Oei Tiong Ham, Taipan International Asal Semarang yang Berpengaruh pada Masanya

Oei Tiong Ham, Taipan International Asal Semarang yang Berpengaruh pada Masanya
info gambar utama

Oei Tiong Ham adalah seorang pengusaha yang meraih kesuksesan besar dalam usaha dagang seperempat abad lamanya, mulai dari 1900 sampai 1924, ketika dia meninggal.

Namanya terkenal di kalangan dagang di empat benua di dunia, Amerika, Asia, Australia, dan Eropa. Selain di Indonesia, dia terkenal di benua-benua itu sebagai Raja Gula.

Merujuk tulisan Liem Tjwan Ling dengan judul Oei Tiong Ham: Raja Gula dari Semarang, ketika puncak kejayaannya Oei Tiong Ham dijuluki sebagai Tuan 200 juta gulden. Dari jumlah itu separuhnya adalah berupa chas (tunai) terhitung uang yang tersimpan dalam bank.

Belajar dari Yap Thiam Hien, Singa Pengadilan yang Mengaum Membela Kemanusiaan

Pada awal abad 20, Oei Tiong Ham juga sempat dijuluki Rockefeller dari Asia yang menyamakan dirinya dengan John D Rockefeller konglomerat minyak bumi pemiliki Standart Oil and Company New York (SOCONY) dari AS.

Sementara itu surat-surat kabar Belanda di tanah Jawa pada waktu itu, antara lain De Locomotief di Semarang, Java Bode dan Nieuws van di Bag di Batavia, serta Soerabaiasch Handelsblad menyebut Oei Tiong Ham sebagai orang terkaya di antara Shanghai dan Melbourne.

Dulunya dia mempunyai istana di Semarang dengan luas 81 hektare. Kompleks istana tersebut membentang sepanjang Jalan Pahlawan hingga Pandanaran dan Randusari.

Akan tetapi, sekarang, istana konglomerat di Semarang ini hanya menyisakan sebuah bangunan yang disebut Balekambang atau dikenal sebagai gedung gula.

Titik awal bisnis seorang Raja Gula

Oei Tiong Ham lahir di Semarang pada tanggal 19 November 1866. Dia merupakan putra dari seorang pengusaha totok yang berasal dari Fujian, China, yang bernama Oei Tjie Sien.

Setelah dewasa, Oei Tiong Ham mulai terjun ke dunia bisnis dengan mendirikan Oei Tiong Ham Concern (OTHC) yang nantinya menjadi perusahaan terbesar di Hindia Belanda. Di sini dirinya memulai bisnis pertamanya dengan hasil bumi seperti kopi, karet, kapuk, gambir, tapioka, serta opium.

Kunci keberhasilan kerajaan bisnis Oei Tiong Ham dimulai setelah pembelian pabrik-pabrik gula di Jawa pada akhir abad ke-19. Bermula pada tahun 1894 dengan membeli Pabrik Gula Pakis, lalu Pabrik Gula Rejoagung, Tanggulangin, Ponen, Krebet.

Menukil dari Kompas, total luas lahan dari lima pabrik itu mencapai lima pabrik gula tersebut mencapai 7.082 hektare. Tidak aneh, bila akhirnya Oei Tiong Ham dijuluki sebagai Raja Gula. Apalagi saat itu hasil produksi gula perusahaannya memang begitu melimpah:

Bukti Cinta di Balik Kemegahan Mausoleum OG Khouw Petamburan
  • Pabrik Gula Rejoagung: 35.000 Ton
  • Pabrik Gula Krebet: 21.000 Ton
  • Pabrik Gula Tanggulangin: 20.500 Ton
  • Pabrik Gula Pakies: 13.000 Ton
  • Pabrik Gula Ponen: 12.000 Ton

Pada sekitar tahun 1920-1923 perdagangan gula di tanah Jawa sangatlah maju, akibat dari Perang Dunia pertama yang berlangsung pada tahun 1914-1918.

Guna memenuhi kebutuhan rehabilitasi masyarakat yang sudah menderita, Benua Eropa sangat perlu untuk mengimpor banyak barang untuk kebutuhan sehari-hari, salah satunya adalah gula dari dunia timur.

Oei Tiong Ham menempatkan posisi-posisi penting di perusahaannya kepada para tenaga profesional dari luar lingkar keluarga, sesuatu yang berbeda dibandingkan kebiasaan para taipan Tionghoa.

Dirinya bahkan memperkerjakan orang-orang Belanda untuk mengisi posisi direktur, manajer, hingga tim engineer. Suatu hal yang luar biasa di era kolonial apalagi waktu itu orang Tionghoa dikategorikan sebagai "warga kelas dua".

Taipan International yang berpengaruh pada masanya

Sebagai seorang Raja Gula, Oei Tiong Ham tinggal di sebuah istana yang megah. Bangunannya sangat luas sampai pemiliknya bisa tersesat di rumah sendiri.

Selain itu di bagian belakang rumah itu terdapat kolam renang serta kebun binatang milik pribadi. Oei Tiong Ham mempekerjakan 40 asisten rumah tangga, 50 tukang kebun, serta dua koki untuk mengurus rumahnya.

Sampai akhir abad ke-19, orang Tionghoa tidak diperbolehkan memakai pakaian bergaya Eropa, yaitu jas dan celana, bila menggunakan akan diberikan hukuman.

Sekitar bulan November 1889, Oei Tiong Ham mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal untuk diperkenankan memakai pakaian Eropa. Begitulah Oei Tiong Ham menjadi orang Tionghoa pertama yang boleh memakai pakaian Eropa.

Memang saat itu diskriminasi masih sangat kuat, bahkan kepada orang sekelas Oei Tiong Ham. Misalnya kisah ketika dirinya datang ke Batavia dan ingin menginap di Hotel des Indies yang mewah.

Karena diskriminasi, Oei Tiong Ham ditolak, tidak diperbolehkan untuk menyewa kamar di Hotel Belanda itu, karena bukan orang kulit putih. Dirinya yang merasa terhina dengan sengaja menggunakan kekuatannya untuk melakukan pembalasan.

Via kantor makelar dia mengumpulkan saham-saham Hotel des Indies sampai dia mendapat mayoritas pemegang saham. Setelah itu dia melakukan rapat khusus pemegang saham.

Cerita Malioboro yang Awalnya Dikuasai Pedagang Tionghoa

Salah satu tujuannya adalah membicarakan persoalan mengenai karyawan hotel yang telah menolak dirinya sebagai tamu. Setelah itu, mereka yang terlibat dalam persoalan itu langsung diberhentikan dari pekerjaan.

"Setelah merasa puas melakukan pembersihan personalia Hotel des Indies, Mr. Oei yang berpendirian pragmatis menganggap saham-saham sudah tidak berguna lagi dan dijual kembali," beber Liem.

Oei Tiong Ham kemudian memutuskan untuk pindah ke Singapura pada tahun 1920, karena kondisi Indonesia khususnya Kota Semarang kurang kondusif. Selain itu keputusan ini diambil karena tidak tahan dengan beban pajak yang dikenakan Pemerintah Belanda.

Saat pindah ke Singapura, dia berhasil menguasai seperempat bagian luas wilayah di sana. Kekayaanya berupa kepemilikan tanah dan rumah.

Maka tidak heran di Kota Singa, masih ada satu jalanan yang memakai nama Oei Tiong Ham Park. Tetapi empat tahun setelah kepindahannya ke Singapura, dia meninggal akibat sakit jantung.

Pasca meninggalnya Oei Tiong Ham, kendali atas Oei Tiong Ham Concern dipegang oleh salah seorang putranya, Oei Tjong Hauw. Namun baru sebentar memegang perusahaan ayahnya, Oei Tjong Hauw meninggal mendadak akibat serangan jantung.

Meninggalnya Oei Tjong Hauw ini merupakan awal dari proses kemunduran Oei Tiong Ham Concern sebagai sebuah institusi bisnis, sampai akhirnya Oei Tiong Ham Concern tamat riwayatnya pada tahun 1964, tatkala seluruh asetnya disita oleh Pemerintah Indonesia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini