Kasus Pertama Covid-19 Varian Omicron Ditemukan di Indonesia, Seperti Apa Gejalanya?

Kasus Pertama Covid-19 Varian Omicron Ditemukan di Indonesia, Seperti Apa Gejalanya?
info gambar utama

Pandemi Covid-19 masih belum usia hampir dua tahun belakangan ini. Wabah virus ini telah mengakibatkan jutaan orang meninggal dunia. Sebagai upaya pencegahan, berbagai upaya telah dilakukan seperti pembatasan perjalanan, karantina, penutupan fasilitas umum, hingga vaksinasi. Namun, virus ini masih belum hilang dan bermutasi menjadi varian baru.

Sebelumnya kita mengenal varian-varian virus corona yang disebut Alpha, Beta, Delta, Gamma, hingga Kappa. Kini, ada varian baru lagi yang tengah jadi sorotan dunia kesehatan yaitu omicron.

Omicron atau B.1.1.529 pertama kali ditemukan di Afrika Selatan pada bulan November 2021 lalu. Tanggal 26 November, WHO, berdasarkan anjuran dari Technical Advisory Group on Virus Evolution (TAG-VE/Grup Penasihat Teknis tentang Evolusi Virus) WHO, langsung menetapkan omicron sebagai variant of concern atau varian yang menjadi perhatian karena memiliki tingkat penularan tinggi, virulensi tinggi, serta menurunkan efektivitas diagnosis, terapi, dan vaksin yang ada.

Pada Kamis, (16/12/2021), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan kasus Covid-19 varian Omicron pertama di Indonesia. Pasien pertama omicron di Indonesia tersebut kini sudah berada di Wisma Atlet, Jakarta.

Seperti dijelaskan Budi, pihak Kemenkes mendeteksi pasien berinisial N terkonfirmasi omicron pada 15 Desember 2021. Data-datanya sudah dikonfirmasi dan sudah data sequencing omicron.

Mengutip CNN Indonesia, pada tanggal 8 Desember, Wisma Atlet mengirim sampel rutin ke Kemenkes. Dikatakan Budi bahwa pihaknya menerima sampel dua hari kemudian dan ditemukan ada tiga petugas kebersihan positif Covid-19 dari hasil PCR.

Data tersebut dikirim ke Balitbangkes untuk dilakukan Whole Genome Sequences (WGS). Hasilnya pada 11 Desember dan dinyatakan ada satu orang positif omicron.

Perlu diwaspadai, seperti apa gejala varian omicron? Berikut penjelasannya:

Upaya Pemerintah RI Antisipasi Paparan Covid-19 Varian Omicron di Tanah Air

Gejala varian omicron yang perlu diwaspadai

Dijelaskan BBC.com, varian omicron memiliki banyak mutasi berbeda yang belum pernah terlihat sebelumnya. Sebagian besar berada pada protein lonjakan virus, yang merupakan target sebagian besar vaksin, dan itulah yang menjadi perhatian utama.

Dalam tes PCR standar, omicron memiliki "S-gene dropout" yang tidak ditemukan dalam banyak kasus varian delta dan ini bisa memberikan petunjuk bahwa itu bisa menjadi varian baru. Namun, perlu diketahui juga bahwa tidak semua "S-gene dropout" sudah pasti omicron sehingga diperlukan Full Genome Sequences untuk memastikannya.

Ada beberapa gejala khas varian omicron, salah satunya adalah sakit kepala dari tingkat sedang hinga berat. Kepala terasa berdenyut, tertekan, dan terasa seperti ditusuk, serta bisa berlangsung sampai lebih dari tiga hari dan cenderung tidak hilang meski sudah mengonsumsi obat pereda nyeri.

Gejala lainnya adalah kemungkinan mengalami pilek, bersin, dan sakit tenggorokan, serta tenggorokan gatal. Pada pasien yang mengalami sakit tenggorokan, biasanya lebih ringan dan berlangsung tak lebih dari lima hari.

Adapun gejala lain seperti batuk terus-menerus sampai lima hari, baik itu batuk kering dan batuk berdahak. Kemudian pasien mungkin merasa kelelahan ekstrem dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain itu, pasien mungkin mengalami berkeringat di malam hari dalam jumlah banyak yang menyebabkan pakaian hingga tempat tidur basah meski udara di ruangan cukup sejuk.

Semua gejala tersebut bukanlah sesuatu yang pasti merujuk pada varian omicron sehingga dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan.

Menkes juga mengatakan pasien yang terpapar omicron disebut tidak memiliki gejala Covid-19 sama sekali. "Orang ini tanpa gejala dan mereka masih sehat, tidak ada batuk, tidak ada demam," jelas Menkes, seperti dikutip Detikcom.

Lebih lanjut Menkes menyebutkan varian omicron kemungkinan besar memiliki kecepatan dalam penularan dan bisa menurunkan kemampuan antibodi dari infeksi alami dan vaksinasi. Studi terhadap varian ini pun masih terus berjalan.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah soal seberapa mudah varian baru ini menyebar. Mengutip laman CDC, varian omicron kemungkinan akan menyebar lebih mudah daripada virus SARS-CoV-2 asli. Namun, seberapa mudah omicron menyebar dibandingkan dengan delta masih belum diketahui.

Menyoal apakah varian ini dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah, CDC mengatakan masih butuh lebih banyak data untuk mengetahui apakah infeksi omicron, terutama infeksi ulang dan infeksi terobosan pada orang yang divaksinasi lengkap, menyebabkan penyakit atau kematian yang lebih parah daripada infeksi varian lain.

Saat ini vaksin diharapkan dapat melindungi terhadap penyakit parah, rawat inap, dan kematian akibat infeksi varian omicron. Para ilmuwan sedang bekerja untuk menentukan seberapa baik perawatan yang ada untuk COVID-19 ini dapat bekerja. Berdasarkan susunan genetik omicron yang berubah, beberapa perawatan cenderung tetap efektif sementara yang lain mungkin kurang efektif.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini