Menyoal Investasi Berkelanjutan, Nicky Hogan: Masih di Tahap Awal, Tapi Arahnya ke Sana

Menyoal Investasi Berkelanjutan, Nicky Hogan: Masih di Tahap Awal, Tapi Arahnya ke Sana
info gambar utama

"...ada sekitar 20 sampai 30 emiten (perusahaan) yang menerapkan prinsip ESG, mereka yang masuk daftar itu harusnya sudah dapat dikategorikan punya perhatian penuh dan berorientasi terhadap lingkungan."

---

Membahas mengenai persoalan lingkungan, terutama jika bicara mengenai ancaman kerusakan yang selama ini terjadi tentu tidak akan pernah ada habisnya.

Bukan hanya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh tiap orang secara individu, kita tidak bisa menutup mata bahwa selama ini kontribusi kerusakan yang terjadi dan secara ekstrem bahkan menimbulkan kondisi krisis iklim juga disebabkan oleh masifnya aktivitas eksplorasi sumber daya alam berupa bahan bakar fosil, dan pengembangan komoditas pemberi dampak kerusakan serupa seperti halnya perkebunan kelapa sawit.

Namun tetap harus diakui, bahwa kenyataannya kedua hal di atas justru menjadi komoditas yang saat ini dapat dikatakan sebagai salah satu penggerak utama dalam perputaran ekonomi, terutama jika bicara mengenai kaitannya dalam dunia investasi di pasar modal.

Beruntungnya, seiring dengan dorongan akan upaya pemulihan lingkungan, selama beberapa tahun terakhir sejumlah pihak terutama pemangku kepentingan dalam perputaran ekonomi skala besar di Indonesia, mulai menyadari tanggung jawab akan dampak keberlanjutan dari operasional bisnis yang mereka jalani terhadap lingkungan.

Berangkat dari hal tersebut, pada akhirnya di industri pasar modal sendiri mulai muncul gerakan sekaligus prinsip mengenai investasi berbasis ESG.

Kerap disebut sebagai investasi berkelanjutan, secara garis besar investasi berbasis ESG (Environment, Social, corporate Governance) adalah bentuk investasi yang dilakukan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan, selain faktor kinerja keuangan yang tetap menjadi pertimbangan utama.

Sebagai upaya untuk mulai mengembangkan prinsip tersebut, BEI sebagai bursa saham terbesar di Indonesia sendiri sampai saat ini diketahui sudah menghadirkan dua jenis indeks saham dengan prinsip ESG.

Adapun dua indeks saham yang dimaksud adalah IDX ESG Leaders yang per 1 Desember ini diisi oleh sebanyak 30 perusahaan, dan SRI-KEHATI yang diisi oleh sebanyak 25 perusahaan. Masing-masing perusahaan dalam indeks tersebut dinilai memenuhi indikator penilaian dan layak disebut sebagai perusahaan yang telah menerapkan prinsip ESG.

Namun terlepas dari upaya yang telah dilakukan, tak sedikit pihak yang mempertanyakan mengenai bagaimana sebenarnya arah dan pergerakan investasi berbasis ESG di tanah air. Terutama jika melihat situasi industri pasar modal yang dewasa ini telah mencatatkan pertumbuhan besar khususnya dari kalangan anak muda.

Menjawab pertanyaan tersebut, GNFI pada hari Jumat (10/12/2021) telah meminta pandangan dari Nicky Hogan, yang telah bergelut di dunia pasar modal selama 20 tahun.

Sosok yang pernah menjabat sebagai Direktur Pengembangan Bisnis Bursa Efek Indonesia dan saat ini aktif memimpin media khusus pasar modal yakni Emitennews, dalam kesempatan yang sama juga sedikit memberikan pandangan mengenai perkembangan investor retail yang saat ini didominasi kaum muda.

Berikut petikan wawancara GNFI dengan Nicky Hogan:

Indeks Saham Indonesia Tertinggi di ASEAN, Terbaik Kedua di Dunia

Bagaimana tanggapan mengenai peningkatan investor retail yang didominasi kalangan anak muda?

Kalau kita lihat secara data terutama sejak pandemi ini, tambahan jumlah investor usia muda katakan sampai usia 30 atau 35 tahun itu memang mendominasi total keseluruhan investor yang ada di Indonesia, itu kalo secara jumlah.

Bersamaan dengan itu dalam konteks nilai transaksi ternyata investor retail atau individu saat ini transaksinya secara persentase juga lebih banyak daripada transaksi yang dilakukan oleh investor institusi.

Jadi memang konteksnya sekarang pasar lebih banyak digerakkan oleh para investor yang individu, karena jumlahnya yang memang jauh lebih besar.

Berarti investor retail lebih berpotensi dibanding investor dalam bentuk instansi?

Kalau kita bicara potensi memang masih banyak potensi untuk mengembangkan terutama investor individu. Kita juga tahu perkembangan investor retail saat ini justru mencatat kenaikan yang luar biasa, yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah.

Kalau bicara investor total pasar modal secara keseluruhan selain saham termasuk reksa dana bahkan sudah lebih dari tujuh juta. Kalau dibandingkan dengan total penduduk Indonesia saat ini angka itu jelas masih belum ada apa-apanya, jadi pasarnya masih akan sangat luas terutama kalau dilihat dari pertambahan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Meningkatnya jumlah investor belakangan ini sebenarnya karena murni dorongan pemahaman akan dunia pasar modal, atau karena tren?

Saya melihat fenomena campuran dari dua hal itu dan hal lain, artinya ada yang memang secara personal mendapat pemahaman yang betul mengenai pandangan bahwa mereka harus memulai investasi sejak usia dini.

Tapi di saat yang bersamaan tidak menutup juga fenomena banyak yang melakukan hal ini (investasi) karena FOMO (fear of missing out), takut kehilangan momen atau karena ikut-ikutan. Hal itu didorong juga dengan adanya kemudahan saat ini, di mana orang membuka rekening saham atau reksa dana cukup dengan online, tidak perlu ke kantor tidak perlu tanda tangan basah orang bisa melakukan pembukaan rekening dan dengan setoran awal yang sangat rendah, ratusan ribu untuk rekening saham bahkan puluhan ribu kalau untuk reksa dana.

Jadi dengan segala kemudahan tersebut ditambah dengan dua latar belakang tadi baik itu karena kesadaran akan pentingnya memulai investasi dan kalangan yang terkena efek FOMO, dua-duanya secara bersamaan berhasil membuat penambahan jumlah investor di Indonesia menjadi tinggi.

Pentingnya Memahami Literasi Keuangan Demi Hidup yang Lebih Sejahtera

Terkait adanya beberapa kalangan yang mulai melirik investasi ESG, sebenarnya pergerakan dari investasi ESG di Indonesia sendiri seperti apa?

Saya rasa untuk saat ini kita masih di tahap awal, karena itu tadi sebelumnya sebagian dari masyarakat kita baru ada di tahap paham akan pentingnya investasi, kalau bicara investasi green atau yang punya orientasi ESG mungkin itu tahapan berikutnya, karena itu sudah masuk ke tahap yang lebih sophisticated (ahli) di mana orang sudah mulai bicara “saya mau investasi hanya di perusahaan-perusahaan dengan basis ESG yang baik dan lain-lain,”.

Tapi bagaimana pun saya percaya bahwa emiten-emiten kita juga perlahan mengarah ke sana, sedikit banyak secara laporan tahunan pun mereka sudah menyertai beberapa bab tertentu yang memuat mengenai CSR ataupun ESG.

Bahkan beberapa perusahaan yang skalanya sudah multi-internasional atau muti-nasional mereka punya laporan tersendiri mengenai ESG. Awal yang baik tapi juga tahapan yang masih sangat dini untuk investor kita akan mengarah kepada investasi yang lebih rumit atau istilahnya advance bagi beberapa kalangan tertentu.

Sekali lagi, karena masyarakat kita kan masih ada di tahap baru bergerak dari tahap saving society ke investing society, orang baru ada ditahap mulai transisi dari menabung ke investasi, jadi kalau untuk investasi berbasis ESG sebenarnya masih terlalu advance.

Tapi di saat yang bersamaan pemahaman ini jadi hal yang baik kalau mulai didengungkan juga dari sekarang, jadi pada saat mereka (investor baru) memulai mereka sudah melek dengan perusahaan yang orientasinya ke ESG. Karena bukan hanya untuk lingkungan saja sebenarnya, kita tahu kalau bagaimanapun prinsip ESG itu kan untuk menopang kelangsungan dari perusahaan atau emiten itu sendiri.

Perusahaan apa saja sejauh ini yang sudah menerapkan prinsip ESG?

Saya mungkin tidak menyebut secara individual tapi seperti di bursa efek kita ada indeks yang khusus berisi perusahaan-perusahaan di mana orientasinya kepada ESG, yang paling lama bahkan sudah berjalan bertahun-tahun itu ada indeks SRI-KEHATI yang memang berorientasi kepada lingkungan.

Bisa dilihat itu kira-kira ada sekitar 20-30 emiten yang menerapkan prinsip ESG, mereka yang masuk daftar itu harusnya sudah dapat dikategorikan punya perhatian penuh dan berorientasi terhadap lingkungan.

Meski masih terlalu dini, apa kedepannya perusahaan atau emiten yang menerapkan prinsip ESG ini akan mendominasi di pasar modal Indonesia?

Saya percaya arahnya ke sana, rasanya dunia internasional arahnya sudah seperti itu dan beberapa emiten besar bahkan fokusnya juga sudah ke ESG. Jadi bagaimanapun cepat atau lambat pasti dunia ke sana, seperti yang tadi saya sampaikan beberapa bahkan sudah memiliki laporan khusus mengenai ESG secara rutin.

RUPTL Resmi Dirilis, Porsi Pembangkit EBT Diperbesar Demi Dukung Transisi Energi Hijau

Apa benar investasi berbasis ESG akan menggeser posisi emiten yang bergerak di bidang batu-bara, kelapa sawit, dan sejenisnya?

Mungkin beberapa emiten yang bisnisnya sensitif dengan lingkungan seperti batu bara dan sawit butuh usaha lebih keras untuk menunjukkan kalau mereka paling tidak masih sejalan dengan konteks ESG.

Risiko terburuk bahwa mereka tidak akan pernah masuk di parameter atau indeks-indeks yang memuat fokus atau penitikberatan ke aspek perusahaan yang memiliki fokus keberlanjutan terhadap lingkungan.

Tidak mungkin berharap sekian ratus emiten yang terdaftar di bursa memenuhi syarat secara ESG, beberapa terutama yang memang secara bisnis tidak akrab dengan aspek lingkungan risiko terburuknya mereka tidak akan pernah masuk indeks-indeks ESG.

Walau masih sangat terlalu jauh, apa kemungkinan emiten batu-bara dan sawit ini akan hilang?

Mungkin tidak akan hilang, karena kembali lagi bisnis itu tetap akan ada. Tapi mudah-mudahan akan ada perbaikan dari para emiten terkait terhadap aspek lingkungan.

Kalau mengatakan mereka akan hilang mungkin tidak. Yang perlu dipahami sebenarnya ESG itu adalah nilai tambah di dunia bisnis paling tidak untuk saat-saat seperti ini, perusahaan-perusahaan dengan ESG yang baik pasti mendapatkan nilai tambah sebagai citra untuk mereka sendiri.

Sedangkan risiko bagi perusahaan yang memang punya karakter bisnis sangat sensitif terhadap lingkungan apa boleh buat, saya merasa itu bagian dari apa yang harus diterima bahwa mereka memang bergerak di industri bisnis yang sensitif.

Tapi kalau berkata mengenai bisnis mereka akan hilang mungkin tidak, hanya saja akan lebih sulit dan mengalami sedikit kendala dibandingkan dengan bisnis-bisnis lain yang tidak ada sensitivitasnya dengan isu-isu lingkungan.

Apa tantangan untuk mengembangkan prinsip perusahaan dan investasi berbasis ESG?

Isu mengenai ESG itu harus lebih didengungkan dan dikampanyekan, karena kembali lagi sedikit yang saya tahu justru ESG itu seharusnya tidak boleh dilihat sebagai beban baru bagi emiten.

Pemikiran mengenai konsep ESG itu harus diedukasikan kepada perusahaan, orang selama ini melihatnya ESG itu hanya dalam bentuk CSR, hanya keluar uang untuk ini dan itu, tapi sebenarnya konteksnya justru untuk kelangsungan bagi perusahaan itu sendiri selain bagi lingkungan.

Itu hal yang harus terus didengungkan supaya pada akhirnya semakin banyak emiten yang fokus dan berorientasi kepada lingkungan, sehingga dapat memberikan pengaruh yang baik untuk semuanya, baik bagi perusahaan, investor, lingkungan, dan masyarakat.

Apa yang harus dipertimbangkan bagi para investor baru dalam berinvestasi sekaligus menyikapi prinsip investasi ESG?

Konsep pertama untuk para investor baru jelas pemahaman mengenai investasi itu sendiri jadi yang terpenting. Risiko, reward-nya seperti apa, bentuk instrumen dan lain-lain itu yang paling utama untuk sisi investor.

Kalau bicara ESG saya merasa itu lebih ke kepentingan dari pada emiten ataupun listed company, semakin mereka fokus dengan ESG akan semakin baik untuk memberikan nilai tambah bagi mereka untuk ‘jualan’ kepada para investor.

Kalau saya jadi investor saya akan fokus dengan investasi dan segala reward yang akan saya dapat, tapi kalau ada perusahaan yang juga fokus terhadap orientasi ESG, itu akan jadi nilai tambah bagi perusahaan terkait untuk menjadi sasaran investasi saya.

Upaya KEHATI Mendorong Iklim Investasi Hijau di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini