Desa Wisata Liya Togo, Peninggalan Kerajaan Buton di Wakatobi

Desa Wisata Liya Togo, Peninggalan Kerajaan Buton di Wakatobi
info gambar utama

Kabupaten Wakatobi di Provinsi Sulawesi Tenggara dikenal hingga ke mancanegara karena memiliki keindahan bawah laut yang menakjubkan. Di Wakatobi terdapat ratusan jenis terumbu karang dan ribuan spesies ikan. Saat mengunjungi kawasan ini, Anda akan dimanjakan dengan pemandangan gugusan pulau, hamparan pasir putih dengan, gradasi air laut dari biru mudah ke biru tua, hingga atol atau pulau karang berbentuk lingkaran.

Selain wisata bawah laut, di Wakatobi juga ada sebuah desa yang bisa dikunjungi wisatawan untuk melihat sisi lain dari kehidupan masyarakat setempat. Ialah Desa Wisata Liya Togo di Kecamatan Wangi-wangi Selatan yang menawarkan pesona kebudayaan dan memiliki berbagai situs peninggalan sejarah.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan bahwa potensi Desa Wisata Liya Togo dapat membantu masyarakat setempat dalam meningkatkan perekonomiannya.

"Saya sangat berbangga bisa sampai di Desa Wisata Liya Togo di Kabupaten Wakatobi. Saya sebelumnya sudah menerjunkan tim, dan ada banyak potensi yang dapat kita kembangkan. Desa ini luar biasa potensinya dan itu terbukti karena berhasil menembus 50 besar," kata Menparekraf Sandiaga Uno.

Keanekaragaman Hayati dan Potensi Wisata TN Teluk Cenderawasih

Potensi wisata sejarah di Desa Wisata Liya Togo

Salah satu objek wisata yang bisa dikunjungi di Desa Wisata Liya Togo adalah Benteng Liya. Benteng ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Buton yang juga dikenal dengan nama Benteng Keraton. Keunikan benteng ini yaitu dibangun dari susunan batu gunung kemudian direkatkan dengan kapur dan putih telur. Benteng ini memiliki luas hingga 52 hektare dan terdiri 12 lawa atau pintu yang bisa jadi pintu keluar bagi masyarakat kerajaan untuk berinteraksi dengan masyarakat yang tinggal di sekitar.

Di dalam kawasan benteng tersebut, pengunjung bisa melihat sebuah masjid tua bernama Masjid Mubarok yang dibangun pada tahun 1546. Namanya juga dikenal masyarakat sebagai Masjid Keraton Liya. Di bagian kri masjid ini terdapat pemakaman yang cukup lebar dan ciri khasnya adalah barisan batu karang yang ditanam ke tanah. Area disekitar malam dikelilingi pagar batu dan bunga kamboja.

Konon makam itu adalah tempat peristirahatan seorang pemuda bernama sakti Talo-Talo yang diberikan daerah kekuasaan Liya Togo oleh Kesultanan Buton. Menurut cerita yang beredar di masyarakat setempat, Talo-Talo dianggap berjasa dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di sana.

Selain keberadaan masjid, di kawasan desa juga ada baruga yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk bermusyawarah. Berada di kepulauan, Desa Wisata Liya Togo juga bisa memberikan pengalaman baru pada pengunjung untuk melihat kehidupan warga yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan. Selain menyaksikan kegiatan nelayan, pengunjung juga dapat melihat proses budidaya rumput laut dan memasak menu masakan tradisional.

Melihat Kehidupan Masyarakat Desa Agraris di Lembang Nonongan Toraja Utara

Bantuan dari Kemenparekraf

Desa Wisata Liya Togo juga dikenal dengan produk kriya seperti kain tenun yang dijadikan sarung, selendang, tas, hingga ikat kepala. Kemudian ada pula kerajinan anyaman tikar, mengolah limbah jadi tas, dang katu bangko atau tudung saji.

Ibu-ibu di desa biasa melakukan homoru atau kegiatan menenun di sela-sela kegiatan utama sebagai petani atau nelayan. Kain ini juga sering disebut wuray ledha. Biasanya untuk menyelesaikan sebuah kain sarung siap pakai dibutuhkan waktu menenun hingga satu bulan.

Sebagai bentuk dukungan untuk mengembangkan produk ekonomi kreatif yang dijalankan masyarakat desa Liya Togo, Menparekraf memberikan dua buah mesin jahit dan dua mesin obras. Sebab, selama ini diketahui masyarakat di desa belum memiliki mesin jahit dan mesin bordir.

Selain produk kerajinan tangan, ada pula sektor kuliner yang dikembangkan masyarkat desa. Pengunjung bisa mencoba soami (kudapan dari singkong dan parutan kelapa), sirup tangkulela (belimbing wuluh), jus sampalu dari buah asam yang banyak ditemukan di sekitar benteng, keripik singkong, keripik ikan, dan lumpia abon ikan.

"Kita harapkan deretan potensi ini bisa membangkitkan ekonomi di Kabupaten Wakatobi, membuka lapangan kerja, dan Insyaallah bisa mendapatkan keberkahan," kata Sandiaga.

Desa Bubohu, Wisata Religi Berbasis Alam di Kabupaten Gorontalo

Seni budaya Desa Wisata Liya Togo

Berkunjung ke desa wisata satu ini, Anda bisa menyaksikan kesenian dan kebudayaan yang masih dilestarikan masyarakat. Salah satunya adalah tari-tarian. Jangan lewatkan kesempatan untuk melihat penampilan Honari Mosega, tari tradisional kebanggan masyarakat Liya.

Tarian ini bercerita tentang semangat para prajurit yang akan berperang mengusir musuh dan juga ditampilkan sebagai lambang kegembiraan dalam menyambut para prajurit yang pulang dengan kemenangan. Honari Mosega merupakan tarian perang asli Liya yang dulunya jadi tarian pengintai musuh dan diperkirakan sudah mulai terjadi sejak pertengahan abad XI di Pulau Oroho.

Kemudian ada pula Posepaa, atraksi saling tendang antara Yro Wawo dengan Yro Woru. Yro Wawo merupakan sebutan untuk masyarakat dari wilayah Timur lapangan Posepaa sedangkan Yro Woru adalah sebutan untuk masyarakat dari wilayah Barat. Pada masa lalu, Posepaa merupakan ajang untuk menyeleksi calon prajurit sebelum ditugaskan ke medan perang.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini