Detusoko, Desa Wisata di Ende yang Tawarkan Pesona Alam dan Budaya

Detusoko, Desa Wisata di Ende yang Tawarkan Pesona Alam dan Budaya
info gambar utama

Kabupaten Ende di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, dikenal sebagai saksi bisu lahirnya Pancasila. Pada tahun 1934, presiden pertama Indonesia, Soekarno, pernah diasingkan di Ende. Kini, jejak-jejak sejarah tersebut masih bisa dilihat di beberapa tempat seperti Taman Renungan Bung Karno hingga Situs Pengasingan Bung Karno.

Selain menawarkan wisata sejarah, Ende juga dikaruniai dengan panorama alam yang indah, lengkap dengan daya tarik lain kearifan lokal seperti seni, budaya, tradisi, dan kuliner tradisional. Di Ende, pengunjung bisa mendatangi pantai, museum, dan kampung adat.

Salah satu kawasan dengan paket wisata lengkap adalah Desa Detusoko. Desa yang memiliki konsep ekowisata ini merupakan penyangga Danau Kelimutu dan menawarkan panorama alam berupa persawahan terasering, perbukitan, lembah, hingga area perkebunan.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, mengunjungi Desa Detusoko pada Rabu (1/12/2021) dan mendukung pengembangan ekonomi kreatif di desa ini. Pihaknya juga memberikan alat-alat untuk membuat lampu hias hingga alat musik pada pelaku ekonomi kreatif di desa tersebut.

“Saya melihat tadi salah satu pelaku ekonomi kreatif membutuhkan bantuan. Alhamdulillah, kita langsung gerak cepat. Karena saya terbiasa menyelesaikan masalah dengan menghadirkan solusi yang benar-benar dibutuhkan. Jadi hari ini kita hadirkan alat-alat ini dan juga tadi bantuan alat musik untuk sanggar agar Desa Wisata Detusoko Barat semakin maju. Harapannya ekonomi bangkit dan lapangan kerja tercipta di sini,” katanya.

Mengamati Proses Pembuatan Pinisi di Desa Ara Bulukumba

Ragam kegiatan wisata di Desa Detusoko

Nama lainnya adalah Kampung Adat Sao Ria Nuarini dan merupakan salah satu desa penyangga Danau Kelimutu. Desa Detosuko juga menjadi pintu masuk utama menuju Taman Nasional Kelimutu. Tak heran bila keindahan alam desa wisata ini memang memesona.

Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Desa Detusoko, bahkan masing-masing dusun punya keunikannya tersendiri. Dijelaskan Ferdinandus Watu, Kepala Desa Wisata Detusoko Barat, seperti dikutip dari Kompas.com, masing-masing dusun punya atraksi wisata berbeda. Misalnya, wisata susur sawah dan kali serta berkunjung ke kampung adat di Dusun Wolone, mengunjungi air terjun dan kampung lama di Dusun Wolobudu dan Dusun Pemonago, serta wisata hortikultura di Dusun Nuagiu.

Lokasi Desa Detusoko berada di ketinggian 800 mdpl dan memiliki keunikan berupa persawahan terasering yang luasnya tidak seragam. Menurut penuturan masyarakat setempat, area persawahan tersebut adalah warisan turun-temurun dan hampir semua keluarga di desa tersebut memiliki lahan sawah. Bila berjalan menyusuri sawah, pengunjung bisa menemukan sebuah Jembatan Kali Lowaria warna-warni.

Di desa tersebut juga ada wisata kolam air panas Ae Oka Detusoko yang mengandung belerang dan dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit.

Wisatawan juga bisa mengikuti kegiatan susur sawah bersama para petani lokal atau melihat proses pengolahan kopi secara tradisional. Pada musim panen kopi, sekitar Agustus-September, wisatawan bisa ikut memanen kopi, pengolahan kopi dengan aneka teknik, berkunjung ke rumah jemur kopi, melihat roasting tradisional, dan cupping kopi khas Detusoko.

Desa Detusoko juga punya tempat kongko bernama Lepalio Cafe. Di sana, pengunjung bisa menikmati berbagai makanan dan minuman lokal sambil melihat pemandangan sawah yang menyegarkan.

Sebenarnya ada banyak paket wisata yang ditawarkan pengelola desa ini dan bisa dipilih sesuai ketertarikan masing-masing pengunjung. Salah satunya adalah paket One Day be a Farmer dengan kegiatan yang dimulai dari pagi hari seperti memberi makan hewan ternak berupa ayam, babi, kambing, dan sapi, kemudian minum kopi, sarapan, dan mencoba sirih pinang.

Usai sarapan, pengunjung akan diajak pergi ke kebun atau sawah sesuai kalender musim petani. Kegiatannya bisa membajak sawah, memetik kopi, panen cengkih, kacang, jagung, atau menjemur padi. Pengunjung juga bisa melihat produk ekonomi kreatif buatan warga Detusoko seperti pembuatan gelang, selai kacang, moni marmalade, sambal korodagalai, selai lemon, ramuan herbal. beras merah lokal, beras hitam organik, kopi robusta Detusoko, hingga pengharum ruangan yang terbuat dari kopi.

Fasilitas di desa wisata ini pun terbilang lengkap untuk menunjang kegiatan wisata. Bahkan, di sana sudah ada homestay yang dikelola penduduk setempat. Biaya menginap permalamnya Rp150 ribu per orang dan sudah termasuk tiga kali makan dalam sehari.

Desa Wisata Liya Togo, Peninggalan Kerajaan Buton di Wakatobi

Seni budaya masyarakat Detusoko

Desa Detusoko juga kaya akan seni dan kebudayaan yang khas. Menparekraf menyebutkan bahwa desa ini punya Sanggar Dau Dole Pokdariwis Nira Neni yang berfungsi untuk melestarikan tarian dan musik tradisional.

Ketika mengunjungi desa ini, wisatawan akan disambut dengan tari tradisional. Kemudian, akan diajak masuk ke rumah adat dan disuguhkan sirih pinang, rokok, dan moke atau minuman beralkohol lokal sebagai simbol penerimaan secara adat dari Suku Rini Detusoko.

Agar lebih mengenal budaya lokal, wisatawan pun akan diajak berkeliling rumah dan dijelaskan mengenai simbol-simbol yang ada di rumah adat, peranan rumah adat, struktur adat, dan berbagai informasi tentang budaya lokal. Selain tarian penyambutan, di sanggar juga biasa ditampilkan tari sanggualu yang merupakan tarian turun-temurun dari para leluhur.

Kemudian, ada pula ritual adat nggua uwi yang dilakukan masyarakat setahun sekali sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen, kehidupan, dan keselamatan.

Melihat Kehidupan Masyarakat Desa Agraris di Lembang Nonongan Toraja Utara

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini