Bicara Tren dan Bisnis Kaus Band, Dedi Soewondo: Kedepannya Akan Terus Berkembang

Bicara Tren dan Bisnis Kaus Band, Dedi Soewondo: Kedepannya Akan Terus Berkembang
info gambar utama

“Kebutuhan dan rasa suka penggemar terhadap suatu idola atau band itu yang membuat bidang ini akan terus hidup, karena mereka pasti selalu ingin punya atau pakai sesuatu yang berhubungan sama apa yang mereka suka.”

---

“Lebih dari sekadar merchandise

Kurang lebih itu ungkapan sederhana yang tepat untuk menggambarkan adanya fenomena perburuan dan bisnis kaus band di kalangan penggemar aliran dan kelompok musik tertentu.

Kaus band, yang bagi orang awam mungkin terdengar sederhana dan dinilai sebagai barang biasa yang sering disebut sebagai ‘merchandise’, tapi nyatanya bagi mereka yang punya minat besar di bidang musik justru dianggap sebagai barang yang memiliki nilai historis dan cukup ‘berharga’.

Saking dianggap penting dan dijadikan sebagai identitas, pada level yang lebih dalam bahkan ada ‘pakem’ di kalangan penggemar yang menyebut kalau seseorang dilarang memakai kaus band kecuali tahu minimal beberapa lagu tertentu dari idola yang bersangkutan.

Anggapan itu nyata, berdasarkan survei yang dilakukan oleh salah satu situs merchandise band yaitu Rush Order Tees, terungkap kalau ternyata rata-rata penggemar musik menilai seseorang harus tahu setidaknya 10 lagu dari sebuah band atau musisi sebelum memakai kausnya.

Lebih detail, penggemar musik beraliran folk, kpop, dan jazz punya standar lebih tinggi, dengan anggapan bahwa setidaknya seseorang harus lebih dulu tahu minimal 13 lagunya. Sementara itu penggemar musik aliran heavy metal ternyata lebih ‘garang’ lagi, menurut mereka, seseorang harus tahu minimal 17 lagu terlebih dulu.

Fenomena tersebut yang nyatanya membuat keberadaan kaus band jadi hal yang lumrah untuk diburu bahkan dapat dikatakan sebagai barang berharga di kalangan pencinta musik, termasuk di Indonesia sendiri.

Karenanya, tak heran kalau belakangan bidang satu ini semakin banyak digandrungi bahkan bagi beberapa pihak jadi kesempatan bisnis yang menggoda. Lebih jauh lagi, jenis dan keberadaan kaus band itu sendiri ternyata lebih kompleks dan punya berbagai jenis yang berbeda, mulai dari kaus vintage, istilah first print, fenomena bootleg, dan lain-lain.

Menarik untuk dibahas, pada hari Rabu (15/12/2021), GNFI mendapat kesempatan untuk berbincang bersama Dedi Soewondo, sosok yang bukan hanya punya hobi di bidang musik tapi diketahui pernah menjadi seorang road manager untuk band rock Boomerang.

Di samping itu, Dedi ternyata juga jadi salah satu orang yang menggeluti bisnis kaus band lewat keberadaan Sodha Studios. Berikut rangkuman pembicaraan Dedi bersama dengan GNFI.

God Bless, Kisah Setengah Abad Inspirasi Band Rock Indonesia

Bagaimana awal mula memulai Sodha Studios?

Sodha Studios sendiri sebenarnya lebih ke perpaduan antara hobi dan bisnis, karena menurut saya lebih enak aja berbisnis dari hobi. Jadi misal kalaupun ada sesuatu yang gak diinginkan terjadi seenggaknya tidak terlalu rugi dan kecewa.

Berawal dari hobi koleksi beberapa item kaus band karena memang senang sama dunia musik, terlebih kalau bicara soal kaus band itu kan dipandang sebagai sesuatu yang harus dipunya ketika senang sama band tertentu.

Kalau ditanya mulai kapan, ya dari pandemi ini. Jadi bisa dibilang bencana itu terkadang ada hikmahnya juga, di mana kita didorong untuk tetap survive di tengah situasi yang bisa dibilang terpuruk secara ekonomi, apalagi di dunia musik atau hiburan gak jalan kemarin sedangkan mencari kerja juga gak mungkin, akhirnya saya coba gimana caranya supaya di masa pandemi ini selagi gak bisa kemana-mana tapi tetap harus ada pemasukan.

Meskipun standar sebenarnya, tapi dicoba dan akhirnya berjalan Sodha Studios.

Apa saja jenis kaus band yang familiar di kalangan penggemar atau kolektor kaus band?

Pertama itu ada istilah first print dan re-print, istilah kita cetakan atau rilisan pertama dan cetakan kedua. Misal ada satu band ngeluarin album yang rilis di tahun 1991 kita bicara misalnya, otomatis kaus itu juga rilis di tahun yang sama saat album itu keluar.

Selanjutnya walau dari segi desain atau edisi album sama tapi cetakannya ternyata diproduksi tahun 1995 atau 1997 itu udah masuk kategori re-print. Tapi yang kedua itu tetap disebut vintage, artinya barang lama dan tahun cetakannya gak jauh.

Untuk kategori vintage sendiri di bidang ini biasanya kita sepakat kalau yang dikategorikan vintage itu yang usianya sudah 20 tahun.

Bicara soal kaus band vintage, apa benar jadi barang yang bisa dijual dengan harga fantastis?

Itu dia, bisnis di bidang ini kalau kita bicara soal nominal sebenarnya abu-abu dalam arti kata agak sulit buat menyamaratakannya. Sebenarnya di bidang apapun yang berhubungan dengan koleksi barang vintage pasti ada persoalan harga abu-abu ini, bukan cuma kaus band saja.

Jadi harga itu bisa mahal bisa murah, gak ada harga pastinya. Kalau bicara soal harga kaus band vintage yang bisa tinggi sampai jutaan itu sebenarnya soal kapan kita ketemu sama orang yang tepat, dalam arti kata dia bisa menghargai satu barang itu karena tahu nilai historisnya, orang yang tepat dan menghargai value-nya.

Dan untuk barang-barang seperti itu pun kadang memang punya pasar atau peminatnya sendiri, intinya sih sama seperti kolektor atau orang-orang pada umumnya yang punya minat tinggi terhadap suatu hal tertentu, yang bisa punya barang berharga fantastis sesuai dengan hobi atau minat mereka itu pasti orang-orang yang memang punya pendapatan tinggi.

Burgerkill Dinobatkan Sebagai Band Metal Terbaik Sepanjang Masa

Ada juga istilah kaus bootleg yang dipandang negatif sebagai pembajakan, gambaran yang sebenarnya itu seperti apa?

Ada banyak pandangan karena semua orang itu boleh perpendapat termasuk saya, bootleg ini kan sebenarnya sesuatu yang tidak resmi tapi diperbolehkan, jadi jatuhnya lebih ke fans made (buatan penggemar) yang misal dia bikin beberapa untuk kalangan penggemar lainnya.

Memang kaus tersebut gak berlisensi, tapi dari dulu itu sudah ada dan sampai sekarang seiring zaman yang berkembang ternyata kaus-kaus bootleg zaman dulu diburu sama kolektor dan termasuk langka juga, karena produksinya gak massal paling banyak itu cuma 20 sampai 50 piece, kadang juga gak sampai (50).

Kalau soal kenapa bisa ada kaus bootleg yang memang gak berlisensi resmi dari band, karena itu pada dasarnya lebih ke buatan penggemar yang punya imajinasi dan kreativitas lebih terhadap band yang mereka suka, jadi mereka mau buat kaus dengan desain yang bebas dan tidak ada pakemnya.

Di musik pun kenyataannya ada istilah bootleg, jadi ada beberapa band bahkan yang suka announce atas beberapa audio karya mereka untuk dikreasikan atau lebih dikembangkan lagi sama penggemar, termasuk merchandise seperti kaus juga.

Bahkan di luar, ada beberapa band yang akhirnya meng-official-kan beberapa karya bootleg ini, entah karena desain atau artwork-nya bagus, akhirnya mereka menghubungi si pembuat kaus atau karya yang dikategorikan bootleg itu untuk diambil sama mereka dan dijadikan merchandise official dari band yang bersangkutan, itu ada.

Beda sama bajakan, kalau bajakan itu kan sebenarnya 11-12 ya istilahnya, saat band yang bersangkutan bikin kaus ada orang yang bikin juga sama persis, itu yang gak diterima. Kalau bootleg lebih dikembangkan lagi yang akhirnya jadi karya juga.

Kaus yang ada di Sodha Studios biasanya dari mana saja?

Dari dalam negeri Indonesia kita ada, barang dari luar negeri juga ada karena kita memang punya teman-teman di sana dan biasanya titip untuk dibawa ke sini.

Peminat di bidang kaus band sendiri bagaimana, baik dari penggemar atau penjualnya?

Kalau di Amerika atau beberapa negara lain bidang satu ini sebenarnya udah jadi culture, selebritis Hollywood pun udah pakai kaus-kaus ini dan mereka tahu kalau itu bekas. Tapi ya balik lagi karena namanya barang langka mereka mau punya karakter sendiri dan gak mau disamakan dengan orang lain.

Di Indonesia sendiri juga banyak peminatnya, lagi hype dan orang-orang memang lagi senang pakai kaus-kaus jenis itu. Bahkan sekarang kalau bicara ke pasar yang lebih luas, band-band dunia ini kan punya penggemar atau fanbase yang luas, apalagi kalau kita bicara soal band-band legenda semisal Metallica atau Iron Maiden di mana mereka punya fanbase di seluruh dunia, jadi pasti peminatnya selalu ada.

Vokalis Band Indie Internasional Ini Berdarah Manado

Di Sodha Studio pola peminatnya seperti apa?

Kalau buat sekarang kaus-kaus yang banyak digandrungi itu dari band yang mewakili semangat dan style mereka. Misal anak-anak muda itu lagi suka aliran-aliran grunge yang menggambarkan hidup dan musik yang mereka rasa cocok jadi back-song perjalanan hidup.

Apalagi sekarang orang itu kebanyakan mau menciptakan tren fesyen mereka sendiri, jadi mereka cari kaus-kaus dengan desain karakter dari band yang cocok sama diri mereka sehingga bisa menghadirkan tren fesyen versi masing-masing.

Salah satu yang banyak digandrungi misal, orang-orang kenapa sekarang banyak yang suka Nirvana karena band itu selain bagus di musik ternyata juga bisa ciptain tren fesyen sendiri, sampai ada fashion style khas Kurt Cobain, itu yang anak-anak muda sekarang pengen ikut akuin.

Menelusuri Kejayaan Band Rock Legendaris Indonesia

Sodha Studio saat ini dijalankan sendiri? Bagaimana dengan media penjualannya?

Kalau penjualan offline lebih ke pertemuan sambil kita nongkrong bareng ngobrol bahas bidang ini, sharing tentang history barang yang dipunya sampai beberapa akhirnya ada yang minat dan beli. Tapi lebih banyaknya memang online lewat Instagram.

Sodha Studio yang menjalankan ya saya sendiri semuanya, pokoknya multitasking aja, saya yang packing, saya yang ngirim, foto buat katalog, bikin video. Tapi kalau desain untuk flyer atau yang lain biasanya itu ada teman yang suka kolaborasi juga, misal mereka punya artwork yang bagus kita sertakan untuk satu bundlingpackaging-nya dengan tetap menyertakan lisensi karya mereka.

Tantangan yang biasanya dihadapi di bisnis atau kolektor kaus band ini seperti apa?

Pada dasarnya kesulitan itu dialami kalau ada barang atau kaus tertentu sudah sampai di tangan kolektor yang gak mau lagi mengeluarkan barang tersebut untuk dijual. Ada salah satunya permintaan dari penggemar band-band indie itu yang kita susah banget cari dan penuhi.

Karena kaus-kaus itu biasanya sudah jatuh di tangan kolektor yang mereka udah gak akan mau lagi buat keluarin. Kalau kita bicara kolektor, mereka istilahnya sudah punya uang yang banyak dan aman untuk biaya hidup. Jadi kaus-kaus yang bagi sebagian penggemar justru diputar atau dijual lagi, bagi kolektor itu justru emang tujuan akhirnya untuk disimpan saja.

Kalau semisal kita ada uang dan bahkan menawar untuk bayar berapapun harganya ya kadang mereka gak mau, jatuhnya mereka bukan lagi investasi barang vintage untuk nilainya yang ditahan sampai berapa lama tapi lebih ke investasi untuk kepuasan pribadi, itu permasalahan dan tantangannya kalau kita bicara soal bisnis yang berhubungan dengan hobi.

Tapi di sisi lain kembali lagi, kadang ada kolektor yang dia gak mau ketika koleksinya ditawar dengan harga tinggi sampai puluhan bahkan ratusan juta, tapi tiba-tiba koleksi itu dikasih secara cuma-cuma ke orang tertentu yang tiba-tiba ketemu, biasanya dia melihat kalau orang tersebut punya loyalitas yang tinggi sebagai sesama penggemar band tertentu, atau karena faktor lainnya.

Jadi itu dia alasan kenapa kalau bicara soal bisnis di hobi kaus band ini sebenarnya abu-abu, dan kita gak bisa bicara soal nominal pasti karena harganya pun gak bisa dipatok.

Bisnis yang menyertakan hobi khususnya jenis kaus band ini kedepannya kira-kira akan seperti apa?

Kedepannya pasti akan ada dan terus berkembang, karena ya kembali lagi kaus band itu kan sebenarnya berhubungan dengan musik itu sendiri, yang kalau kita bicara soal dunia hiburan otomatis musik gak akan pernah ada habisnya.

Kebutuhan dan rasa suka penggemar terhadap suatu idola atau band itu yang membuat bidang ini akan terus hidup, karena mereka pasti selalu ingin punya atau pakai sesuatu yang berhubungan sama apa yang mereka suka.

Khususnya untuk barang-barang vintage di tahun yang akan datang juga pasti akan terus berkembang, terlepas itu bootleg ataupun baru, menurut saya gak akan pernah selesai dan akan terus beregenerasi.

Mari Nostalgia, Inilah Band Legendaris Indonesia yang Tak Lekang Waktu

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini