Simbolisasi Penjor Sebagai Ornamen Utama Perayaan Galungan

Simbolisasi Penjor Sebagai Ornamen Utama Perayaan Galungan
info gambar utama

Tahukah Kawan jika dalam setiap perayaan umat Hindu, sepanjang jalan kanan dan kiri diwarnai hiasan berupa janur kuning yang menjuntai di pelataran. Yap, inilah Penjor. Penjor menjadi ornamen wajib yang selalu ada dan saling melengkapi setiap perayaan hari besar umat Hindu, baik Hari Raya Galungan maupun Kuningan.

Penjor sangat mudah dijumpai di sudut-sudut bangunan rumah, gang, fasilitas umum, kantor, pertokoan dan pusat-pusat perbelanjaan di Provinsi Bali. Rajutan bambu yang dirangkaikan dengan bentuk melengkung memiliki sarat makna yang mendalam dengan keberadaan penjor pada tiap sudutnya.

Dilansir dari Indonesiakaya.com, penjor dilambangkan sebagai perwujudan rasa syukur Umat Hindu kepada Sang Hyang Widi Wasa, atas kemakmuran yang senantiasa dicurahkan kepada mereka. Penjor dianggap suci bagi pemeluk agama Hindu karena simbolnya ini diartikan sebagai kemakmuran dan kesejahteraan.

Penjor sakral dan penjor hiasan

Penjor di sepanjang jalan | Foto: Streetbali
info gambar

Penjor yang dibuat dari lekukan dan lengkungan janur kuning dengan penahan berwujud sebatang bambu ini ternyata memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda kawan. Secara umum, penggunaan penjor terbagi menjadi penjor sakral dan penjor hiasan. Penggunaan keduanya didasari atas waktu penggunaan, kelengkapan aksesoris yang digunakan dan isian bentuk dari penjornya itu sendiri

Penjor sakral dipasangkan pada waktu, tempat serta kondisi yang khusus. Penjor jenis ini memiliki beberapa atribut pelengkap yang berhubungan dengan fungsinya dalam suatu upacara. Sementara, penjor hiasan dipasang secara bebas tanpa ketentuan yang khusus, tetapi ada beberapa aksesori pelengkap dari penjor sakral yang tidak boleh ada dalam penjor hiasan.

Mengenal Lutra Sumatrana, Berang-Berang Hidung Berbulu yang Sempat Dianggap Punah

Selain batang bambu, biasanya penjor sakral dilengkapi janur atau daun enau serta beberapa jenis daun yang lain. Selain itu, penjor ini pun dilengkapi tiga jenis hasil bumi, yaitu pala bungkah (ketela dan jenis umbi-umbian), pala gantung (kelapa, mentimun, nanas, dan jenis buah-buahan lainnya), dan pala wija (biji-bijian seperti padi dan jagung).

Selain unsur-unsur tadi, penjor sakral juga dilengkapi dengan jajan, uang kepeng, dan sanggah ardha chandra beserta sesajiannya. Yang dimaksud dengan sanggah ardha chandra adalah sebuah kotak bambu yang sisi atasnya berbentuk melengkung dan digunakan sebagai tempat meletakkan sesajian.

Keseluruhan bentuk penjor yang menjulang dengan ujung melengkung merepresentasikan Gunung Agung dan pertiwi yang merupakan simbol dari kehidupan, kesejahteraan, dan keselamatan. Selain itu, masing-masing komponen dalam penjor sakral merupakan simbol dari kekuatan para dewa.

Bambu menjadi simbol kekuatan Dewa Brahma, janur simbol kekuatan Hyang Mahadewa, kelapa simbol kekuatan Hyang Rudra, tiga jenis hasil bumi melambangkan kekuatan Dewa Wisnu, dan sanggah melambangkan Dewa Syiwa. Selain itu, tiga jenis hasil bumi dan jajan merepresentasikan jenis-jenis tumbuhan yang dianugerahkan Sang Hyang Widi Wasa.

Sedangkan Penjor hiasan merupakan bagian dari suatu acara yang tidak ada hubungannya dengan upacara keagamaan. Biasanya penjor ini dipasangkan layaknya umbul-umbul dalam acara umum seperti pesta kesenian, ulang tahun desa dan lain-lain.

Waktu pemasangan penjor dalam perayaan Galungan

Dilansir dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, pemasangan penjor tidak boleh asal untuk dipasang. Hal ini dikarenakan penjor dianggap sebagai simbol kesejahteraan dan kemakmuran. Adapun waktu pemasangannya adalah setelah pukul 12 siang saat hari Penampahan Galungan.

Hal ini bermakna bahwa ketika hari raya penampahan galungan, manusia sedang berperang melawan pikiran buruk, sifat negatif, dan ego mereka sendiri. Nah, setelah berhasil menang dalam peperangan tersebut, penjor kemudian dipasang sebagai simbol kemenangan.

Maka, tidak heran saat Hari Raya Galungan. Siapa pun yang sedang pergi ke Bali akan dengan mudah menemukan penjor terpasang di mana-mana.

Ubi Cilembu, Si Ubi Manis dari Sumedang

Makna tersembunyi di balik kemegahan penjor

Melansir dari Website Resmi Desa Dalung, Kabupaten Badung dibalik kemegahan dan semaraknya penjor tersimpan makna yang mendalam. Penjor upacara dibuat menggunakan tiang bambu tinggi melengkung setinggi sekitar 10 meter yang merupakan gambaran gunung tertinggi.

Dihiasi dengan berbagai hiasan janur dilengkapi dengan dengan hasil-hasil bumi, kue, serta kain putih atau kuning, yang menjadi bagian dari beberapa unsur yang mencirikan penjor tersebut untuk kebutuhan upacara keagamaan Hindu di Bali.

Penjor juga dikatakan simbol sebuah gunung. Gunung sendiri merupakan stana Tuhan dengan berbagai manisfestasinya. Untuk itulah pada setiap gunung di Bali dibangun sebuah pura, apakah itu pada puncaknya ataupun lerengnya.

Fungsi atau makna penjor Galungan dalam kegiatan upacara dan hari raya umat Hindu di Bali, berkaitan erat dengan Galungan melambangkan pertiwi bhuwana Agung dan simbol gunung yang memberikan kesejahteraan dan keselamatan. Lambang pertiwi digambarkan sebagai bentuk wujud naga Basuki dan Ananta Boga.

Jadi, Penjor di Bali berfungsi sebagai sarana perlengkapan upakara yang memiliki nilai sakral. Dalam pembuatannya harus memperhatikan unsur-unsur ataupun alat-alat yang dipakai melengkapi penjor tersebut.

Penjor sendiri dibuat menggunakan alat atau unsur-unsur dari alam semesta, seperti batang bambu, jenis daun (plawa) seperti janur, cemara, pakis aji dan andong, untuk buah-buahan dan umbi-umbian yang digolongkan sebagai pala bungkah (umbi-umbian) seperti umbi ketela, pala gantung seperti buah kelapa, pisang, mentimun atau jambu dan pala wija (buah berbiji) seperti jagung dan padi juga dilengkapi dengan kue, tebu dan uang kepeng.

Peuyeum, Si Manis dan Legendaris dari Kota Bandung

Semua hasil bumi atau hasil dari alam semesta tersebut juga memberikan arti sebagai rasa bakti dan ucapan terima kasih, atas segala kemakmuran yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa pada umat manusia.

Penjor dipasang di depan, tepatnya di sebelah kanan pintu masuk, sanggah atau lengkung dari penjor mengarah ke jalan. Jika rumah anda menghadap ke Timur, penjor tersebut dipasang di sebelah Selatan.

Bagian depan penjor dipasang sebuah sanggah cucuk setinggi sekitar 1,5 meter sebagai perlambang Ardha Candara, yaitu sebuah sanggah yang bagian bawah segi empat atapnya melengkung setengah lingkaran. Bentuknya seperti bulan sabit, sedangkan pada ujung penjor (ujung bambu) dipasangi sebuah sampian penjor lengkap dengan bunga, porosan, kwangen, sesari 11 uang kepeng.

Pesan moral dalam simbolisasi penjor

Menurut tokoh Spiritual, Jro Gede Nadi dalam wawancaranya melalui Kompas.com, ia menginformasikan jika penjor wajib ada dalam setiap rumah ketika perayaan Galungan. Simbolisme penjor dibuktikan melalui kekuatan atas kemenangan dharma melawan adharma, kebaikan melawan keburukan.

Begitulah kiranya sebenarnya makna dari hari raya Galungan. Bentuk penjor yang melengkung ke bawah melambangkan kerendahan hati. Penjor memberikan kita pelajaran bahwa kebenaran tetap harus ditegakkan di bumi in.

Menjadi seorang manusia juga harus memiliki sikap rendah hati. Menyiapkan hiasan penjor tidak perlu harus bermewah-mewahan dan menghabiskan biaya yang mahal. Yang penting dalam pelaksanaannya, esensi penjor inilah yang harus kita pegang dan diamalkan.*

Referensi:IndonesiaKaya | Kompas | Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng | Pbl Desa Dalung Kabupaten Badung

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RM
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini