Peringkat Negara Bebas Korupsi dan Tokoh Antikorupsi yang Dimiliki Indonesia

Peringkat Negara Bebas Korupsi dan Tokoh Antikorupsi yang Dimiliki Indonesia
info gambar utama

Tidak dapat menutup mata, persoalan korupsi hingga saat ini masih menjadi permasalahan besar dan musuh utama bagi semua pihak di Indonesia.

Kerap digambarkan sebagai ‘penyakit kronis’ yang telah menyebar di segala aspek sistem kenegaraan baik itu dari segi ekonomi, politik, sosial, dan yang lainnya. Harus diakui bahwa tindak kejahatan korupsi sejatinya tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga telah menjadi musuh besar yang terjadi di semua negara tanpa terkecuali.

Bukan tanpa alasan, jika pada akhirnya situasi tersebut menghadirkan gerakan dan peringatan Hari Antikorupsi Sedunia yang dicetuskan pertama kali pada tahun 2003, namun pada akhirnya baru diresmikan sebagai salah satu hari peringatan internasional pada tahun 2005.

Sama halnya seperti hari peringatan lain yang dibentuk dengan tujuan tertentu, lahirnya hari yang di Indonesia sendiri lebih dikenal dengan istilah Hakordia ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran semua pihak untuk berpartisipasi memerangi tindak kejahatan korupsi.

Karena seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tindak kejahatan yang terjadi tidak hanya dalam skala besar melainkan juga banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari ini nyatanya telah menjadi persoalan serius di semua negara tanpa terkecuali.

Rakyat : "Fokuslah Memberantas Korupsi, KPK"

Tidak ada negara yang bebas sepenuhnya dari korupsi adalah fakta

Sudah menjadi hal wajar apabila kebanyakan masyarakat Indonesia sejak dulu merasa jengah dengan tindak kejahatan korupsi di tanah air. Tak heran jika suara yang menuntut pemberantasan secara tegas akan tindakan tersebut demi kelangsungan negara yang bermartabat dipandang sebagai suatu keharusan.

Namun perlu diingat, keinginan untuk menghapuskan tindak kejahatan korupsi secara penuh sejatinya adalah hal yang sampai saat ini sulit dilakukan, bahkan bagi negara yang menyandang gelar sebagai negara paling bersih dari korupsi sekalipun.

Menurut data Corruption Perceptions Index (Indeks Persepsi Korupsi) tahun 2020 yang dipublikasi melalui laman transparency.org, dapat dilihat bahwa tidak ada negara yang memenuhi penilaian 100 persen terbebas dari tindak korupsi.

Adapun negara yang berada di peringkat pertama dan dinilai sebagai negara yang paling bersih dari korupsi serta memiliki transparansi tinggi dalam berbagai bidang layaknya bisnis, politik, ekonomi, dan lain sebagainya adalah Selandia Baru dengan skor di angka 88.

Peringkat tersebut kemudian disusul dengan Denmark dan Finlandia yang berada di peringkat dua dan tiga dengan skor masing-masing di angka 88 dan 85.

Lebih detail, berikut peringkat 10 besar negara dengan skor bebas korupsi tertinggi:

  • Selandia Baru (88)
  • Denmark (88)
  • Finlandia (85)
  • Swiss (85)
  • Singapura (85)
  • Swedia (85)
  • Norwegia (84)
  • Belanda (82)
  • Luksemburg (80)
  • Jerman (80)

Tak dimungkiri, bahwa peringkat 10 besar negara terbersih dari tindak korupsi memang hampir dibabat habis oleh negara-negara di kawasan Eropa, kecuali Singapura yang berada di posisi ke-5 dengan catatan skor di angka 85.

Mengutip Kelas Pintar, dijelaskan bahwa negara-negara yang disebutkan di atas bukan berarti bersih sepenuhnya dari tindakan korupsi, masih dapat ditemui beberapa kejadian praktik suap terhadap pejabat publik untuk mendapatkan layanan khusus atau tunjangan, namun jumlahnya dapat dihitung jari.

Lantas bagaimana dengan posisi Indonesia? Kenyataan pahit namun tetap harus diterima, Indonesia masih memiliki ‘rapor’ merah dengan indeks antikorupsi di angka 37 dan berada di urutan ke 102 dari total 179 negara yang tercatat dalam penilaian tersebut.

Tak perlu dipertanyakan lagi, maraknya tindak kejahatan korupsi yang dewasa ini terus dilakukan secara besar-besaran oleh pihak tak bertanggung jawab telah menjadi alasan utama dari minimnya penilaian tersebut.

Namun sama halnya seperti negara terbersih yang ibaratnya masih tetap ditemui tindak korupsi walau sekecil apapun, di Indonesia sendiri walau selama ini sudah lekat dengan citra akan menjamurnya jajaran pejabat yang menjadi pelaku utama atas kejahatan tersebut, nyatanya tetap ada segelintir sosok bertanggung jawab yang dikenal anti bahkan memerangi kejahatan korupsi.

Indonesia Naik Tujuh Peringkat di Indeks Persepsi Korupsi

4 tokoh anti korupsi yang dimiliki Indonesia

Ibarat memberi harapan dan menjadi bukti nyata bahwa mereka yang memegang kekuasaan tertinggi di pemerintahan masih ada yang menjungjung tinggi nilai martabat dan memiliki integritas. Nyatanya Indonesia memiliki sejumlah tokoh yang selama ini dikenal antikorupsi, bahkan dikenal vokal dalam melawan tindak kejahatan tersebut.

Siapa saja tokoh yang dimaksud? Berikut sedikit kilas sosoknya.

Prof. Dr. Emil Salim

Emil Salim
info gambar

Saat ini lebih dikenal sebagai seorang ekonom, sosok Emil Salim memiliki rekam jejak bersih dari tindak korupsi selama tiga kali menjabat sebagai seorang Menteri pada saat pemerintahan di masa lampau.

Kala era kepemimpinan Presiden Soeharto, dirinya pernah menjabat sebagai Menteri Negara Bidang Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara, Menteri Perhubungan, serta Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup.

Meski menjadi pejabat di era kepemimpinan yang saat ini kental akan penilaian negatif, kala itu Emil Salim nyatanya lebih banyak dikenal sebagai sosok yang bersahaja, pria yang saat ini diketahui sudah menginjak usia 91 tahun tersebut diketahui tidak pernah hidup berfoya-foya, dan memilih tinggal di rumah dinas.

Meski memiliki rumah sendiri, namun bangunan tersebut kabarnya ia jadikan kontrakan yang uang sewanya ditabung untuk kehidupan di masa tua.

Novel Baswedan Terima Penghargaan Anti Korupsi Internasional

Mar’ie Muhammad

Marie Muhammad
info gambar

Memiliki rekam jejak yang tak jauh berbeda dengan Emil Salim, Mar’ie Muhammad pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan di era pimpinan Soeharto selama masa jabatan tahun 1993-1998.

Penilaian yang melekat akan jauhnya sosok satu ini dari tindak korupsi juga muncul karena gaya hidup sederhana yang ia terapkan. Menurut salah satu sumber, pria yang wafat di usia 77 tahun pada tahun 2016 tersebut kerap menanamkan pola hidup sederhana ke semua orang yang ia kenal, termasuk keluarganya.

Menganggap bahwa materi yang berlimpah hanya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, sosok panutan bagi Menteri Keuangan Sri Mulyani tersebut bahkan melarang anak-anaknya untuk bepergian memakai mobil baik ke sekolah maupun ke berbagai tempat lain.

Dikenal sebagai pejabat paling ‘lurus’, Mar’ie Muhammad mendapat julukan Mr. Clean terkait kepiawaiannya dalam mengatur taktik keuangan negara terutama dalam hal rancangan anggaran, terutama anggaran dinas.

Satrio Budiharjo Joedono

Satrio Budihardjo Joedono
info gambar

Pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan di era kepemimpinan Soeharto pada tahun 1993-1995, pria yang sudah meninggal dunia di usia 84 tahun ini memang memiliki kegemaran mengoleksi barang-barang antik seperti lukisan dan keramik.

Namun alih-alih membelinya dengan uang hasil gaji atau tunjangannya sebagai pejabat negara, koleksi tersebut justru dibeli secara kredit dan mengaku tidak punya uang untuk membelinya secara tunai.

Saking sederhananya, sosok yang kala itu juga akrab disapa dengan panggilan ‘Billy’ ini hanya memiliki sebuah tas kerja berwarna cokelat yang sudah usang. Bahkan karena tas tersebut dianggap terlalu lusuh, staf di Kementrian kabarnya sampai memberikan sebuah tas baru saat ia hendak pergi ke Istana Negara.

Ir. Sarwono Kusumaatmadja

Ir. Sarwono Kusumaatmadja
info gambar

Pernah tiga kali menjabat sebagai Menteri, pria kelahiran tahun 1943 ini pernah mengisi kursi Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada era kepemimpinan Soeharto.

Lain itu, dirinya juga pernah menjabat sebagai Menteri Eksplorasi Kelautan saat kepemimpinan Gus Dur pada kisaran tahun 1999-2001. Prinsipnya dalam memerangi korupsi pernah terbukti sewaktu ada beberapa pihak yang menyodorinya barang berharga hingga cek berangka besar, namun ditolak dengan tegas.

Meski selama menjabat sebagai menteri dirinya tidak menjamin 100 persen tidak terlibat dalam tindak korupsi yang terjadi di belakangnya, namun ia dikenal selalu mengedepankan prinsip dan pesan hidup dari orang tuanya yang berpesan agar tidak hidup di atas derita pihak tertentu.

Hoegeng Iman Santoso, Polisi Merakyat yang Antikorupsi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini