Sambut Hari Armada, Indonesia Miliki Kapal Cepat Rudal ke-5 Buatan PAL

Sambut Hari Armada, Indonesia Miliki Kapal Cepat Rudal ke-5 Buatan PAL
info gambar utama

Tidak hanya memperingati Hari Sukarelawan Internasional, pada tanggal 5 Desember kemarin dalam skala nasional Indonesia sendiri memperingati Hari Armada RI yang sudah ditetapkan sejak tahun 1987.

Memiliki hubungan erat dengan pembentukan TNI Angkatan Laut (AL), lahirnya Hari Armada pada dasarnya memang berangkat dari peristiwa bersejarah terkait pemenuhan berbagai armada kelautan Indonesia yang terus mengalami pertumbuhan sejak awal-awal masa kemerdekaan.

Mengutip informasi dari laman Kominfo Jatim, disebutkan bahwa pada awal masa kemerdekaan kekuatan Armada masih berupa kapal-kapal kayu dan perahu dengan persenjataan yang sangat sederhana. Namun, dengan armada sederhana itu pula tentara Indonesia berhasil memperoleh dan mempertahankan kemerdekaan Rl hingga saat ini.

Tak dimungkiri, bahwa pada awalnya Indonesia memang masih mengandalkan pembelian kapal dari pihak lain, namun seiring berjalannya waktu negara sudah mampu memproduksi kapal pertahanan untuk armada laut secara mandiri lewat berbagai perusahaan di bidang industri galangan kapal.

Penataran Angkatan Laut (PAL), adalah salah satu perusahaan yang paling diandalkan dalam menghadirkan kekuatan armada Indonesia di bidang kelautan. Terbaru, pada Hari Armada RI kemarin PAL meluncurkan Kapal Cepat Rudal (KCR) ke-5 dan 6 untuk mewujudkan tujuan yang dimaksud.

Seperti apa ketangguhan dari KCR yang pertama kali dihadirkan oleh PAL pada tahun 2014?

Melihat Perkembangan Kapal Pinisi dan Budaya Maritim di Nusantara

Tentang Kapal KCR 60 Meter

PAL
info gambar

Berdasarkan penjelasan dari laman resmi PAL, KCR adalah kapal yang diperuntukkan dalam mengawal wilayah pantai Indonesia, di mana keseluruhan proses rancang bangun dilakukan oleh PAL sendiri.

KCR diketahui memiliki panjang mencapai 60 meter dan lebar 8,10 meter, kapal yang memiliki berat mencapai 500 ton tersebut mampu mengakomodasi sebanyak 55 orang kru. Dapat melaju dengan kecepatan maksimal 28 knot pada kondisi full load serta endurance atau ketahanan beroperasi secara non-stop selama 5 hari, fungsi utama KCR adalah untuk pengamanan wilayah maritim yang dinilai sangat relevan dengan karakteristik geografi Indonesia sebagai negara kepulauan.

Bagaimana cara kapal ini mengawal dan mengawasi wilayah pantai serta perairan Indonesia?

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa KCR masuk dalam kategori Offshore Patrol Vessel (OPV) yang memiliki kemampuan manuver lincah, mampu bergerak secara cepat, serta dapat digunakan untuk melakukan pengejaran terhadap kapal asing yang melanggar wilayah teritorial.

Seperti yang kita tahu, sebagai negara yang memiliki potensi kelautan yang besar selama ini Indonesia memang rawan menjadi lokasi dari tindakan kriminal seperti pencurian ikan, penyelundupan, perdagangan manusia, dan lainnya yang berlangsung di wilayah perairan.

Sesuai namanya, Kapal Cepat Rudal tentu memiliki perbedaan dengan Kapal non Rudal atau kapal armada laut biasa. Perbedaan yang paling menonjol dengan jelas adalah kemampuan jarak tembak, fleksibilitas penggunaan, dan daya hancur di mana KCR diketahui lebih unggul dalam ketiganya.

Inilah Penampakan Kapal Siluman Baru TNI AL, KRI Golok 688

Peluncuran KCR ke-5 dan 6

KCR
info gambar

Sebelum dilakukan peluncuran KCR ke-5 dan 6 pada hari Minggu (5/12) kemarin, Indonesia diketahui sudah memiliki sebanyak empat armada KCR buatan PAL yang pertama kali dihadirkan pada tahun 2014 sebanyak empat unit armada

Lebih detail, KCR yang pertama kali hadir yakni KRI Sampari (628) yang diresmikan pada tanggal 28 Mei 2014. Tiga bulan setelahnya, yakni pada bulan September di tahun yang sama, KCR kedua kembali diluncurkan dengan nama KRI Tombak (629).

Sebulan berselang, pada tanggal 17 September KCR ke-3 dengan nama KRI Halasan (630) kembali dihadirkan dan tak lama, KCR ke-4 juga diluncurkan dengan dengan nama KRI Kerambit (627).

Di tahun 2021 ini, dua buah armada kembali dihadirkan yaitu KCR ke-5 dan 6 yang penggarapannya sudah berlangsung sejak tahun 2019 dan memang ditargetkan rampung dalam waktu 24 bulan atau dua tahun.

Mengutip Bisnis.com, disebutkan bahwa nilai kontrak untuk pembangunan KCR lanjutan ini mencapai Rp1,66 triliun per unit kapal. Pembuatan kapal ini juga mengukir sejarah baru karena untuk pertama kalinya, pengadaan dua unit kapal tersebut dibangun lengkap antara platform dengan sistem persenjataannya.

Berdasarkan rilis yang dipublikasi oleh PT. PAL, hampir sama seperti armada sebelumnya KCR kali ini masih memiliki panjang keseluruhan 60 meter dengan lebar 8,10 meter dan tinggi 4,85 meter. Mampu membawa muatan penuh mencapai 450-500 ton, kedua KCR tersebut telah dilengkapi dengan sistem persenjataan yang mampu mendeteksi sasaran atau target baik di udara, permukaan, dan bawah laut.

Soal persenjataan, keduanya dilengkapi sistem Main Gun 57 mm Bofors , Shipborne gun 20 mm, dan SSM (Surface to Surface Missile) Exocet 40MM B3. Tak hanya itu, KCR terbaru ini juga memiliki kemampuan patroli dengan jarak tempuh dan kecepatan jelajah mumpuni untuk menjaga laut teritorial Indonesia yang luas.

Nantinya, KCR 60 meter ke-5 direncanakan akan bergabung dan memperkuat kapal perang RI yang akan bertugas di satuan kapal cepat Koarmada III. Hadirnya armada baru dari KCR ini oleh berbagai pihak diharapkan dapat menjadi armada yang tangguh bagi TNI AL dalam menjaga pertahanan dan kedaulatan Indonesia secara mandiri.

Hal tersebut dipertegas oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat menghadiri peluncuran KCR terbaru yang berlangsung di Galangan Kapal Surabaya.

“Tanpa kekuatan maritim yang kuat, tidak mungkin negara kita kuat. Serta ditopang dengan industri pertahanan yang kuat agar kita tidak bergantung dengan industri pertahanan luar negeri,” tegas Prabowo.

“Kita punya cita-cita besar, harus jadi tuan di laut, darat, dan udara kita sendiri. Kita bersahabat dengan semua negara tapi kita akan mempertahankan kedaulatan dengan segala cara,” pungkasnya.

Mengenal Alugoro, Kapal Selam Buatan Indonesia yang Dipersenjatai Torpedo Black Shark

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini