Potensi Besar Kekayaan Laut Natuna

Potensi Besar Kekayaan Laut Natuna
info gambar utama

Kabupaten Natuna memiliki luas wilayah daratan dan lautan mencapai 264.198,37 kilometer persegi (km2). Luas lautan mendominasi wilayah Natuna sebesar 262.197,07 km2, sementara luas daratan sebesar 2.001,30 km2. Berkat wilayah laut yang luas, Natuna menyimpan banyak potensi yang menjadi daya tarik untuk diperebutkan oleh negara lain. Hal ini kemudian menimbulkan konflik antara Indonesia dengan negara lain.

Konflik yang terjadi di wilayah Laut Natuna hingga saat ini tak pernah padam. Bukan merupakan hal yang baru lagi apabila Laut Natuna menjadi sengketa bagi China dan juga incaran negara tetangga lainnya. Puncak konflik antara Indonesia dengan China atas Natuna terjadi pada tahun 2016 dan kemudian terulang kembali pada tahun 2020.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Badan Keamanan Laut (Bakamla) Kolonel Wisnu Pramandita dilansir dari VOI mengaku bahwa benar adanya terdapat banyak kapal asing yang melintas di kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Laut Natuna. Selain China, kapal dari Vietnam juga mendominasi perairan Natuna.

Lebih lanjut, Wisnu menuturkan bahwa masuknya kapal asing disebabkan oleh faktor geografis Laut Natuna yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan. Walaupun kapal asing ramai melintasi wilayah Laut Natuna, Kepala Bakamla Laksamana Madya Aan Kurnia menegaskan bahwa situasi Laut Natuna Utara aman terkendali sehingga para nelayan tidak perlu khawatir dan dapat menjalankan aktivitas seperti biasa.

Laut Natuna, Salah Satu Bukti Kekuatan Militer RI Yang Semakin Membara

Menyimpan kekayaan alam yang melimpah

Laut Natuna menyimpan berbagai jenis sumber daya alam yang jumlahnya sangat berlimpah. Tidak heran apabila wilayah ini menimbulkan daya tarik tinggi serta menjadi perebutan bagi China dan juga negara lainnya. Salah satu yang terlihat yakni potensi sumber daya perikanan.

Potensi ikan di Laut Natuna mencapai 504.212,85 ton tiap tahunnya berdasarkan data studi identifikasi potensi sumber daya kelautan dan perikanan Provinsi Kepulauan Riau tahun 2011. Jumlah ini hampir menjangkau 50 persen potensi Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP RI) 711 dari total jumlah potensi 1.143.341 ton per tahun.

Dalam Putusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 47 Tahun 2016 secara resmi tercatat Laut Natuna memiliki berbagai jenis sumber daya ikan. Beberapa di antaranya ialah ikan pelagis kecil, ikan demersal, ikan karang, udang penaeid, lobster, kepiting, rajungan, hingga cumi-cumi.

Mengutip dari laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), jumlah potensi ikan terbesar di WPP RI 711 yang mencakup Selat Karimata, Laut Natuna, dan Laut China Selatan pada tahun 2017 ialah jenis ikan pelagis kecil.

Ikan pelagis kecil menyumbang jumlah potensi sebesar 330.284 ton, kemudian disusul oleh jenis ikan pelagis besar dengan jumlah potensi 185.855 ton, ikan demersal sebesar 131.070 ton, udang penaeid sebesar 62.342 ton, cumi-cumi sebesar 23.499 ton, ikan karang sebesar 20.625 ton, rajungan sebesar 9.711 ton, kepiting sebesar 2.318 ton, serta lobster sebesar 1.421 ton.

Tidak hanya kaya akan sumber daya perikanan, Laut Natuna juga menyimpan sumber daya minyak dan gas dalam jumlah besar. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Blok East Natuna menyimpan kandungan volume gas di tempat atau Initial Gas in Place (IGIP) sebanyak 222 triliun kaki kubik (tcf) dan cadangan terbukti sebanyak 46 tcf. Selain itu, potensi kandungan minyak yang dimiliki Natuna mencapai 36 juta barel minyak.

Kawasan Laut Natuna di sisi lain merupakan jalur perdagangan yang strategis. Jalur ini menjadi rute utama bagi sepertiga pelayaran di dunia. Perairan Natuna juga dianggap penting karena merupakan perbatasan dengan Malaysia dan Thailand di sebelah Barat. Vietnam dan China di sebelah utara, serta Filipina di sebelah timur. Menurut pantauan sistem Monitoring Skylight, jumlah kapal yang lalu lalang di perairan Natuna mencapai 1.000 unit per hari.

Harta benda bersejarah berupa peninggalan keramik utuh juga diketahui berada di dasar Laut Natuna. Harta benda tersebut tak lain merupakan peninggalan dari masa Dinasti Song pada 960 sampai 1279 masehi dan masa Dinasti Qing pada abad ke 17. Sebagian besar keramik merupakan barang niaga dari luar Nusantara maupun barang impor pada masa silam.

Kekah, Monyet Endemik yang Jadi Ikon Kepulauan Natuna

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Diva Angelia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Diva Angelia.

DA
IA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini