Kisah Menziarahi Meriam Si Jagur untuk Mendapatkan Keturunan

Kisah Menziarahi Meriam Si Jagur untuk Mendapatkan Keturunan
info gambar utama

Museum Fatahillah atau Museum Batavia menyimpan beragam kenangan bangunan peninggalan kolonial. Salah satu ikon dari museum yang berlokasi di Kota Tua, Jakarta Barat itu adalah meriam Si Jagur.

Terpajang di halaman gedung tua, meriam ini begitu menarik karena memiliki hiasan berbentuk jari yang dilipat yang kerap diartikan negatif. Selain itu Si Jagur memiliki ukuran yang berbeda dengan meriam kebanyakan.

Si Jagur memiliki panjang mencapai tiga meter. Sementara itu besarnya bisa tiga sampai empat kali lipat dari meriam biasa.

Dinukil dari Liputan6, Thomas B Ataladjar, seorang pengajar jurnalistik menuturkan meriam ini memiliki berat 3,5 ton, lalu dibuat dari peleburan 16 meriam kecil lain. Wajar bila pembuat meriam ini mengukir tulisan Ex Me Ipsa Renata Sum yang berarti, "Aku diciptakan dari diriku sendiri."

Sosok Guru Mughni Kuningan, Ulama Dermawan dan Guru Orang Betawi

Meriam Si Jagur adalah sebuah Meriam kuno peninggalan Portugis, dibuat oleh pabrik St Jago de Barra, Macau, China oleh orang Portugis bernama Manoel Tavares Baccaro. Ketika di Macau, meriam ini ditempatkan Manoel di benteng St. Jago de Barra, inilah asal mula julukan Si Jagur.

Dirinya kemudian membawa meriam itu dari China ke Malaka pada abad ke-16, lalu dibawa ke Batavia oleh Belanda ketika berhasil merebut Malaka pada 1641. Pada awalnya Si Jagur ditempatkan di Benteng Batavia, untuk menjaga pelabuhan.

Setelah itu dipindahkan ke jalan Kota Intan. Sempat dipindahkan ke Museum Nasional, lalu dipindahkan lagi dan ditempatkan di bagian utara Taman Fatahillah.

Konon pula meriam Si Jagur memiliki kembaran bernama meriam Ki Amuk milik Kesultanan Banten yang saat ini berada di halaman Masjid Agung Banten. Konon bila kedua meriam ini disatukan akan bisa mengusir penjajah.

Cerita mistik di balik meriam Si Jagur

Meriam Si Jagur pada masa lalu telah dipandang keramat oleh masyarakat. Hal ini dilatar belakangi karena ornamen berbentuk tangan dengan posisi ibu jari dijepit jari tengah.

Portugis menyebut lambang tersebut dengan mano in figa yang bermakna kepercayaan dan kesuburan. Karena itu dahulu banyak wanita yang menaburkan bunga di muka Si Jagur pada hari Kamis, setelahnya, mereka duduk di atas meriam itu.

Kejadian ini masih disaksikan oleh Firman Lubis, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang diceritakan dalam bukunya berjudul Jakarta 1950-1970. Pada tahun 1950 an, meriam Si Jagur yang terkenal masih terletak di jembatan Kota Intan.

Saat itu dirinya melihat banyak orang kampung yang pergi berziarah ke meriam peninggalan Portugis ini dengan membawa sedekah dan menaburkan kembang di atasnya.

"Berziarah ke meriam Si Jagur dipercaya orang dapat memberi berkah kepada pasangan yang menginginkan anak. Entah mengapa dan bagaimana sampai ada kepercayaan ini, saya kurang tahu pasti," catatnya.

Kemasyhuran dari Si Jagur juga disaksikan oleh H.C.C. Clockener Brousson, seorang serdadu Belanda yang pernah berdinas di Batavia. Ketika itu dirinya didampingi seorang pemuda bernama Abdullah yang menjelaskan kondisi itu dengan Bahasa Belanda.

“Di sini banyak orang pribumi berdoa dan memberikan sesaji bagi para arwah.” kata Abdullah yang juga menunjukkan tumpukan nasi, buah-buahan dan bunga yang berada di bawah bayang sinar matahari sekitar meriam yang dipaparkan oleh VOI.

Pantai Sampur, Tempat Wisata Favorit Orang Batavia yang Tenggelam oleh Zaman

Abdullah menjelaskan kalangan yang percaya mitos Si Jagur memberikan kesuburan tidak hanya dari kaum pribumi saja. Tetapi juga kaum Tionghoa dan Eropa, hingga membuat mereka ikut memberi sesaji sebagai syarat utama pelancar ritual.

Tatkala Si Jagur mulai ramai didatangi oleh para peziarah, membuat ulama di Ibu Kota saat itu khawatir akan memengaruhi dan merusak akidah umat. Karena itulah meriam yang tadinya dibiarkan berada di pinggir jalan, lalu diangkut ke Museum Nasional.

Namun tindakan ini tidak menghentikan masyarakat untuk tetap berziarah ke meriam Si Jagur. Kunjungan ziarah ke tempat baru si Jagur yaitu Museum Nasional tetap saja banyak.

Ada kesaksian yang dituturkan oleh Wahyono Martowikrido yang telah menjadi pegawai dari Museum Nasional dari 1964 – 1998. Dirinya melihat ada pria yang datang dari Cirebon dan memberi sedekah ke Si Jagur untuk mendapat cucu.

Setahun kemudian dirinya kembali datang, tetapi tidak berdoa dan memberi sedekah namun meluapkan emosinya. Perilaku bapak yang menyepak meriam dengan berat 3,5 ton itu diperhatikan oleh petugas sambil terheran-heran.

"Lho, bapak kan untuk meminta keturunan, meminta cucu setahun lalu. mengapa sekarang marah-marah?" tanya petugas itu yang dikabarkan dari buku Cerita dari Gedung Arca.

Bapak itu kemudian menjawab, bahwa Si Jagur telah kurang ajar karena memberinya cucu dari anak perempuannya yang belum menikah. Ternyata Si Jagur bisa juga salah alamat.

Si Jagur yang tidak lagi dikeramatkan

Seperti halnya di Kota Intan, meriam Si Jagur tetap menjadi perhatian masyarakat saat berada di tempat baru yaitu Museum Nasional. meriam ini ditempatkan tepat di halaman depan museum untuk menyambut pengunjung yang datang.

Akhirnya pengunjung merasa kurang afdal bila tidak melihat Si Jagur sebelum masuk ke museum yang terkenal dengan koleksi patung dan benda purbakala itu. Tetapi di tempat ini para penjaga Museum Nasional bertindak keras, mereka akan mengusir pengunjung yang terlihat akan menziarahi Si Jagur.

"Di sini memang tidak ada kuncen yang secara khusus melayani membacakan doa-doa serta mantra. Juga tidak ada pedagang kembang dan kemenyan," tulis Zaenuddin HM dalam bukunya berjudul Kisah-Kisah Edan Seputar Djakarta Tempo Doeloe.

Zaenuddin menyatakan para penjaga Museum Nasional saat itu memang memutus akses Si Jagur Kembali dikeramatkan oleh masyarakat. Wali Kota Sudiro pada masa itu memberikan sinyal terlarang mengkramatkan Si Jagur, karena dianggap musyrik.

Tetapi tetap saja banyak warga yang ingin mengunjungi museum itu untuk bertemu dengan "jimat" tersebut. Karena beragam peristiwa yang berbau kelenik dan takhayul membuat pemerintah akhirnya menyembunyikan Si Jagur.

Kisah Oei Tambah Sia, Playboy dari Batavia yang Berakhir di Tiang Gantung

Mereka yang tidak tahu keberadaan Si Jagur menyangkanya telah hilang, ada yang menyangka dicuri oleh pencuri, juga banyak yang percaya Si Jagur dibawa oleh makhluk gaib penjaga meriam.

"Si Jagur ibarat bocah kesayangan yang hilang. Setiap pengunjung yang datang ke museum selalu bertanya-tanya ke manakah gerangan Si Jagur? Padahal meriam itu masih tetap ada dan menjadi koleksi museum," papar Zaenuddin.

Cara ini ternyata efektif untuk mencegah pengunjung mengkramatkan Si Jagur, selain itu membuat pengunjung fokus dengan koleksi museum yang lain. Konon para kurator biasanya akan menjelaskan secara detail koleksi museum, tetapi saat ditanya mengenai Si Jagur, mereka akan tutup mulut.

Karena masih ada yang mengkeramatkan, pemerintah kembali memindahkan Si Jagur ke halaman belakang gedung bekas Balai Kota (Stad Huis) zaman dahulu di Taman Fatahillah, Jakarta Barat. Lalu pada waktu belakangan dipindahkan lagi ke halaman depan dan bisa dilihat oleh umum.

Ternyata strategi pemindahan ini membuahkan hasil, karena mengurangi para peziarah yang datang. Lebih banyak mereka datang adalah masyarakat lokal maupun mancanegara yang tidak mengetahui sejarah masa lalu Si Jagur.

Walau begitu, wisatawan masa kini tetap mengagumi Si Jagur bukan karena mistiknya. Tetapi karena bentuknya serta beratnya, dan kisahnya yang unik.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini