Budidayakan Maggot, Cara Murah Penuhi Pakan Ternak dan Kurangi Limbah Organik

Budidayakan Maggot, Cara Murah Penuhi Pakan Ternak dan Kurangi Limbah Organik
info gambar utama

Tidak pernah terpikirkan dalam benak Hasyim Ali Shahab akan terjun sebagai pengusaha. Pria lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) tahun 2016 ini memang sempat bekerja sebagai konsultan perusahaan dan kebijakan publik di Jakarta.

Tetapi ketika pendemi mendera, banyak karyawan dari kantornya harus bekerja dari rumah, termasuk Hasyim. Karena lama bekerja dari rumah, membuatnya memilih untuk kembali ke kampung halaman di Jember, Jawa Timur (Jatim).

Di Jember, Hasyim ternyata banyak bertemu dengan teman sekolah atau warga sekitar. Dirinya juga mulai melihat beragam bisnis masyarakat seperti perkebunan, perikanan, perternakan dan lain-lain.

Pada waktu itu, dirinya kemudian bertemu dengan kawan sekolahnya, Muhammad Ghofur yang memperkenalkan model bisnis baru yaitu budidaya maggot atau black soldier fly (bsf). Ghofur sendiri memang telah aktif dalam dunia zero waste atau gaya hidup nol-sampah.

Rintis Agroindustri untuk Desa Wisata Pujon Kidul, Amirul Muttaqin: Inovasi Itu Penting

Dari sinilah, pada awal 2021 Haysim dan Ghofur memulai bisnisnya yang bernama Rantai Pakan dengan produk utamanya adalah ternak maggot. Walau awalnya tidak memiliki konsep, sekarang start up mereka sedang melakukan inkubasi dengan salah satu perusahaan besar dan pemerintah daerah (pemda).

Bagi Hasyim, berternak maggot ternyata bisa menjadi peluang bisnis yang sangat menguntungkan. Pasalnya maggot merupakan pakan yang sekarang banyak dicari oleh para peternak baik ikan ataupun unggas.

Maggot memang sangat istimewa dibandingkan bahan baku pakan alternatif lainnya karena mengandung nutrien yang lengkap dengan kualitas baik. Apalagi persoalan pasokan pakan sejak lama sudah dirasakan oleh para pembudi daya, walau pasokan lancar, tetapi harga di pasaran masih mahal.

"Sehingga harus muncul inovasi di bidang pakan alternatif dan harganya harus terjangkau," ucap Hasyim saat dihubungi oleh GNFI, Rabu (24/11/2021).

Hasyim juga mengutarakan selama ini pakan alternatif yang ada lebih banyak mengurangi kualitas karena biaya yang murah. Tetapi bila menggunakan maggot, selain harga yang murah, kualitas yang ada juga tetap terjamin.

Selain itu produksi maggot pun bisa dilakukan dalam waktu yang singkat dan berkesinambungan. Sehingga jumlahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan baik untuk ikan maupun unggas.

Keunggulan lainnya, menurut Hasyim adalah pengaplikasian teknologi produksi maggot yang cukup mudah dilakukan. Sementara itu, dalam prosesnya maggot juga bisa diproduksi menjadi tepung (mag meal), sehingga bisa menekan biaya produksi.

Efektif mengurangi sampah organik

Maggot hasil produksi Rantai Pakan | Dokumen: Rantai Pakan
info gambar

Seperti diutarakan sebelumnya, teknologi produksi maggot memang cukup mudah dilakukan. Pertama perternak harus menyiapkan maggot terlebih dahulu mulai dari telur, lalu ditetaskan sampai menjadi larva.

Kemudian jelas Hasyim, maggot itu diberikan makan dari limbah organik, biasanya sampah dapur seperti nasi, buah, atau sayur. Dalam waktu 14 hari, larva itu akan membesar.

"Magot usia 14 hari kadar proteinnya paling tinggi untuk digunakan pakan ternak," sebut Hasyim.

Nantinya dari hasil produksi selama 14 hari itu, mereka akan memanen 90 persen sedangkan 10 persen lagi akan dibudidayakan. Sehingga budidaya maggot yang mereka lakukan akan berkelanjutan dan tidak perlu lagi membeli bibit.

Hasyim mengungkapkan dengan metode yang mereka lakukan telah terbukti mengurangi biaya budidaya maggot. Sehingga teknologi yang digunakan tidak terlalu banyak tetapi caranya bisa bermacam-macam.

Peran Platform Edukasi dalam Mendukung Proses Mengajar Guru di Era Digital

Dirinya juga menjelaskan budidaya maggot ini cukup bermamfaat untuk mengurangi jumlah sampah organik, terutama di rumah. Tidak tanggung-tanggung, 750 kg maggot BSF dapat mengurai sekitar 2 ton sampah organik hanya dalam waktu singkat yakni sekitar 2 hingga 3 minggu saja.

Menurutnya hal ini lebih efektif daripada solusi pengurangan sampah lain seperti metode kompos. Selain memerlukan lahan yang luas, metode ini juga membutuhkan waktu yang lama.

Budidaya maggot cukup membantu karena akan mengurangi sampah rumah tangga yang biasanya dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA). Apalagi menurut Hasyim, hampir 40 persen limbah organik setiap hari gagal diolah, sehingga bisa mencemari lingkungan.

Keunggulan lainnya terletak dalam aspek ekonomi, maggot ternyata lebih menguntungkan secara ekonomi. Selain panennya yang cepat harga jualnya pun cukup tinggi.

Apalagi, ungkap Hasyim, mulai banyak testimoni para peternak yang mengakui penggunaan pakan maggot menghasilkan budidaya yang berkualitas. Seperti diketahui, maggot mempunyai kadar protein kurang lebih 43 persen, apabila dijadikan pelet, maka kadar proteinnya antara 30-40 persen.

Bahkan tidak hanya maggot, tetapi kasgot (bekas maggot) yaitu sisa makanannya bisa digunakan sebagai pupuk organik. Walau berasal dari limbah sampah, pupuknya yang dihasilkan tidak berbau dan mampu menyuburkan tanah.

Mulai melakukan edukasi kepada warga

Start Up Rantai Pakan | Dokumen pribadi Rantai Pakan
info gambar

Hasyim mengakui budidaya maggot ini baru belakangan ini dilirik oleh masyarakat. Sehingga perlu waktu untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai konsep budidaya ini.

Tetapi jelasnya banyak komunitas yang mulai tertarik dengan budidaya ini, salah satunya adalah masyarakat yang memiliki permasalahan sampah rumah tangga. Maggot dianggap menjadi solusi yang baik dan juga tentunya murah.

Hingga kini Rantai Pakan telah memulai bekerjasama dengan pesantren di daerah Jatim dan juga Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Memang, baik pesantren dan Bumdes memiliki limbah dapur yang cukup banyak.

Di sini mereka melakukan edukasi kepada masyarakat, memberikan teknologi produksi maggot dan juga membentuk eksosistem. Memang bagi Hasyim tanpa ada ekosistem yang baik, bisnis maggot akan stagnan.

Walau banyak respons positif, Hasyim mengakui pengetahuan tentang budidaya maggot masih minim di masyarakat, sehingga perlu kesabaran. Selain itu strategi pengelolaan limbah pun harus diatasi sehingga tidak menimbulkan konflik dengan warga.

"Karena mengolah limbah juga ini menimbulkan bau, jadi harus lakukan inovasi agar tidak menjadi isu yang mengganggu," paparnya.

Inovasi Produk Cokelat Edamame, Rizqo Palefi: Kami Ingin Jadi Trendsetter Olahan Edamame

Tetapi menurutnya industri maggot sekarang makin banyak dikenal dan diteliti, sehingga pasarnya akan lebih terbuka. Apalagi para pengusaha maggot sekarang pun masih tergolong sedikit jadi akan memperkecil persaingan.

Hasyim sendiri berharap para pemain baru di bisnis maggot akan banyak mengeluarkan inovasi. Karena memang hasil produksi maggot tidak hanya bisa diaplikasikan kepada pakan untuk ternak.

Tetapi juga ke berbagai bahan baku turunan untuk kebutuhan industri lain, seperti farmasi ataupun kosmetik. Karena itu dengan beragam pemain lain yang ikut terjun ke industri ini diharapkan memperkaya produk dari maggot.

Karena itu, beragam inkubasi yang ditawarkan baik oleh perusahaan dan pemda sangat membantu pelaku usaha baru. Seperti program Perwira (pemuda wirausaha) yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim, bagi Hasyim sangat membantu perkembangan start up pemula terutama di kota kecil.

"Akses yang diberikan untuk berhubungan dengan pemerintah dengan investor dampaknya sangat positif terhadap perkembangan startup," pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini