Sukses IPO, Menakar Peluang UMKM Raih Pendanaan dan Mengikuti Jejak Cimory

Sukses IPO, Menakar Peluang UMKM Raih Pendanaan dan Mengikuti Jejak Cimory
info gambar utama

Bicara mengenai produk olahan susu di pasar retail dalam negeri, Indonesia sejatinya memiliki sejumlah produsen susu dengan kualitas tinggi yang beberapa bahkan sudah berhasil mengekspor hasil produksinya ke pasar mancanegara

Di antara sekian banyak produsen yang ada, dua yang sejauh ini paling banyak dikenal dan mendominasi dalam sektor konsumsi olahan susu sebut saja Ultrajaya dan Greenfields. Namun selain dua nama tersebut, belakangan ada satu nama produsen olahan susu lain yang sukses mencuri perhatian, yaitu Cimory.

Bukan hanya karena perkembangan bisnis dan perluasan pasarnya yang dinilai berhasil membuktikan geliat positif dari potensi peternakan dalam negeri, hal lain yang membuat perusahaan bernama akronim dengan makna Cisarua Mountain Dairy ini disorot adalah keberhasilan untuk melantai di bursa saham secara perdana atau IPO, dan memperoleh pendanaan mencapai lebih dari Rp3 triliun.

Memberi harapan akan langkah serupa yang bisa jadi diikuti oleh para pelaku usaha khususnya di bidang peternakan tanah air, seperti apa perkembangan bisnis Cimory sejak pertama kali didirikan?

Riwayat Susu ‘Mewah’ Asal Malang yang Sering Dikira Produk Luar Negeri

Berawal dari berdayakan peternak kecil

Ilustrasi peternak sapi perah di Indonesia
Ilustrasi peternakan di Indonesia | pertanian.go.id

Sedikit membahas mengenai riwayatnya, cikal bakal Cimory berasal dari peternakan kecil di wilayah Cisarua, Bogor, Jawa Barat yang pertama kali didirikan oleh Bambang Sutantio pada tahun 2004 dengan tujuan awal untuk membantu peternak sapi perah di wilayah tersebut.

Kala itu, harga susu segar yang masih rendah dinilai sangat kurang untuk mendukung kesejahteraan hidup para peternak. Bambang akhirnya bekerja sama dengan Koperasi Produsen Susu (KPS) Giri Tani di wilayah setempat yang menaungi para peternak, dan mendirikan pabrik Cimory secara resmi pada tahun 2006 yang selanjutnya memproduksi berbagai olahan susu pasteurisasi dan turunannya seperti yogurt, keju, dan lain-lain.

Terus berkembang hingga saat ini, Bambang yang diketahui lebih dulu merintis usaha olahan daging pada tahun 1993 lewat produk bernama Kanzler, yang dewasa ini banyak dikira sebagai produk impor dari luar negeri akhirnya menggabungkan sejumlah lini usaha pangan berbasis protein menjadi Cimory Group.

Tidak hanya produk pangan, hingga saat ini bisnis tersebut diketahui telah melakukan ekspansi ke bidang pariwisata yang juga mengandalkan konsep edukasi peternakan susu dan olahannya yakni Cimory Dairyland, yang berada di beberapa wilayah selain Bogor yakni Prigen dan Semarang.

Pada tahun 2017, perusahaan diketahui tengah mendirikan divisi ekspor dan mulai mendistribusikan produknya hingga ke China dan Vietnam. Belum cukup dengan pencapaian yang sudah dimiliki dengan rencana untuk semakin memperluas pasar terutama ke mancanegara, produsen pangan yang juga memproduksi olahan coklat dengan nama Chocomory ini pada akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah IPO dengan pelepasan harga per lembar saham yang dapat dikatakan cukup tinggi.

Memajukan dan Menyejahterakan Peternak, Ini Dia 5 Startup Peternakan di Indonesia

Raup pendanaan Rp3,66 triliun berkat jual Rp3.080 per lembar saham

Bambang
info gambar

Langkah korporasi berupa IPO yang diambil oleh Cimory pertama kali dimulai pada tanggal 10 November 2021 lalu. Lebih detail, dijelaskan bahwa banyaknya saham yang dilepas ke publik adalah sekitar 15 persen dari total keseluruhan atau sekitar 1.190.203.000 lembar saham.

Awalnya, harga permulaan yang akan dilepas per lembar saham berada di kisaran Rp2.780-Rp3.160, sehingga diperkirakan akan memperoleh pengumpulan dana segar sebanyak-banyaknya mencapai kisaran Rp3,76 triliun.

Setelah melalui proses panjang mulai dari masa penawaran awal hingga tanggal pencatatan resmi di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berlangsung hari Senin (6/12), perusahaan yang secara resmi menjadi emiten ke-45 yang IPO di BEI pada tahun ini dengan kode nama CMRY tersebut, akhirnya menetapkan harga pelepasan di angka Rp3.080 per lembar saham sehingga secara keseluruhan berhasil memperoleh pendanaan di kisaran Rp3,66 triliun.

Setelah dikurangi biaya emisi, dana yang diperoleh tersebut akan dibagi sesuai proporsi yang telah direncanakan sebelumnya untuk berbagai kebutuhan pengembangan bisnis mulai dari penambahan kapasitas fasilitas produksi dan ekspansi pusat distribusi.

"Kami juga akan terus meningkatkan distribusi kami dengan investasi di cold chain logistics, serta menambah program kemitraan kami melalui program Miss Cimory. Saat ini kami telah bermitra dengan lebih dari 3.600 ibu-ibu di seluruh Indonesia melalui program Miss Cimory ini, yang memiliki tujuan utama untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru,” terang Bambang, dalam acara pencatatan saham perdana di BEI.

5 Perusahaan dengan Rekor IPO Terbesar di Indonesia

Peluang UMKM untuk ikut mencatatkan nama di bursa saham

UMKM IPO
info gambar

Melihat pertumbuhan pesat yang dimiliki oleh Cimory terutama keberhasilannya untuk mencatatkan saham di bursa untuk memperoleh pendanaan, di saat yang bersamaan hal tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai kesempatan serupa yang mungkin dimiliki oleh para pelaku UMKM khususnya yang bergerak di industri peternakan skala kecil dan menengah.

Pada dasarnya, meraih pendanaan dengan melantai di bursa saham sangat mungkin dilakukan oleh para pelaku usaha di bidang apapun selama usaha yang dimiliki sudah berdiri dalam bentuk Perseroan Terbatas (PT) sebagai syarat utama.

Walau jika menelusuri riwayatnya sendiri, langkah tersebut terbilang masih jarang dan persentase maupun keberlangsungannya tidak semasif perusahaan skala besar, namun jejak mengenai UMKM yang berhasil mencatatkan sahamnya di bursa dan memperoleh pendanaan setidaknya sudah mulai terjadi sejak tahun 2018.

Hal tersebut dijabarkan oleh Giri Tribroto, selaku Kepala Kantor OJK Regional 8 yaitu Bali dan Nusa Tenggara, dalam sebuah webinar bertajuk Alternatif Pendanaan bagi UMKM yang berlangsung pada tanggal 8 Juni 2021 lalu.

Dalam pemaparannya, Giri menyebut bahwa sejak tahun 2018 hingga bulan Mei 2021, setidaknya sudah ada sebanyak 28 UMKM yang berhasil melantai di bursa saham dan jika diakumulasi sudah berhasil menghimpun dana dari publik mencapai Rp1,07 triliun.

Lebih detail, jika dijabarkan pada tahun 2018 diketahui terdapat sebanyak 7 UMKM yang IPO dan menghimpun dana mencapai Rp256,03 miliar. Kemudian di tahun setelahnya jumlah tersebut meningkat menjadi 13 UMKM dan berhasil memperoleh pendanaan sebanyak Rp501 miliar.

Pada tahun 2020, meski pandemi melanda diketahui tetap ada 7 UMKM yang berhasil go-public dan telah menghimpun dana sebanyak Rp283,64 miliar. Terakhir per bulan Mei 2021 diketahui ada satu UMKM yang berhasil melakukan IPO dan memperoleh pendanaan sekitar Rp33,75 miliar.

Melihat kondisi tersebut OJK disebutkan akan terus mendorong keberadaan para UMKM untuk mendapatkan pendanaan dengan berbagai upaya. Menurut Giri, keputusan untuk melantai di bursa bagi UMKM yang dewasa ini telah menjadi tulang punggung perekonomian nasional akan mendatangkan berbagai keuntungan bagi usaha itu sendiri.

"Keuntungan yang diperoleh antara lain menciptakan kemandirian pendanaan perusahaan, mempercepat penerapan good corporate governance, serta mendapatkan mitra strategis yang dapat meningkatkan nilai perusahaan," jelasnya.

“OJK akan terus mendorong keberadaan para UMKM yang mendapatkan pendanaan melalui penawaran umum atau go-public, maupun penawaran melalui urun dana atau securities crowdfunding,” tambah Giri.

UMKM Bersaing di Era Transformasi Digital, Kenapa Tidak?

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini