Indonesia Peringkat 2 Negara dengan Konsumsi Berita Berbayar Terbanyak di Asia Pasifik

Indonesia Peringkat 2 Negara dengan Konsumsi Berita Berbayar Terbanyak di Asia Pasifik
info gambar utama

Memasuki era digitalisasi mengartikan adanya transisi seluruh aktivitas, yang mana sudah dapat dilakukan melalui daring dan gadget. Digitalisasi juga erat hubungannya dengan segala sesuatu yang lebih praktis dan sederhana. Peralihan tersebut semakin kentara semenjak pandemi Covid-19 yang memaksa segala aktivitas harus dilakukan di rumah saja.

Disamping itu, media online juga menjadi salah satu wujud dari lahirnya digitalisasi yang sampai saat ini telah menjadi opsi publik untuk menerima informasi. Bahkan menurut survei Nielsen Indonesia yang dilansir dari katadata.co.id, jumlah pembaca media digital di Indonesia sudah lebih banyak dibandingkan media cetak.

Hal tersebut terlihat dari penurunan jumlah pembeli koran kurun waktu 2014-2017, di mana masyarakat beranggapan bahwa informasi seharusnya bisa didapat secara gratis.

Survei Nielsen Consumer & Media View hingga Kuartal III (Q3) 2017 menunjukkan bahwa, pembaca Indonesia telah mengalami perubahan kebiasaan yang dilihat dari tingkat pembelian koran secara personal hanya sebesar 20 persen. Persentase menurun dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 28 persen.

Direktur Eksekutif Nielsen Media Indonesia, Hellen Katherina menuturkan bahwa anggapan mengenai media harus gratis akhirnya mengerek tingkat penetrasi media digital hingga 11 persen dengan total jumlah pembaca 6 juta orang pada tahun 2017.

Jumlah tersebut jauh lebih banyak dibandingkan pembaca media cetak yaitu sebanyak 4,5 juta orang. Padahal, jumlah pembaca media cetak di tahun 2013 bisa mencapai 9,5 juta orang.

Kendati demikian, stigma bahwa media harus gratis nyatanya tidak selalu berbanding lurus dengan realita. Pasalnya, media online terkhususnya di portal-portal berita juga menyediakan fitur langganan untuk pembacanya yang bersedia menyisihkan uang guna menerima informasi yang dikategorikan sebagai berita berbayar.

Berkaitan dengan persoalan tersebut, belum lama ini Reuters Institute melakukan survei terhadap masyarakat di Asia Pasifik terkait konten berita berbayar dengan memerhatikan indikator pembayaran untuk konten berita daring termasuk berlangganan, donasi, atau pembayaran satu kali.

Hasil survei menunjukkan sebanyak 18 persen responden mengaku pernah membayar untuk berita daring dalam setahun terakhir, yang mana angka tersebut meningkat 6 poin dari tahun 2016 yang sebesar 12 persen.

Sejarah Hari Ini (3 Maret 1984) - BOLA, Pengabar Berita Olahraga Terkemuka di Indonesia

Konsumen berita berbayar terbanyak di Asia Pasifik

Konsumen berita berbayar terbanyak di Asia Pasiifk | GoodStats
info gambar

Hasil survei Reuters Institute menempatkan Hong Kong sebagai negara dengan persentase masyarakat yang membayar berita daring terbesar di antara negara lainnya di kawasan Asia Pasifik (23 persen).

Peringkat kedua diisi Indonesia dengan persentase 19 persen, yang mana banyak responden mengakui pernah membayar untuk konten berita daring premium. Sebagai informasi, berita premium berbayar merupakan salah satu opsi bagi pembaca untuk memperoleh berita yang berkualitas dan komprehensif.

Diketahui media besar di Indonesia banyak yang menggunakan solusi tersebut seperti Kompas yang memiliki situs Kompas.id sebagai portal berita premium berbayar dengan menyajikan koran Kompas digital dan artikel berlabel premium. Media Tempo juga sama demikian dengan situs koran.tempo.co. Lalu Jawa Pos dengan digital.jawapos.com dan Kumparan dengan Kumparan+.

Penyediaan fitur berita berbayar atau menurut istilah biasa dikenal dengan Paywall. Paywall ini menjadi salah satu sumber pendapatan bagi perusahaan-perusahan media di tengah tingginya biaya untuk beroperasi.

Selain itu, dengan adanya Paywall, perusahaan-perusahaan media memungkinkan untuk makin berlomba-lomba dalam menyajikan tulisan yang berkualitas, informatif, dan tentunya mampu mengedukasi masyarakat atau pembaca.

Berita Hoaks dan Tayangan Masa Kini

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dinda Aulia Ramadhanty lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dinda Aulia Ramadhanty.

DR
IA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini