Asinan, Kudapan Segar Hasil Akulturasi Budaya Betawi dan China

Asinan, Kudapan Segar Hasil Akulturasi Budaya Betawi dan China
info gambar utama

Indonesia, dari Sabang sampai Merauke terkenal dengan kekayaan kuliner yang luar biasa beragam. Ada ribuan jenis masakan tradisional yang lezat dan setiap daerah punya ciri khasnya masing-masing. Baik itu dari cara pengolahan, bahan dasar masakan, bumbu, dan cita rasa yang berbeda.

Tak dapat dimungkiri bila kuliner-kuliner yang ada di Nusantara ini tidak semuanya orisinal dari nenek moyang. Ada pula makanan-makanan yang mendapat pengaruh dari budaya negara lain. Banyaknya para saudagar yang berdatangan ke Indonesia juga menjadi salah satu faktor dalam keragaman kuliner di Tanah Air.

Salah satu negara yang banyak memberi pengaruh pada makanan lokal adalah China. Ada beberapa makanan Indonesia yang mendapatkan pengaruh negeri Tirai Bambu, misalnya bakmi, bakso, dan siomay yang dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa diterima di lidah orang Indonesia.

Mungkin belum banyak yang tahu kalau kudapan asinan juga merupakan hasil akulturasi budaya Betawi dengan China. Berikut penjelasannya:

Teknik memasak primitif

Siapa yang tak tahu asinan? Kudapan ini agak mirip dengan rujak, tetapi memiliki perbedaan dalam pengolahan buahnya. Pada rujak, buah langsung dipotong-potong dan disajikan dalam keadaan segar. Namun, asinan menggunakan buah dan sayuran yang sudah melewati proses pengasinan dengan garam atau pengacaran dengan cuka.

Nama asinan sendiri merujuk pada proses merendam buah dan sayur dalam larutan air dan garam. Salah satu jenis asinan yang terkenal di Tanah Air adalah asinan khas Betawi.

Asinan Betawi terdiri dari taoge, mentimun, kol, daun tikim, tahu, lokio, lobak, selada, sawi asin, kacang tanah goreng, dan kerupuk mi. Untuk bumbunya merupakan campuran dari kacang, cabai, cuka aren, udang kering, garam, dan gula.

Selain asinan Betawi, ada juga varian lain yaitu asinan Bogor. Bedanya, asinan Bogor terdiri dari tiga jenis, yaitu asinan buah, asinan sayur, dan asinan campur. Untuk bumbunya pun lebih cair dan terbuat dari cabai merah, cabai rawit, gula, garam, asam jawa, terasi, cuka, dan air. Jenis-jenis buah yang biasa digunakan dalam asinan antara lain bengkuang, jambu, nanas, salak, mentimun.

Asinan memiliki rasa kombinasi pedas, manis, asam, dan menyegarkan. Paling nikmati menyantap asinan di siang hari dan bisa disimpan di kulkas supaya lebih segar.

Menurut penjelasan Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan UGM, mengolah makanan dengan cara pengasinan merupakan teknik memasak paling primitif. Cara ini telah dipakai sejak garam ditemukan pada masa peradaban kuno.

Pengasinan juga merupkan metode universal dan tidak berasal dari satu bangsa saja dan dilakukan banyak orang di berbagai negara dengan tujuan agar makanan lebih awet serta tidak mudah basi.

Murdijati mengatakan kepada CNNIndonesia.com, bahwa masyarakat Jawa kuni sebelum era kolonial pun sudah melakukan teknik pengasinan. Salah satu contoh paling umum adalah ikan asin yang jadi lebih awet karena tidak setiap hari orang bisa makan ikan segar.

Asinan legendaris

Hingga saat ini, asinan merupakan kudapan yang cukup mudah dicari di Jakarta, Bogor, dan sekitarnya. Asinan banyak dijual di dekat tempat oleh-oleh dan warung-warung yang memang khusus menjual asinan.

Salah satu asinan legendaris di Jakarta adalah Asinan Betawi 78 H. Asymuni yang berjualan di daerah Pisangan Baru, Jakarta Timur. Warung asinan ini sudah berdiri sejak tahun 1978. Di tempat ini, penjualnya sudah biasa kebanjiran pesanan. Bahkan, dalam satu hari saja bisa menghabiskan kacang tanah sekitar dua kuintal dan satu ton gula jawa untuk bumbu asinan.

Kemudian ada juga Asinan Betawi H. Mansyur yang juga dikenal dengan nama Asinan Kamboja di Jalan Kamboja, Rawamangun, Jakarta Timur. Asinan Betawi di sini bumbu kacangnya memiliki tekstur yang halus dan rasa pedas, gurih, dan asamnya seimbang. Untuk pelengkap, asinan di sini diberi tambahan kerupuk mi dan kerupuk merah muda, juga ada sambal terpisah bagi yang suka pedas.

Dari segi penampilannya memang agak berbeda. Untuk asinan buah, kuahnya leboh kemerahan dan aroma pedas-asamnya cukup kuat. Asinan Kamboja telah berjualan sejak tahun 1970-an.

Asinan yang satu ini memang unik dan menarik untuk dicoba. Berbeda dari kedua jenis asinan pada umumnya, Asinan Jagung Bakar Pak Sabur ini punya sesuatu yang berbeda. Seporsi asinan di warung ini terdiri dari jagung manis bakar yang dipipil ditambah dengan irisan mentimun yang disiram kuah asam,pedas, dan manis, tak lupa diberi kerupuk mi. Asinan Pak Sabur ini berjualan di Jalan Suryakencana, Bogor.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini