Luas dan Ragam Jenis Tanaman yang Dikelola Perkebunan Besar di Indonesia

Luas dan Ragam Jenis Tanaman yang Dikelola Perkebunan Besar di Indonesia
info gambar utama

Pengelolaan lahan di Indonesia secara pribadi maupun korporasi dibagi menjadi beberapa jenis, di mana salah satu jenisnya adalah melalui perkebunan. Terdapat 2 jenis perkebunan menurut bentuk dan skala usahanya mengacu pada Konsep dan Definisi Baku Statistik Pertanian 2012 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Dua jenis perkebunan tersebut yakni Perkebunan Besar dan Perkebunan Rakyat. Perkebunan Besar adalah perkebunan yang diselenggarakan atau dikelola secara komersial oleh perusahaan yang berbadan hukum. Perkebunan besar terdiri dari Perkebunan Besar Negara (PBS/PTP/PNP) dan Perkebunan Besar Swasta Nasional/Asing (PBS).

Sementara itu, Perkebunan Rakyat merupakan pengelolaan lahan perkebunan secara pribadi dan umumnya tidak berbadan hukum. Jenis-jenis tanaman yang banyak ditanam di lahan perkebunan rakyat umumnya tanaman hortikultura atau sayuran. Sedangkan lahan perkebunan besar di Indonesia umumnya ditanami dengan jenis tanaman kopi, karet, kelapa sawit, hingga tembakau.

Taman Lumut, Koleksi Unggulan Kebun Raya Cibodas

Luas lahan perkebunan besar di Indonesia

BPS memaparkan laporan dari Kementerian Pertanian mengenai luas lahan perkebunan berdasarkan jenis tanamannya. Data yang terlampir merupakan data tahunan yang dimulai dari tahun 2000 hingga yang terbaru tahun 2020. Pada laporan ini, data yang ditampilkan hanya data dari Perkebunan Besar per tahun 2020.

Luas lahan yang dikelola oleh Perkebunan Besar berdasarkan jenis tanaman. | Infografis : GoodStats/Angelia
info gambar

Berdasarkan data yang dilampirkan oleh BPS tersebut, kelapa sawit menjadi jenis tanaman yang mendominasi pengelolaan lahan perkebunan besar di Indonesia setiap tahunnya selama lebih dari 20 tahun.

Luasnya lahan perkebunan yang ditanami kelapa sawit di Indonesia, hal tersebut sejalan dengan besarnya produksi olahan kelapa sawit. Salah satu bentuk produksi turunan kelapa sawit yang paling umum ditemui adalah minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO).

Selain minyak kelapa sawit, beberapa sumber juga menyebutkan produk turunan atau olahan kelapa sawit di Indonesia, antara lain gula merah nira sawit, arang briket dari cangkang kelapa sawit hingga Oil Spill Dispersant (OSD) yang dapat membantu proses penanganan minyak bumi di perairan dan tanah.

Dominasi perkebunan kelapa sawit di Indonesia sebagian besar tersebar di Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan yang jika dikalkulasi setara dengan 80 persen dari total luas lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Jika Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatra menjadi rumah bagi perkebunan kelapa sawit, maka Pulau Jawa menjadi rumah bagi perkebunan teh. Dari sekian hektare luas area perkebunan teh di Indonesia, Provinsi Jawa Barat menjadi ladang teh nasional.

Luas perkebunan teh yang berada di Jawa Barat per tahun 2021 adalah 86.976 hektare atau setara dengan 77,6 persen dari total luas area perkebunan teh di Indonesia. Angka tersebut merupakan akumulasi dari luas lahan perkebunan teh yang dikelola oleh perkebunan besar dan perkebunan rakyat.

Memiliki luasan lahan perkebunan teh yang cukup besar, hal tersebut juga berdampak pada produksi teh dalam skala nasional. Per tahun 2020, produksi teh di Indonesia sebanyak 128.016 ton.

Indonesia pun menjadi salah satu negara produsen teh terbesar di dunia berdasarkan data Food and Agriculture (FAO) 2019. Indonesia berada di urutan ke-7 sebagai negara produsen teh terbesar di dunia dengan produksi teh nasional pada tahun 2019 sebanyak 137.803 ton.

Kebun Teh Cikuya Bernuansa Puncak Bogor

Dampak dari dominasi perkebunan kelapa sawit

Gambaran perkebunan kelapa sawit di Indonesia | Foto : ShutterStock/ Edgaras Sarkus
info gambar

Mendominasi jenis tanaman yang ditanam di perkebunan besar Indonesia, luas lahan perkebunan kelapa sawit tercatat terus tumbuh dan semakin luas. Hal ini tentunya membawa dampak berantai, tidak dapat lepas dari dampak lingkungan hingga sosial budaya di mana perkebunan tersebut berada.

Berdasarkan jurnal “Dampak Ekonomi dan Lingkungan Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit (Studi Kasus: Desa Penyabungan, Kecamatan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi)” yang ditulis oleh Rany Utami dan dua rekannya, salah satu dari sekian dampak yang muncul karena konversi lahan menjadi perkebunan sawit adalah dampaknya terhadap lingkungan.

Berdasarkan jurnal tersebut, perubahan kondisi lingkungan yang dialami oleh masyarakat akibat perubahan lahan menjadi perkebunan kelapa sawit adalah terjadinya pencemaran air, berkurangnya populasi satwa, serta berkurangnya kuantitas air tanah atau kekeringan.

Selain itu, mengutip jurnal Obidzinski yang berjudul “Environmental and social impacts of oil palm plantations and their implications for biofuel production in Indonesia” yang menganalisis dampak lingkungan dari kelapa sawit, dan hasilnya menyatakan bahwa pengembangan (ekspansi) kelapa sawit mengakibatkan eksternalitas seperti pencemaran air, erosi tanah, dan pencemaran udara.

Di samping itu, terdapat juga dampak sosial-ekonomi karena adanya perkebunan kelapa sawit. Industri kelapa sawit Indonesia berperan besar sebagai penggerak roda perekonomian nasional dengan menyumbangkan total ekspor di tahun 2016 sebesar Rp228 triliun (dengan kurs setara Rp13.481,82/dolar AS).

Total ekspor tersebut mencatatkan kelapa sawit sebagai komoditas penyumbang nilai ekspor terbesar, lebih besar dari total ekspor migas. Hal tersebut turut berdampak pada terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Melihat bagian kecil dari perkebunan kelapa sawit tersebut, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan dan diselesaikan untuk mengoptimalkan manfaat atau benefit industri kelapa sawit, di antaranya isu lahan, produktivitas, kualitas, fair-trade, sustainability, dan lain-lain.

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menjelaskan perlunya kajian lebih mendalam untuk menganalisis dampak dan tantangan perkembangan industri kelapa sawit terhadap kesejahteraan dan kemajuan wilayah.

Selain itu, juga perlu diidentifikasi dan dianalisis faktor-faktor strategis yang mempengaruhinya agar dapat disusun strategi untuk mengoptimalkan dampak positifnya dan menyelesaikan tantangan yang dihadapi.

Tidak hanya terfokus pada perkebunan kelapa sawit di Indonesia, pengelolaan perkebunan besar diharapkan tidak mengesampingkan berbagai dampak negatif yang timbul. Selain mengupayakan profit oriented, para pengelola perkebunan besar terlepas dari segala jenis tanaman yang ditanam, harus mengupayakan keberlanjutan perkebunan sehingga dampak negatif yang ditimbulkan dapat diminimalisir dan win-win solutions untuk berbagai pihak, termasuk masyarakat sekitar.

4 Kebun Kopi di Indonesia untuk Mempelajari Kopi Sambil Berwisata

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Widhi Luthfi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Widhi Luthfi.

WL
IA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini