Di Balik Dongeng Si Kancil, Sebuah Perwakilan Kepribadian Orang Jawa

Di Balik Dongeng Si Kancil, Sebuah Perwakilan Kepribadian Orang Jawa
info gambar utama

Cerita rakyat merupakan warisan budaya yang memiliki kekayaan pengetahuan, nilai-nilai, media hiburan dan beragam proyeksi terpendam antargenerasi. Sebagian masyarakat menjaga kelestarian dari tradisi ini dengan melalui budaya tutur dari generasi ke generasi.

Salah satu cerita rakyat yang cukup populer dalam tradisi lisan di Indonesia adalah Si Kancil. Bahkan tipe cerita seperti ini, dalam beberapa literatur yang disebut sebagai The Trickster juga populer di budaya lain.

Beragam nama maupun representasinya seperti Pilandok (Filipina), Pelanduk (Malaysia, Brunai, Singapura), Xiang Miang (Thailand), Anansi The Spider (Afrika/Karibia), Monkey King (China), Golden Lion Tamarin Monkey (Brazil), Brer Rabbit (Amerika Utara), The Fox (Eropa Barat) dan sebagainya.

Selain berbeda nama, setiap negara juga memiliki penggambaran lain mengenai sosok Si Kancil, seperti di Indonesia yang menggambarkan hewan ini sebagai sosok rusa kecil dengan warna cokelat kemerahan dan memiliki kuku yang kecil.

Tak Lekang Oleh Waktu, Inilah Dongeng Populer di Indonesia (Bagian I)

Karena tubuhnya yang kecil biasanya hewan ini sangat lincah, tidak heran di dalam dongeng Si Kancil ini bisa mengelabui lawannya. Memang Si Kancil juga selalu digambarkan sebagai hewan dengan segudang akal tetapi kerap dikonotasikan sebagai sikap licik.

Sedangkan di Suriname misalnya, Kancil malah digambarkan sebagai sosok kelinci. Karena penduduk setempat waktu itu menganggap kelinci yang paling mendekati karakter dari Kancil.

Pada setiap cerita, Kancil selalu digambarkan sebagai hewan yang selalu berinteraksi dengan binatang lain selama berpetualang. Karena memang cerita dongeng, jadi tidak heran para binatang di sini bisa saling berinteraksi.

Hal ini bisa dikorelasikan dengan zaman Nabi Sulaiman di mana semua hewan bisa saling berkomunikasi satu sama lain dan memiliki perasaan. Seperti dalam buku bertema The Story of Kantjil yang ditulis oleh Saleman Siswowitono yang bercerita:

Dahulu, ketika bumi masih bersih, suci, serta tidak ada perang, kebohongan ataupun penipuan. Saat itu, hewan-hewan hutan dan di air masih bisa berbicara seperti manusia.

Bertolak dari karakter Kancil yang dianggap sebagai jenis hewan yang cerdik dan licik, serta anggapan bahwa yang kuat dan besar belum tentu menang dari yang kecil dan lemah.

Dapat dikatakan bahwa Kancil merupakan tokoh binatang yang mewakili tipe manusia, yaitu lemah tetapi dapat mengatasi kekurangannya dengan kecerdasan yang dimilikinya. Hal inilah yang menjadikan cerita Kancil begitu banyak diproduksi lalu disebarkan sebagai budaya tutur.

Cerita Si Kancil dalam rekaman sejarah

Dongeng Si Kancil sudah ada sejak lama dan sangat populer di Indonesia. Kisah ini dituturkan dari satu generasi ke generasi lain dengan versinya sendiri, sehingga tidak ada cerita yang sama.

Karena itulah belum diketahui hingga kini awal mula cerita binatang cerdik ini muncul, para sejarawan pun belum mengetahuinya. Walau ada yang berpendapat cerita ini berasal dari India yang dikenal sebagai Jataka.

Merujuk dari Historia, Selasa (14/12/2021) cerita Kancil ini lalu tersebar di Indonesia bersama dengan penyebaran agama ke Nusantara. Hal ini sesuai dengan tulisan R.B. Dixon dalam The Mythology of All Races: Oceanic yang menyebut kisah Si Kancil terdapat di daerah yang yang mendapat pengaruh kuat Hinduisme.

Para peneliti banyak menemukan gambar Kancil di relief candi Hindu-Buddha di daerah Jawa, salah satunya di Candi Borobudur. Kisah seekor kancil ini terpahat pada relief Jataka yang terletak di sisi timur tingkat I pagar langkan rangkaian atas bidang h nomor 23, 24 dan 25.

Serat Kancil Amongsastra (SKAS) menjadi versi cerita Kancil yang tertua, ditulis pada 1822 oleh Kiai Rangga Amongsastra, penulis Kadipaten selama pemerintahan Pakubuwono V di Surakarta. Lalu pada 1878, atas usaha usaha Dr W. Palmer van den Broek, serat tersebut dicetak.

Menjelajahi Negeri Dongeng di Wisata Jogja The Lost World Castle

Buku induk lain dari dongeng Si Kancil diterbitkan pada 1871 oleh G.C.T. van Dorp di Semarang, tetapi penulis dari serat ini tidak diketahui karena itu lebih dikenal dengan nama Serat Kancil van Dorp (SKNVD)

Ada juga buku Serat Kancil Saloka Darma (SKSD) karya R.A. Sasraningrat, putra Pakualam Yogyakarta yang terbit pada tahun 1891. Ada yang menyebut cerita Si Kancil dalam buku ini sudah kehilangan ciri pada umumnya.

Hal ini menurut Abing Ganefara dalam skripsinya tentang Serat Kancil Saloka Darma di jurusan Sastra Jawa Universitas Indonesia tahun 1990, terjadi karena kuatnya mistik yang muncul pada zaman itu.

Hal ini membuat peran binatang tidak ubahnya sifat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ada peran bercakap-cakap, mengajar, memberi nasihat, atau adu argumentasi sambil sesekali diselipi ajaran-ajaran mistik.

Persamaan cerita SKAS dan SKNVD, terletak pada bagian awal cerita SKAS dengan bagian tengah cerita SKNVD, antara lain: pada episode Kancil mencuri mentimun; Kancil mengalahkan raksasa; dan Kancil masuk sumur kemudian menipu Gajah.

Perbedaan cerita ada pada bagian awal cerita di mana pada SKNVD terdapat cerita mengenai kelahiran Kancil dari seorang manusia (Dewi Sungkawa) hingga perjalanan Kancil ke Mesir dan kemudian meninggal.

Cerita Si Kancil sebagai perwakilan kepribadian orang Jawa

Pada karya sastra Jawa, secara umum binatang digambarkan berbentuk siklus, yaitu dari kelahiran hingga kematian. Demikian pula naskah Si Kancil yang berbentuk siklus, dari kelahiran hingga proses kedewasaan Kancil.

Tipe cerita seperti juga menggambarkan pola pikir masyarakat Jawa dalam memahami hidup yaitu ada awaldan ada akhir dikenal dengan istilah sangkan paraning manungsa.

Masyarakat Jawa sebagai rangka pengasuhan anaknya juga mempergunakan dongeng kancil untuk menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalam cerita itu ke dalam benak anaknya. Populernya cerita Kancil membuat banyak peneliti yang ingin meneliti lebih dalam.

Salah satu peneliti asing yang membuat penelitian tentang cerita kancil adalah Philip Frick McKeane (1971) berjudul The Mouse-deer (Kantjil) in Malay-Indonesian Folklore: Alternative Anlyses and the Significance of a Trickster Figure in South-East Asia. Di sini dirinya menyimpulkan tokoh Kancil merupakan perwakilan dari kepribadian folk Jawa.

Kancil digambarkan sebagai lambang kecerdikan yang tenang yang disebut sebagai cool intelligence dalam menghadapi kesukaran. Juga selalu dapat dengan cepat memecahkan masalah yang rumit tanpa banyak ribut-ribut tanpa banyak emosi.

Penyelesaian masalah tanpa ribut-ribut dan tanpa banyak emosi merupakan salah satu bagian dari prinsip kerukunan. Cerita Si Kancil intinya mengajarkan nilai moral berdasarkan dua kaidah dasar tersebut yaitu prinsip rukun dan hormat.

Kelinci Belang Sumatra, Spesies Paling Langka di Dunia Diselamatkan dari Perdagangan Gelap

Setyowati dalam skripsi berjudul Analisis Nilai Moral Serat Kancil Salokadarma di jurusan Sastra Jawa Universitas Indonesia tahun 2006. Menurutnya cerita Si Kancil secara umum juga terdapat tiga nilai yang selalu muncul dalam budaya Jawa yaitu gotong royong, musyawarah, dan pengendalian diri.

Nilai gotong royong mewakili masyarakat desa terutama di wilayah Jawa, dalam kehidupan sehari-hari. Pada SKSD nilai ini terdapat pada cerita Kerbau dan Harimau, yaitu saat Kerbau meminta bantuan Kenthus untuk menghadapi Harimau.

"Hal ini seakan mencerminkan masyarakat Jawa kala itu, yang sulit sekali untuk bergotong royong menghadapi kolonial," ucap setyowati.

Musyawarah juga sebagai suatu nilai tradisional merupakan salah satu nilai yang dianggap membanggakan, karena sifatnya kekeluargaan dan tidak dimiliki oleh orangbarat.

Misalnya pada SKSD, terdapat beberapa bagian cerita yang menunjukkan pentingnya musyawarah. Pada episode terakhir (pupuh 44-45) diceritakan, Kancil sebagai raja Gebang Tinatar mengadakan pertemuan dengan para punggawanya (disebut juga penghulu).

Pengendalian diri berkaitan dengan emosi. Sikap orang Jawa yang cenderung menghindari konfik, dimanfaatkan oleh pihak kolonial dalam menguasai pulau Jawa.

Sikap nrima tersebut serupa dengan sifat Gajah, yang menerima saja saat ditipu Kancil, Gajah tidak membalas perlakuan Kancil apalagi merasa dendam.

"Serupa dengan sifat raja-raja Jawa seperti Hamengkubuwono III dan Pakubuwono VII yang tidak dapat melakukan apapun saat pemerintah kolonial berkuasa," bebernya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini