Wujud Situs Watu Kucur, Bangunan yang Diyakini Tempat Pemujaan Zaman Majapahit

Wujud Situs Watu Kucur, Bangunan yang Diyakini Tempat Pemujaan Zaman Majapahit
info gambar utama

Struktur bangunan suci peninggalan leluhur yang unik dan rumit ditemukan oleh tim Ekskavasi Situs Watu Kucur Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur (Jatim) setelah melakukan ekskavasi selama 10 hari.

Dikabarkan oleh Solopos, Minggu (28/11/2021) Situs Watu Kucur terdapat di Desa Dukuhdimoro, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Provinsi Jatim. Situs ini terdapat di lahan perkebunan tebu milik Setyo Budi, warga desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jatim.

Sejak Kamis (7/10/2021), tim melakukan eskavasi dan baru selesai pada Sabtu (16/10/2021). Ekskavasi ini berfokus pada lahan berukuran 15×15 meter persegi yang dipercaya sebagai lahan keramat oleh warga sekitar.

Hasil dari penggalian itu berhasil menemukan struktur kuno yang terpendam di dalam tanah. Situs Watu Kuncur ini merupakan bangunan kuno yang berbentuk persegi dengan strukturnya tersusun dari bata merah.

Dinukil dari Kompas, struktur ini terkubur di dalam tanah dengan kedalaman 30 hingga 40 sentimeter. Bangunan ini memiliki ukuran panjang 34 sentimeter, lebar 24 sentimeter, serta tebal bata 9 sentimeter.

Terlihat juga pada bagian atas ada 10 buah umpak serta sebuah yoni dari batu andesit yang tidak terkubur di dalam tanah. Yoni ini memiliki panjang dan lebar 100 sentimeter dengan ukuran tinggi 96,5 sentimeter.

Candi Panataran Masa Akhir Majapahit, Bertahan Tanpa Bantuan Penguasa

Sementara itu, pada bagian tengah yoni ini memiki lubang berukuran 25,5 x 25,5 sentimeter. Umpak batu di Situ Watu Kucur juga masing-masing mempunyai ukuran 65 x 60 x 55 sentimeter.

“Kami tidak dapatkan apapun di dalam lubang. Hanya tanah saja dan bata-bata yang runtuh tidak beraturan dan pecahan bata,” terang Ketua Tim Ekskavasi Situs Watu Kucur BPCB Jatim, Muhammad Ichwan.

Ichwan mengutarakan target dari ekskavasi kali ini adalah mencoba agar bisa menampakkan denah bentuk dan ukuran dari struktur Situs Watu Kucur ini. Karena itu mereka terus menggali sebanyak tujuh kotak, tetapi yang masih tampak hanya tiga struktur yang berjajar di sisi timur.

Namun, penemuan benda purbakala yang berada di kompleks situs ini terbilang minim, hanya ditemukan fragmen seperti genteng dan keramik. Memang hasil ekskavasi dinilai masih kurang, karena waktunya terbatas yaitu 10 hari.

Karena itu diharapkan akan ada eskavasi lanjutan yang segera dilakukan sebelum bulan November mendatang. Mereka pun mengharapkan laporan yang mereka kirimkan segera mendapat jawaban dari Kemendikbud.

Situs Watu Kucur tempat pemujaan zaman Majapahit?

Penemuan yoni dan lingga di bagian selatan Situs Watu Kuncur membuat arkeolog menyimpulkan tempat ini merupakan aera pemujaan. Dijelaskan oleh Ichwan, situs ini diperkirakan merupakan tempat pemujaan pada zaman Majapahit.

Ichwan menambahkan pada zaman Majapahit, yoni dan lingga identik dengan agama Hindu beraliran Syiwa. Karena itu, situs ini dipercaya sebagai tempat peribadatan bagi pemuja Dewa Syiwa.

"Dari aspek Siwaistis, lingga dan yoni hubungannya dengan pemujaan. Lingga representasi Dewa Syiwa laki-laki, sedangkan yoni representasi Dewi Parwati perempuan. Menyatunya laki-laki dan perempuan melambangkan kesuburan," terangnya.

Selain melihat dari penemuan artefak, adanya bagian bangunan yang menjorok ke arah barat sebagai tangga menuju ke ruangan suci menunjukkan adanya kegiataan pemujaan pada masa silam. Pasalnya Bangunan keagamaan (kuno) di Jatim secara umum menghadap ke barat.

Walau begitu, hingga hari ini tim arkeolog masih belum bisa memastikan tempat pemujaan yang berada di Situ Watu Kuncur. Pasalnya mereka belum menemukan petunjuk apapun mengenai prioderisasi struktur purbakala itu.

"Kami belum bisa memastikan apakah dari masa Majapahit atau sebelum Majapahit. Karena kami belum dapatkan informasi, baik berupa inskripsi angka tahun di sini, maupun objek ini disebutkan dalam Prasasti apa, dibangun pada masa siapa," jelasnya.

Candi-candi Tertinggi di Bumi Pertiwi

Dikabarkan Memorandum, Pamong Ahli Budaya BPCB Propinsi Jatim, Andi M. Said menyatakan model situs seperti ini bisa tergolong mirip dengan Candi Gentong Trowulan yang berdekatan dengan Candi Brahu. Walau begitu, mereka perlu memastikan apakah memang ada kemiripan dengan Situ Watu Kuncur.

Lokasi situs ini memang berada sebelah barat Candi Brahu dengan kedekatan yang tidak terlalu jauh. Keduanya juga masuk dalam kawasan yang diyakini termasuk wilayah Kotaraja Majapahit.

Situs Watu Kuncur memang salah satu dari sekian banyak situs yang berada di kawasan cagar budaya nasional Trowulan. Sementara Candi Brahu merupakan salah satu peninggalan zaman Kerajaan Majapahit yang memiliki sejarah panjang karena dibangun oleh Mpu Sindok pada 939 Masehi.

Tim arkeolog menyatakan situs ini memiliki nilai penting bagi ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan pariwisata. Sehingga pihaknya akan mengupayakan pelestarian dari tempat ini.

"Nanti kami rekomendasikan untuk pelestarian. Ini perlu dilindungi dengan pelindung supaya tidak rusak,” pungkasnya.

Eskavasi lanjutan?

Belum lengkapnya proses eskavasi, membuat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang berencana melakukan eskavasi lanjutan terhadap Situs Watu Kuncur pada 2022 mendatang.

Dikabarkan oleh koranmemo, pelaksanaan eskavasi ini masih menunggu kepastian dari didok (disahkan) anggaran APBD 2022. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Agus Purnomo menyatakan anggaran yang diusulkan ekskavasi selanjutnya sekitar Rp324 juta.

Dalam APBD 2022, dana ini akan masuk dalam kegiatan ekskavasi situs Sumberbeji dan situs lainnya. Namun hal ini masih menunggu kepastian dari pengesahan APBD 2022 dari Bupati Jombang, Mundjidah Wahab.

"Kami belum bisa memastikan disahkan berapa, namun yang jelas untuk kegiatan ekskavasi kita usulkan segitu," ungkap Agus melalui Iswahyudi Hidayat, Kasi Cagar Budaya dan Permusiuman Jombang.

Sementara itu bila pelaksanaan ekskavasi lanjutan dipaksakan berjalan tahun ini akan menimbulkan kesulitan karena tidak adanya anggaran. Pasalnya anggaran ekskavasi akan dialihkan ke Situs Pandegong yang terletak di Desa Menganto Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang, dengan nominal sekitar Rp62 juta.

Awal Mula Pendirian Kerajaan Majapahit Ternyata Berasal dari Daerah Ini

Pelaksanaan program ekskavasi ini akan dilakukan pada November dan rencana kegiatannya sudah dipersiapkan. Tinggal menunggu tenaga ahli yang direkomendasikan oleh Kemendikbud dan BPBC.

Pelaksanaan ekskavasi Situs Pandegong ini bisa saja mundur tergantung rekomendasi pemerintah pusat. Mereka telah mengirimkan surat kepada Kemendikbud dan berharap mendapat jawaban atas permintaan tersebut.

Permintaan percepatan ekskavasi ini dilakukan agar tidak terkendala dengan musim hujan yang biasanya terjadi pada bulan Desember. Hal ini juga sama saat membahas Situs Watu Kucur, kegiatan ekskavasi ini dilakukan untuk mengetahui denah dan ukuran asli.

"Di Situs Pandegong pernah dilakukan penggalian beberapa tahun lalu oleh beberapa orang. Untuk itu, tujuan kami melakukan ekskavasi adalah melakukan penyelamatan terhadap situs situs bersejarah di Jombang,” papar Iswahyudi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini