Potret Eksistensi Anggrek Pensil, Si Ratu Anggrek dari Bengkulu

Potret Eksistensi Anggrek Pensil, Si Ratu Anggrek dari Bengkulu
info gambar utama

Kawan pernah mendengar Raflesia Arnoldi, bukan? Itu adalah nama sebuah bunga cantik yang sering dijumpai di pedalaman hutan Bengkulu. Namun, Bengkulu yang berada di pesisir selatan Pulau Sumatra ini ternyata memiliki lebih banyak keanekaragaman flora yang menarik. Salah satunya adalah bunga anggrek pensil.

Bunga ini dinamai anggrek pensil karena bercirikan daun yang tipis memanjang dan bercorak ungu agak keputihan. Uniknya, anggrek pensil memiliki habitat asli yang hanya berada di Kawasan Cagar Alam Danau Dendam Tak Sudah, Provinsi Bengkulu.

Bunga anggrek pensil yang merupakan flora endemik ini memang begitu indah dan memanjakan mata bagi yang melihatnya. Dilansir dari laman sainsindonesia, kecantikan dari anggrek pensil mampu memikat hati para bangsawan Inggris yang berada di Bengkulu pada kala itu.

Dengan begitu, membuatnya mendapatkan sebutan sebagai Queen of Orchids atau Ratu Anggrek. Literatur sejarah pada tahun 1882 menyebutkan bahwa anggrek pensil mendapatkan penghargaan First Class Certificate dari pemerintah kolonial Inggris.

Melihat Potensi Perikanan di PPN Pelabuhan Ratu Jawa Barat

Keindahan yang disuguhkan anggrek pensil bukan hanya karena bentuknya yang menawan, tetapi didukung oleh kemampuan bunga untuk menjaga kesegaran yang tahan lama, yaitu selama 22 hari. Bunga ini hidup liar di area Danau Dendam Tak Sudah karena lokasi ini memang menjadi salah satu pusat kekayaan hayati di Bengkulu. Sayangnya, saat ini anggrek pensil masuk ke dalam flora yang langka untuk ditemukan.

Dikutip dari laman greeners, pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu menyebutkan bahwa anggrek pensil dengan nama latin Papilionanthe hookeriana menjadi spesies yang terancam punah. Sejak penelusuran beberapa tahun terakhir, anggrek pensil sudah jarang ditemukan lagi di habitat aslinya.

Bahkan, disebutkan akibat eksploitasi dari para pengunjung maupun pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal itu menyebabkan populasi “Ratu Anggrek” ini mengalami penyusutan drastis sejak tahun 1990-an.

Kemeriahan Puncak Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2021 di NTT

Anggrek pensil terancam punah

Foto : Iddianan (inaturalist.org)
info gambar

Para peneliti lingkungan Bengkulu hanya menemukan dua lokasi keberadaan anggrek pensil di habitatnya. Jumlah anggrek pensil di lokasi pertama ada 50 batang, sedangkan di lokasi kedua hanya didapatkan total 9 batang. Tanaman anggrek pensil menjadi lebih sulit untuk dikembangkan karena biji bunga yang tidak memiliki cadangan makanan, menyebabkan angka harapan hidup anggrek pensil ini rendah.

Ancaman kepunahan ini membuat BKSDA bersama tim peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu bergerak untuk mempertahankan eksistensi anggrek pensil. Beberapa upaya dilakukan, seperti menggunakan stek batang anggrek untuk melakukan perbanyakan anggrek pensil yang dapat dilepas kembali ke habitat liar ketika tanaman sudah hidup. Namun, upaya ini ternyata tidak cukup berhasil karena beberapa batang tanaman anggrek pensil yang telah hidup dan siap dilepas mengalami pencurian.

Setelah mengalami kegagalan, tim peneliti kembali mengembangkan teknik terbaru, yaitu dengan teknik kultur jaringan. Sumber dari laman tropis menyebutkan bahwa para peneliti memanfaatkan teknik kultur jaringan terhadap anggrek, hasil penangkaran BKSDA Provinsi Bengkulu guna mempercepat peningkatan pengembangan tanaman anggrek pensil.

Berdasarkan sumber dari laman antaranews, BKSDA Provinsi Bengkulu menargetkan penyebaran tanaman anggrek baru mencapai 5.000 batang sebagai hasil penyemaian dari Pengendali Ekosistem Hutan (PEH). Program ini berjalan lamban karena keterbatasan biji bunga pada anggrek pensil untuk mengembangkan bibit baru.

Pohon Jati Kluwih Petilasan Sunan Kalijaga Dipercaya Berusia 15 Tahun

Meskipun begitu, adanya teknik kultur jaringan tentunya memberikan celah bagi perkembangan anggrek pensil. Teknik kultur jaringan ini dilakukan dengan membudidayakan jaringan atau sel tanaman induk anggrek pensil, menjadi tanaman yang memiliki kesamaan sifat dengan induknya. Melalui budidaya kultur jaringan, saat ini anggrek pensil sedang berjuang dalam proses penumbuhannya.

Kawan GNFI tidak perlu risau, kita masih bisa menjumpai anggrek pensil yang tetap dibudidayakan di lokasi taman khusus konservasi plasma nutfah dan pengembangbiakkan massal di Provinsi Bengkulu. Semoga keberhasilan tim peneliti untuk mempertahankan populasi anggrek pensil melalui upaya teknik kultur jaringan tersebut.

Mari kita dukung upaya ini dengan menyebarluaskan informasi anggrek pensil sebagai spesies langka. Sehingga, mencegah adanya eksploitasi dan kepunahan, serta masih bisa dinikmati keindahannya sebagai salah satu kekayaan flora Indonesia.*

Referensi: sainsindonesia | greeners | tropis | antaranews

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BW
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini