Mengenal Lutra Sumatrana, Berang-Berang Hidung Berbulu yang Sempat Dianggap Punah

Mengenal Lutra Sumatrana, Berang-Berang Hidung Berbulu yang Sempat Dianggap Punah
info gambar utama

Sering dianggap sebagai hama oleh para petani ikan dan perusak lahan bagi petani di area sawah, berang-berang nyatanya merupakan salah satu hewan yang memiliki peran sangat penting dalam siklus ekosistem di lahan basah.

Sebagai mamalia karnivora sekaligus hewan semi akuatik yang memiliki 13 jenis berbeda, di Indonesia sendiri berang-berang berperan besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem sehingga kerap dijadikan indikator untuk mengetahui tingkat kelestarian lingkungan di alam bebas.

13 jenis berang-berang yang dimaksud sebenarnya merupakan jumlah yang tersebar secara global, namun jika mengerucut ke wilayah Asia Tenggara khususnya Indonesia, hanya terdapat empat jenis berang-berang yang dapat ditemui, yaitu berang-berang utara, berang-berang hidung berbulu, berang-berang cakar kecil, dan berang-berang bulu licin.

Sayangnya, selama ini tak dimungkiri masih banyak ditemui berang-berang yang dijadikan sebagai hewan peliharaan terutama individu yang masih berusia kecil. Di sejumlah situs jual beli online, masih dengan mudah ditemui perdagangan anak berang-berang yang dijual dengan harga mulai dari Rp500 ribu sampai Rp1 juta per ekor.

Padahal, dari ke-empat jenis berang-berang tersebut, populasi tiga di antaranya berada di status mulai diwaspadai dan rentan, sementara itu yang berada di tingkat kelangkaan lebih tinggi yakni berang-berang hidung berbulu berada di status terancam.

Seperti apa wujud dari berang-berang hidung berbulu yang saat ini terancam?

Mengenal 5 Kucing Hutan Nan Eksotis di Sumatra yang Terancam Punah

Karakteristik berang-berang hidung berbulu

berang-berang hidung berbulu
info gambar

Jika dilihat sekilas, nyatanya memang sedikit sulit untuk membedakan ke-empat bahkan ke-13 jenis berang-barang yang ada di dunia. Bahkan untuk berang-berang hidung berbulu (Lutra sumatrana), yang secara global dikenal juga dengan nama hairy-nosed otter pada awalnya sempat diidentifikasi sebagai jenis yang sama dengan berang-berang utara (Lutra lutra).

Namun perbedaan berang-berang satu ini terletak pada bagian hidungnya yang memiliki bentuk cenderung membulat nyaris oval dibanding jenis lainnya dengan hidung yang agak membentuk segitiga.

Lain itu sesuai namanya, hidung dari berang-berang satu ini memang ditumbuhi dengan rambut atau bulu-bulu halus, berbeda dengan hidung berang-berang utara yang tidak ditumbuhi rambut.

Melansir laman berang-berang.com, jenis satu ini memiliki tubuh dengan panjang mencapai 95-133 sentimeter, ditambah dengan ekor berbentuk bulat silindris yang memiliki panjang 35-51 sentimeter.

Soal bobot, berang-berang hidung berbulu memiliki berat yang berkisar antara 5-8 kilogram, dengan tubuh lebih ramping dan panjang. Karena bentuk tubuh tersebut pula, jenis berang-berang satu ini dikenal dapat bergerak lebih bebas dan lincah serta meliuk secara leluasa.

Memiliki tubuh yang dilapisi dengan bulu berwarna coklat gelap di bagian atas, kemudian berwarna lebih terang pada bagian bawah dan perut, selain itu ada juga garis corak putih kontras mulai dari bagian bibir atas sampai ke leher.

Karna Karnivora, mereka bertahan hidup dengan memburu ikan dan lebih memilih yang bergerak lambat seperti lele dan gabus.

Bicara soal habitat, berang-berang hidung berbulu di Sumatra kerap ditemukan di daerah rawa aliran Sungai Musi, Lampung, serta di rawa hutan gambut Kalimantan. Sementara itu di luar wilayah Indonesia hewan satu ini kerap ditemui di Malaysia, Kamboja, Thailand, dan Vietnam.

Ikan Bilih, Spesies Endemik Penghuni Danau Singkarak yang Terancam Punah

Pernah dianggap punah, satu-satunya yang berstatus terancam di Asia Tenggara

Lutra Sumatrana
info gambar

Pertama kali diidentifikasi pada tahun 1865 oleh seorang ilmuwan bernama Gray, nyatanya di kisaran tahun 1990-an, tepatnya di tahun 1998 berang-berang hidung berbulu sempat dianggap punah.

Penemuan kembali di Indonesia baru terjadi sekitar tahun 2005 di pinggir jalan dekat sungai Musi yang sayangnya ditemukan dalam keadaan mati karena terlindas mobil. Setelah itu, penemuan serupa mulai kerap dilaporkan terjadi di Lampung, Jawa, dan Kalimantan.

Di saat yang bersamaan, berang-berang hidung berbulu sendiri saat ini merupakan jenis yang paling langka dan banyak dicari oleh para peneliti. Pencarian tersebut dilatarbelakangi karena masih minimnya informasi terkait morfologi dari hewan satu ini secara mendalam, mulai dari siklus bereproduksi hingga tingkah lakunya secara sosial ketika hidup di alam bebas.

Berdasarkan klasifikasi yang dimuat versi IUCN, hewan satu ini berada di status terancam (endangered). Faktor yang memengaruhi sulitnya penemuan dan ancaman kepunahan berang-berang hidung berbulu disebabkan oleh perburuan liar untuk dijadikan hewan peliharaan, kehilangan habitat, kematian secara tidak sengaja di jalan, hingga polusi.

Seperti yang telah disebutkan, dari ke-empat jenis berang-berang yang ada di Asia Tenggara hanya jenis hidung berbulu yang berada di status terancam, sedangkan tiga sisanya yaitu berang-berang utara berada di status hampir terancam, sementara berang-berang cakar kecil dan berang-berang bulu licin berada di status rentan.

Mengenai status perlindungan, berang-berang hidung berbulu menjadi salah satu satwa yang dilindungi serta tidak boleh diambil terutama dijual karena terdaftar dalam Appendix II of the CITES dan secara legal dilindungi di seluruh negara. Adapun di Indonesia sendiri, jenis berang-berang satu ini termasuk ke dalam satwa dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1999.

Ragam Satwa Endemik Indonesia yang Terancam Punah dan Upaya Pelestariannya

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini