Kiprah Bens Leo dan Jasa Besarnya untuk Sederet Musisi di Tanah Air

Kiprah Bens Leo dan Jasa Besarnya untuk Sederet Musisi di Tanah Air
info gambar utama

Dunia hiburan tanah air kembali dilanda kabar duka, kepergian kali ini datang dari industri musik yang dikejutkan dengan berpulangnya wartawan senior sekaligus praktisi serta pengamat Bens Leo pada hari Senin (29/11/2021) kemarin.

Meninggal dunia di usia 69 tahun, salah satu konfirmasi akan kabar duka tersebut disampaikan oleh rekan sesama pegiat di industri musik yaitu Adib Hidayat melalui akun media sosial Twitternya.

Menurut informasi yang beredar, Bens Leo dikabarkan wafat akibat terpapar Covid-19 bersama keluarganya, dan telah menghabiskan beberapa hari terakhir untuk berjuang melawan penyakit tersebut. Pria kelahiran tahun 1952 ini diketahui sempat dilarikan ke Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan akibat kondisinya yang kian kritis.

Selang seminggu menjalani perawatan, pada hari Senin pagi pukul 08.24 WIB Bens menghembuskan nafas terakhir dan telah dimakamkan ke tempat peristirahatan terakhir di TPU Menteng Pulo, Jakarta Selatan.

Sederet Musisi Indonesia yang Memperkenalkan Musik Etnik ke Mancanegara

Jejak karier Bens Leo sebagai seorang wartawan

Bens Leo © Galih W. Satria/Bintang.com via Fimela
info gambar

Sebelum terjun sebagai pemerhati musik, sosok yang memiliki nama asli Benediktus Hadi Utomo tersebut diketahui mengawali kariernya sebagai seorang wartawan setelah gagal saat mengikuti seleksi Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI), dan terlambat mendaftarkan diri untuk mengikuti pendidikan penerbangan.

Hidup dengan sang Ibu yang menyandang status sebagai orang tua tunggal, disebut membuat Bens tak sampai hati untuk memintanya membiayai sekolah sampai jenjang kuliah.

Kondisi tersebut yang pada akhirnya melatarbelakangi awal karier Bens sebagai seorang wartawan dan meroket setelah aksi nekat mewawancarai pimpinan grup musik Koes Plus, yaitu Tonny Koeswoyo dengan peralatan seadanya.

Mendapat respons rendah hati dari Tonny, hasil wawancara Bens kemudian dikirim ke Berita Yudha Sport & Film dan berakhir sebagai tulisan headline yang terbit dengan judul ‘Sejarah Koes Bersaudara’. Berkat tulisan tersebut pula, Bens kemudian direkrut menjadi wartawan dan menulis untuk rubrik seni budaya.

Melihat perjuangan gemilang tersebut, Tonny kemudian memberikan referensi kepada Bens untuk kembali mewawancarai salah satu band legendaris lainnya di era yang sama dengan Koes Plus, yaitu Panjaitan Bersaudara (Panbers).

Menjadi pembuka perjalanan karier Bens sebagai seorang wartawan musik ke jenjang yang lebih tinggi, hasil wawancara yang ia lakukan bersama Panbers kemudian dikirimkan ke salah satu majalah musik populer di era 1960-1970-an, yaitu Aktuil.

Dari bergabung bersama Aktuil, ia mendapatkan nama alias atau nama populer yang lekat dengan dirinya hingga saat ini, yaitu Bens Leo.

Seiring dengan pengalamannya di industri musik tanah air yang semakin luas dan dibarengi dengan kiprahnya sebagai seorang wartawan yang juga semakin meroket, saat bersama Aktuil pada tahun 1976 ia menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang meliput World Popular Song Festival Tokyo, Jepang, mendampingi Guruh Soekarnoputra, Grace Simon, dan Idris Sardi.

Selain menjadi wartawan, pengetahuannya akan industri musik juga membuat Bens menjadi sosok yang banyak diandalkan dalam berbagai ajang pencarian bakat hingga ajang penghargaan musik yang berlangsung di tanah air.

Mengutip Fimela.com, Bens diketahui merupakan anggota awal yang menyiasati hadirnya gelaran Anugerah Musik Indonesia (AMI), sebagai salah satu ajang penghargaan paling bergengsi di Indonesia yang rutin diadakan setiap tahunnya hingga saat ini.

Lain itu, Bens juga dikenal sebagai sosok yang vokal dalam melawan tindak pembajakan terhadap suatu karya musik yang telah dihadirkan oleh para musisi tanah air.

Bicara Musik Etnik dan Budaya Betawi, Ipank HoreHore: Kite Anak Muda Nyang Kudu Jagain Obornye

Sosok yang peduli dan berjasa bagi sejumlah musisi tanah air

Bens Leo | Museum Musik Indonesia
info gambar

Keberhasilan Bens dalam berkiprah sebagai wartawan di bidang musik dan pengetahuan yang semakin luas nyatanya tidak membuat sosok tersebut tinggi hati. Sebaliknya, sepanjang hidupnya Bens justru dikenal sebagai sosok yang paling peduli terhadap dunia musik terutama para musisi yang kerap mengalami kesulitan.

Terbukti, sejak kabar kepergiannya tersebar ke publik, berbagai musisi kenamaan tanah air tidak hanya menyampaikan ucapan bela sungkawa melainkan juga mengenang kembali jasa yang telah Bens lakukan dan ternyata memberikan andil besar dalam perjalanan karier mereka.

Salah satu musisi yang menceritakan peran besar Bens dalam perjalanan karier sejumlah musisi di dunia musik datang dari vokalis band Gigi, Armand Maulana.

Selain Armand, musisi lainnya yang mengungkapkan kenangan serupa juga datang dari penyanyi Andien, Tantri vokalis band Kotak, dan Ryan yang juga merupakan vokalis band D'MASIV.

Adapun musisi kenamaan yang juga mengakui kebaikan dan peran besar Bens Leo dalam industri musik tanah air adalah Dewa Budjana, gitaris yang diketahui ikut mengantarkan jenazah Bens ke tempat peristirahatan terakhirnya tersebut mengungkap jika Bens adalah sosok yang memiliki kepekaan tinggi terhadap rekan sesama musisi.

“Tokoh luar biasa. Beliau salah satu tokoh yang tidak pernah marah. Beliau perhatian sekali sama musisi yang lagi kesulitan,” kenang Dewa Budjana, mengutip JawaPos.com

Lain itu, Budjana juga mengungkap penyesalan lantaran tidak dapat memenuhi permintaan Bens yang ingin menemuinya untuk memberikan buku yang beberapa bulan lalu dibuat.

Sekadar informasi, selama ini Bens diketahui kerap menolak tawaran untuk membuat buku yang menceritakan perjalanan kariernya selama menjadi wartawan senior sekaligus pengamat musik. Hal tersebut baru terealisasi di bulan Oktober lalu lewat buku yang diterbitkan secara terbatas berjudul 'Bens Leo dan Aktuil, Rekam Jejak Jurnalisme Musik'.

Tak ada yang menyangka bahwa buku yang memuat tentang sudut pandang dan berbagai hasil wawancara musiknya tersebut akan menjadi karya pertama sekaligus terakhir Bens, yang juga menjadi kenangan bagi industri musik di tanah air.

Perkembangan Musik Tradisi, Dewa Budjana: Musisi Etnik Indonesia Tidak Pernah Habis

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini