
info gambar

Rumah adat ini disebut juga Umah Edet Pitu Ruang atau Rumah Adat Tujuh Ruang. Jumlah kamar di dalam bangunan ada empat ruangan, sebuah dapur dan dua serambi masing-masing untuk lelaki dan perempuan sehingga jumlahnya tujuh ruang.

Denah dalam bangunan tersebut adalah lima ruang (berupa lima kamar), dua serambi, masing-masing untuk lelaki dan perempuan, keseluruhan terdapat tujuh ruangan. Setelah penulis melakukan pengamatan ke dalam bangunan tersebut, terdapat empat ruangan kamar yang sama luasnya (kamar oruangtua raja, kamar raja, dua kamar anak untuk lelaki dan perempuan), dua serambi dan satu serambi depan (lepo).

Fenomena Sosial dan Eksistensi Tradisi Buwuhan dalam Hajatan

Maka, keseluruhannya berjumlah tujuh ruangan. Pernah terjadi kebakaran pada rumah tersebut sehingga menyebabkan ada bagian ruamh yang terbakar dan tidak berwujud ruangan lagi, yaitu bagian dapur. Kemungkinan bagian dapur ini ada di bagian serambi perempuan.

Sehari-hari bangunan rumah dalam keadaan terkunci. Namun, dibuka saat rumah adat dan sekitarnya dijadikan objek suatu acara. Kadang-kadang dibuka untuk tujuan penelitian, kunjungan resmi dari pejabat berwenang dan wisatawan asing. Namun, keadaan yang terakhir ini tidak selalu terjadi karena sang pemilik rumah,yang merupakan keturunan Raja Baluntara belum menyerahkan sepenuhnya rumah adat kepada pihak desa.

Mungkin perlu ada keterlibatan pemangku kepentingan di daerah supaya rumah adat tersebut dapat bermanfaat bagi generasi berikutnya. Hal itu sebagai langkah melestarikan dan menjaga warisan nenek moyang, menggambarkan keberadaan bagian dari suku Gayo yang pernah ada di Aceh Tengah.*

Referensi: Motif Ukiran Kerawang Gayo pada Rumah Adat Gao di Kabupaten aceh Tengah Provinsi Aceh | Motif Kerawang Gayo Busana Adat Pengantin Gayo Aceh Tengah | The Influence of Architecture of Umah Pitu Ruang on Gayonese Modern Housing in Takengon | Local Wisdom in Coffee House Design to Promote Gayo Culture and Tourism | Kajian Kondisi Perikanan di Danau laut Tawar Aceh Tengah

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AP
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini